periskop.id - Setiap menjelang Ramadan, satu istilah yang hampir selalu muncul adalah hilal. Bulan sabit muda ini menjadi sorotan karena kemunculannya menandai dimulainya ibadah puasa bagi umat Islam.
Meski terlihat sederhana, proses penentuan hilal melibatkan pengamatan yang teliti, perhitungan ilmiah, serta dasar ajaran agama. Lalu, apa sebenarnya hilal itu dan mengapa keberadaannya begitu penting dalam menentukan awal Ramadan?
Apa Itu Hilal?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hilal adalah bulan sabit atau bulan yang pertama kali terlihat pada awal bulan Kamariah. Secara asal kata, hilal berasal dari bahasa Arab hilāl yang berarti ‘bulan sabit’.
Kata ini juga berkaitan dengan halla yang bermakna ‘turun dengan deras (seperti hujan)’ atau mulai tampak. Dari sini, hilal dipahami sebagai bulan baru yang mulai terlihat di langit, menandai dimulainya bulan dalam kalender Islam.
Menurut Cecep Nurwendaya, anggota Badan Hisab Rukyat Kemenag RI sekaligus Planetarium Jakarta, fase bulan yang bisa diamati dari Bumi ada lima. Penjelasannya kurang lebih seperti ini:
- Bulan baru: Terjadi saat ijtimak, yaitu ketika bulan sama sekali tidak terlihat sepanjang malam.
- Bulan sabit (hilal): Mulai tampak sebagai sabit tipis dalam sekitar 12 jam pertama setelah ijtimak.
- Bulan separuh (kuartil pertama): Fase ketika bentuk bulan terlihat setengah.
- Bulan besar: Muncul setelah bulan menghadap ke arah barat dan bisa diamati sekitar waktu Magrib.
- Bulan tua: Berupa sabit sangat tipis yang muncul menjelang akhir bulan.
Sekilas, hilal dan bulan tua memang terlihat mirip, sama-sama berbentuk sabit. Namun, keduanya punya perbedaan posisi. Hilal biasanya tampak berdiri tegak, dengan sedikit miring ke atas atau ke bawah dan bentuknya sangat tipis. Dari posisi inilah muncul istilah “hilal agak tengkurap” dan “hilal agak terlentang”.
Kriteria Hilal
Penjelasan tentang hilal Ramadan nggak cuma soal bentuknya yang terlihat seperti bulan sabit tipis. Soalnya, tidak semua bulan sabit tipis bisa disebut hilal. Supaya benar-benar masuk kategori hilal, bulan sabit tersebut harus terlihat saat Matahari terbenam.
Dari proses pengamatan inilah kemudian dilakukan pengukuran, terutama terkait ketinggian hilal dan derajat kemunculannya. Jadi, bulan sabit tipis yang muncul di pagi atau siang hari bukan hilal, melainkan disebut bulan tua, yaitu fase bulan sebelum masuk ke bulan baru.
Secara umum, bulan sabit tipis bisa disebut hilal jika muncul saat Matahari terbenam dengan ketinggian lebih dari 3° di atas cakrawala. Batas 3° ini disepakati karena cahaya bulan yang masih terlalu rendah belum cukup kuat untuk mengalahkan cahaya senja (syafaq). Akibatnya, hilal di bawah ketinggian tersebut sulit terlihat dengan jelas.
Waktu Pengamatan Hilal
Waktu untuk melihat hilal memang sangat terbatas. Biasanya, hilal yang diamati para astronom berusia kurang dari 12 jam dan posisinya masih rendah, yakni di bawah 6 derajat dari cakrawala.
Dengan ketinggian seperti ini, hilal hanya bisa terlihat sekitar 20-30 menit setelah Matahari terbenam sebelum akhirnya ikut tenggelam. Nggak heran kalau proses pengamatan hilal sering disebut cukup menantang.
Ketika hilal berhasil terlihat, itu menandakan bahwa malam tersebut sudah masuk ke awal bulan baru dalam kalender Hijriah. Jika yang teramati adalah hilal awal Syawal, maka seluruh rangkaian ibadah Ramadan pun berakhir pada malam itu. Artinya, salat tarawih tidak lagi dikerjakan dan sahur keesokan harinya pun sudah tidak dilakukan, karena umat Islam bersiap menyambut hari Idulfitri.
Tinggalkan Komentar
Komentar