Periskop.id - Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengatakan, pihaknya menargetkan pembangunan 200 jembatan di lokasi bencana Sumatra hingga Februari 2026.

"Mudah-mudahan di tahun ini atau bulan Februari awal (target pembangunan jembatan) 150 - 200 berbagai jenis itu saya yakin bisa," kata Maruli saat ditemui di Dermaga Satuan Angkutan Air (Satangair) TNI AD di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (6/1). 

Dia mengatakan, ratusan jembatan itu dibangun untuk menyambung jalur darat yang terputus akibat bencana banjir dan tanah longsor pada November 2025. Maruli menyebutkan, 200 jembatan itu terdiri dari berbagai jenis yakni jembatan aramco, jembatan bailey dan jembatan gantung.

Tercatat sejauh ini TNI AD telah membangun 42 jembatan bailey, 51 jembatan aramco, dan 38 jembatan gantung. TNI AD juga membantu proses pembangunan 37 jembatan beton yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Maruli mengatakan, hingga saat ini proses pembangunan jembatan masih berlangsung. Walau pihaknya banyak menemukan kendala seperti ketersediaan bahan jembatan yang menipis dan medan yang sulit, Maruli memastikan proses pembangunan jembatan akan terus berlangsung demi mempercepat pemulihan wilayah pascabencana.

Sumur Air
Selain jembatan, Maruli juga menjelaskan tentang pembangunan sumur untuk korban bencana di wilayah Sumatera dengan biaya Rp150 juta yang sempat jadi perhatian masyarakat. Menurut Maruli, sumur yang akan dibangun untuk korban bencana memiliki kedalaman tertentu, tidak seperti sumur di sebuah rumah pada umumnya.

Kedalaman sumur tersebut harus menyentuh titik mata air, agar air yang keluar dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan beberapa rumah. Kedalaman tanah yang dimaksud yakni sekitar 100 sampai 200 meter

"Kalau kita tidak menemukan mata airnya, air itu pasti akan habis," kata Maruli.

Untuk itu, lanjut Maruli, butuh dana lebih besar untuk membangun sumur yang dapat menyalurkan air ke beberapa rumah di seluruh pedesaan.

"Rumah saya di Bandung mungkin enggak sampai Rp10 juta jadi tuh (sumur) air, hanya untuk kepentingan satu keluarga. Ini barang kepentingannya kan satu desa kadang-kadang," jelasnya. 

Sebelumnya, berdasarkan siaran langsung rapat terbatas yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto di Aceh Tamiang pada Kamis (1/1), terjadi pembahasan soal pengeboran sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Di forum itu, Maruli dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menjelaskan kepada Presiden, biaya pengeboran sumur dengan kedalaman 100-200 meter mencapai Rp100-150 juta.

Dalam forum tersebut Prabowo menilai biaya tersebut termasuk terjangkau mengingat sumur yang dibangun sedalam 100 sampai 200 meter dan airnya sudah bisa dipakai korban bencana. Selain itu, biaya tersebut sudah termasuk alat-alat pendukung lain seperti instalasi dan tangki air.

Sebelumnya, Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, menjaga konektivitas menjadi prioritas utama pemerintah dalam situasi darurat bencana. Hal ini penting, mengingat peran strategis jalan dan jembatan sebagai penggerak utama aktivitas masyarakat dan distribusi logistik.

"Konektivitas adalah urat nadi kehidupan masyarakat. Dalam kondisi bencana, yang terpenting adalah memastikan akses tetap terbuka agar mobilitas warga, bantuan kemanusiaan, dan distribusi logistik tidak terhenti," kata Dody dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (31/12).