periskop.id - Hampir 28 juta keluarga Indonesia masih hidup di bawah atap seng dan asbes, material yang panas, bising, serta berisiko bagi kesehatan di iklim tropis. Fakta inilah yang menjadi alarm bagi negara untuk bertindak. Presiden Prabowo Subianto pun resmi meluncurkan Program Gentengisasi Nasional sebagai tulang punggung Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah). Targetnya tidak main-main, Indonesia bebas atap seng dalam tiga tahun. Program ini menegaskan bahwa pembangunan rumah bukan hanya soal fisik bangunan, tetapi juga tentang kualitas hidup dan masa depan keluarga Indonesia.
Jutaan Rumah Masih Bergantung pada Atap Seng
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 menunjukkan kondisi hunian di Indonesia sebenarnya sudah lumayan baik, tapi masih menyisakan pekerjaan rumah yang tidak kecil. Saat ini, genteng memang jadi primadona. Sebanyak 57,93% atau sekitar 40,9 juta rumah tangga sudah menggunakannya. Namun, di balik angka positif itu, ada fakta yang cukup mengejutkan, sebesar 31,48% rumah tangga Indonesia masih memakai atap seng.
Kalau diterjemahkan ke angka riil, itu berarti sekitar 22,2 juta rumah tangga hidup di bawah atap seng. Angka ini belum termasuk pengguna asbes yang mencapai 7,85% atau sekitar 5,5 juta rumah. Jika digabung, hampir 28 juta keluarga di Indonesia tinggal di bawah material atap yang secara termal kurang ramah untuk iklim tropis, panas di siang hari, dingin dan bising saat hujan. Angka 31,48% ini menjadi sinyal tantangan kesejahteraan. Oleh karena itu, dalam tiga tahun ke depan, pemerintah menargetkan konversi puluhan juta atap seng menjadi genteng.
Alasan pemilihan genteng berangkat dari pertimbangan kualitas hidup. Di balik harga seng yang relatif murah dan pemasangannya yang praktis, tersimpan konsekuensi yang kerap luput diperhitungkan, terutama terkait kesehatan dan kenyamanan penghuni. Panas berlebih, kebisingan saat hujan, hingga penurunan kualitas hidup menjadi dampak nyata yang harus ditanggung jutaan keluarga setiap hari.
Risiko Kesehatan di Balik Atap Seng
Temuan data tersebut membuka diskusi penting tentang dampak penggunaan atap seng pada kualitas hunian. Di negara tropis seperti Indonesia, paparan sinar matahari berlangsung hampir sepanjang tahun. Seng sebagai material logam memiliki daya hantar panas yang tinggi sehingga panas matahari cepat diserap dan diteruskan ke ruang di bawahnya. Akibatnya, rumah mudah terasa panas, menyerupai efek oven.
Suhu ruangan yang terlalu tinggi bukan sekadar soal rasa gerah, tetapi juga berkaitan langsung dengan kesehatan. Secara medis, paparan panas berlebih dapat memicu stres panas (heat stress), dehidrasi, hingga gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti balita dan lansia. Kualitas tidur pun ikut terdampak. Saat hujan turun, atap seng kerap menimbulkan suara yang sangat keras. Alih-alih menenangkan, bunyi hujan justru berubah menjadi kebisingan yang mengganggu. Jika kondisi ini terjadi berulang, polusi suara tersebut dapat memicu peningkatan stres.
Masalah lain muncul dari penggunaan asbes yang masih mencapai 7,85%. Ketika material ini menua atau rusak, serat-serat mikroskopisnya dapat terlepas ke udara dan terhirup oleh penghuni rumah. Menurut World Health Organization (WHO), semua bentuk asbes bersifat karsinogenik dan paparan seratnya dapat menyebabkan penyakit serius, seperti kanker paru-paru hingga mesothelioma. Dampaknya sering baru terasa setelah bertahun-tahun karena sifatnya yang laten. Namun, WHO menegaskan risiko ini dapat dicegah dengan menghentikan penggunaan asbes dan beralih ke material yang lebih aman.
Oleh karena itu, aspek kesehatan menjadi perhatian utama dalam Gerakan Indonesia ASRI. Mengganti atap seng dan asbes dengan genteng bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga langkah pencegahan kesehatan yang jauh lebih murah dibandingkan menanggung dampak jangka panjang penyakit akibat paparan asbes.
Alasan Genteng Jadi Fokus Program Nasional
Setelah memahami berbagai risikonya, kini terlihat jelas mengapa genteng menjadi andalan dalam program ini. Genteng, terutama yang berbahan tanah liat atau keramik, merupakan isolator alami yang efektif. Dengan kemampuan menyerap dan melepaskan panas secara perlahan, genteng membantu menahan terik matahari agar tidak langsung masuk ke dalam rumah. Hasilnya, suhu ruangan terasa lebih sejuk meski cuaca di luar sedang panas menyengat. Inilah esensi dari prinsip sehat dalam visi presiden.
Dari sisi aman, genteng memiliki bobot dan struktur yang lebih stabil sehingga lebih tahan menghadapi angin kencang dibandingkan atap seng yang ringan dan mudah terlepas saat badai. Sementara pada aspek resik dan indah, genteng menghadirkan tampilan hunian yang lebih rapi, kokoh, dan sedap dipandang. Bayangkan lingkungan yang sebelumnya dipenuhi atap seng berkarat, kini berubah menjadi deretan atap genteng yang seragam dan tertata.
Program Gentengisasi Nasional pun bukan sekadar mengganti atap, melainkan upaya membangun ekosistem hunian yang lebih manusiawi. Rumah yang lebih sejuk dan tenang membuka ruang bagi kehidupan yang lebih produktif. Transformasi hunian yang lebih ASRI bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah nyata menuju kualitas hidup yang lebih baik.
Tinggalkan Komentar
Komentar