periskop.id - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 4,75% pada Maret 2026.

"Untuk makin memperkuat stabilitas perekonomian dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Suku Bunga atau BI Rate tetap dipertahankan sebesar 4,75%," ucap Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) secara online Selasa (17/3).

Lebih lanjut Perry menuturkan dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah BI akan melakukan langkah terukur dan terkoordinasi. Intervensi dilakukan secara aktif di pasar offshore lewat instrumen NDF, serta di pasar domestik melalui transaksi spot dan DNDF, disertai pembelian SBN di pasar sekunder.

"Kebijakan stabilisasi dari tukar rupiah juga terus diperkuat dengan intervensi di pasar offshore melalui NDF dan intervensi di pasar domestik melalui pasar spot di NDF serta pemberian SPN di pasar sekunder," sambungnya.

Di saat yang sama, ekspansi likuiditas rupiah dipercepat dengan menurunkan outstanding SRBI dari Rp916,97 triliun di awal 2025 menjadi Rp831,55 triliun per 13 Maret 2026.

Sinergi erat kebijakan moneter dan fiskal juga tercermin dari pembelian SBN yang hingga 16 Maret 2026 mencapai Rp86,16 triliun, termasuk Rp46,72 triliun dari pasar sekunder.  Langkah ini dijalankan secara hati-hati, berbasis mekanisme pasar, transparan, dan konsisten dengan arah kebijakan moneter demi menjaga stabilitas sekaligus kredibilitas.

Di sisi lain, optimalisasi Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) terus digencarkan untuk mendorong kredit ke sektor prioritas. Sejak penguatan kebijakan, insentif diperbesar bagi bank yang agresif menyalurkan pembiayaan dan responsif menurunkan suku bunga kredit, selaras dengan arah pelonggaran kebijakan suku bunga.

Hasilnya mulai terlihat. Pada minggu pertama Maret 2026, insentif KLM telah mencapai Rp427,1 triliun, dengan mayoritas mengalir melalui Lending Channel sebesar Rp357,6 triliun dan sisanya Rp69,5 triliun melalui Interest Rate Channel.

"Dari sisi kelompok bank, distribusi insentif menunjukkan peran dominan Bank BUMN sebesar Rp225,6 triliun, diikuti BUSN Rp166,8 triliun, BPD Rp28 triliun, dan kantor cabang bank asing Rp7,7 triliun," ucap Perry.