Periskop.id – Pemantuan hilal di sejumlah daerah menyatakan, bulan masih berada di bawah ufuk. Dengan kata lain Ramadan belum tiba.
Tim Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, menyatakan posisi bulan (hilal) seluruh Indonesia berada di bawah ufuk atau di bawah kaki langit dan tidak bisa dilakukan observasi. Sehingga hitungan bulan Sya'ban digenapkan 30 hari atau istiqmal.
Pengamatan bulan untuk menentukan awal puasa Ramadhan 1447 Hijriah ini berlangsung di Pelabuhan Kalbut, Desa Semiring, Kecamatan Mangaran, Kabupaten Situbondo, pada Selasa.
"Jadi, ketika hilal tidak terlihat (karena posisinya di bawah ufuk), maka penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah menggenapkan bulan Sya'ban menjadi 30 hari," ujar Ketua Badan Hisab dan Rukyat Kabupaten Situbondo Irpan Hilmi kepada wartawan di lokasi.
Menurut Irpan Hilmi, penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah pada Sidang Isbat yang akan dilaksanakan pada Selasa malam, diperkirakan awal puasa akan diputuskan pada tanggal 19 Februari 2026. "Kalau secara perkiraan kami, ketika posisi hilal di bawah ufuk, maka awal puasa Ramadan itu pada Kamis (19/2) lusa. Namun kita menunggu hasil Sidang Isbat," katanya.
Sementara itu, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengajak seluruh masyarakat menyambut bulan puasa Ramadan yang penuh berkah ini dengan bahagia, dan saling menghormati meskipun dari ada perbedaan dari organisasi lain.
"Saya sebagai bagian dari pemerintah, jadi saya akan berpuasa Ramadhan sesuai apa yang menjadi keputusan pemerintah pusat," kata Bupati Rio, sapaannya.
Tak Teramati Jelas
Senada, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan posisi hilal saat ini masih berada di bawah ufuk dengan ketinggian minus 1,268 derajat yang terpantau melalui Pusat Observasi Bulan di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). "Tinggi hilal minus 1,268 derajat dan elongasi 1,208 derajat," kata Kepala Stasiun Geofisika Mataram Sumawan dalam laporan di Mataram, Selasa.
Sumawan mengatakan, dengan posisi Bulan masih di bawah garis horizon dan elongasi yang sangat kecil tersebut, maka hilal secara astronomis tidak bisa teramati secara jelas.
Menurutnya, secara umum hilal berpotensi terlihat jelas jika berada di atas ufuk dengan ketinggian positif dan memiliki elongasi minimal sekitar 6 hingga 7 derajat.
Selain melakukan pemantauan hilal di Lombok Utara, BMKG NTB juga menyiapkan titik rukyatul hilal di Pantai Loang Baloq, Kota Mataram. Kegiatan pengamatan hilal tersebut dijadwalkan berlangsung pada pukul 17.00 WITA pada Rabu (18/2). Sumawan menerangkan, tinggi hilal saat pemantauan besok (18/2) sore telah mencapai 8,287 derajat dengan elongasi 11,588 derajat.
Observatorium Bosscha
Sementara itu, Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan kegiatan pengamatan hilal, sebagai bagian dari penelitian astronomi dan penyediaan data pendukung penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah/2026.
Peneliti Observatorium Bosscha ITB Yatny Yulianti mengatakan observatorium tersebut setiap tahun menjadi salah satu rujukan bagi Kementerian Agama (Kemenag) RI dan masyarakat dalam penentuan awal Ramadhan.
“Kegiatan pengamatan bulan sabit oleh Observatorium Bosscha ditujukan untuk meneliti ambang visibilitas (kenampakan) bulan sebagai fungsi dari elongasi terhadap ketebalan sabit bulan, juga dalam rangka rukyatul hilal,” kata Yatny di Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa.
Berdasarkan data astronomis, kata dia, hilal tidak mungkin diamati pada 17 Februari 2026 yang bertepatan dengan 29 Syaban 1447 Hijriah, karena posisi bulan sudah terbenam lebih dahulu, dibandingkan saat waktu matahari terbenam.
Ia mengatakan, hilal merupakan bulan sabit muda yang dapat diamati setelah matahari terbenam dan setelah terjadinya konjungsi atau ijtimak.
“Karena posisi bulan berada di bawah ufuk saat Matahari terbenam, maka secara astronomis tidak tersedia peluang pengamatan hilal pada tanggal tersebut,” katanya.
Data peta ketinggian bulan di wilayah Indonesia juga menunjukkan nilai negatif, yakni berkisar antara minus 1,5 derajat hingga minus 3,0 derajat. Hal ini menandakan bulan berada di bawah ufuk saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia.
“Mengacu pada kondisi tersebut, Observatorium Bosscha tidak melaksanakan pengamatan hilal pada 17 Februari 2026,” kata Yatny Yulianti.
Meski demikian kegiatan pengamatan tetap dilakukan pada 18 Februari 2026 untuk kepentingan penelitian dan dokumentasi ilmiah terkait pengamatan bulan muda. Yatny menambahkan hasil perhitungan dan pengamatan yang dilakukan observatorium akan disampaikan kepada pihak berwenang apabila diperlukan sebagai bahan pertimbangan.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya Kementerian Agama (Kemenag) menggelar sidang isbat penetapan awal bulan Hijriah di Jakarta pada Selasa (17/2). Hasil sidang isbat tersebut menjadi dasar resmi pemerintah pusat dalam menetapkan awal puasa Ramadhan untuk masyarakat Indonesia.
Kementerian Agama bersama BMKG melakukan pemantauan hilal secara serentak pada 133 titik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan rincian 96 titik dipantau oleh Kementerian Agama dan 37 titik dilakukan oleh BMKG.
Tinggalkan Komentar
Komentar