iklan periskop
Nasional

Sidang Isbat 2026: Hilal Syawal Dipantau di 117 Lokasi Indonesia

Kemenag memantau hilal Idulfitri 1447 H di 117 titik Indonesia. Penetapan awal Syawal menunggu hasil rukyat yang dibahas dalam sidang isbat bersama berbagai lembaga.

4 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Sidang Isbat 2026: Hilal Syawal Dipantau di 117 Lokasi Indonesia
Menteri Agama Nasaruddin Umar (ketiga kanan), Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i (kedua kanan), Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang (kedua kiri), Ketua Majelis Ulama Indonesia Anwar Iskandar (kiri) dan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Abu Rokhmad (kanan) menyampaikan hasil sidang isbat satu Ramadhan di Jakarta, Selasa (17/2/2026). Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. ANTARA FOTO/Fauzan
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Kementerian Agama (Kemenag) kembali menggelar pemantauan hilal atau rukyatul hilal untuk menentukan 1 Syawal 1447 Hijriah, yang bertepatan dengan Idulfitri 2026. Pemantauan dilakukan serentak di 117 titik seluruh Indonesia pada Kamis, 19 Maret 2026, sebelum hasilnya dibahas dalam sidang isbat.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa sidang isbat bukan sekadar forum administratif, melainkan wadah penting yang mengedepankan kehati-hatian, keilmuan, dan kebersamaan umat. 

“Seperti biasa, sidang isbat diawali dengan seminar pemaparan posisi hilal oleh Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama. Setelah itu dilanjutkan dengan sidang tertutup untuk membahas hasil rukyatul hilal yang masuk dari berbagai daerah, sebelum akhirnya diumumkan kepada masyarakat,” ujarnya dikutip dari Antara, Senin (16/3).

Sidang isbat akan dihadiri perwakilan lintas lembaga, mulai dari duta besar negara sahabat, Komisi VIII DPR RI, Mahkamah Agung, Majelis Ulama Indonesia (MUI), BMKG, Badan Informasi Geospasial (BIG), hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Turut serta pula pakar falak dari organisasi Islam, Planetarium, Bosscha ITB, serta Tim Hisab Rukyat Kemenag.

Secara astronomis, perhitungan hisab menunjukkan bahwa pada 29 Ramadhan 1447 H (19 Maret 2026), ketinggian hilal di Indonesia berada di atas ufuk dengan rentang 0°54’27’’ hingga 3°7’52’’. Sudut elongasi hilal tercatat antara 4°32’40’’ hingga 6°6’11’’. Ijtimak menjelang Syawal terjadi pada pukul 08.23 WIB. Meski secara teori hilal sudah mungkin terlihat, penetapan resmi tetap menunggu laporan rukyat dari lapangan. 

“Penetapan awal Syawal 1447 H akan menunggu laporan hasil rukyatul hilal dari seluruh daerah yang kemudian dibahas dalam sidang isbat,” tambah Abu Rokhmad.

Tradisi rukyatul hilal di Indonesia telah berlangsung sejak lama sebagai bentuk kompromi antara metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (observasi langsung). 

Hal ini mencerminkan semangat kebersamaan umat Islam di Indonesia, yang berusaha menjaga keseragaman dalam merayakan Idulfitri. Data astronomi modern dari lembaga seperti BMKG dan Bosscha ITB kini semakin memperkuat akurasi penentuan, namun aspek rukyat tetap dijaga sebagai bagian dari syariat dan tradisi.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Hilal, Sidang Isbat, idulfitri 2026, dan Lebaran 2026 dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.