Periskop.id – Sistem proteksi kebakaran di gedung, kawasan industri, dan permukiman tidak cukup hanya mengandalkan alat pemadam api ringan atau APAR. Deteksi dini, alarm, jalur evakuasi, peralatan penyelamatan, serta kesiapan penghuni menghadapi keadaan darurat juga menentukan besarnya risiko korban dan kerugian saat kebakaran terjadi.
Direktur Saffire Razali Bin Jaafar menilai pemahaman masyarakat dan pelaku usaha terhadap perlindungan kebakaran masih perlu diperkuat. Pertumbuhan gedung komersial, fasilitas kesehatan, pusat data, kawasan industri, dan kendaraan listrik turut menghadirkan karakter risiko yang semakin beragam.
"Keselamatan tidak boleh menjadi sesuatu yang baru dipikirkan ketika insiden sudah terjadi. Kami melihat masih banyak perusahaan maupun individu yang membutuhkan akses yang lebih mudah terhadap informasi dan perlengkapan fire protection. Digitalisasi menjadi salah satu cara untuk menjembatani kebutuhan tersebut," kata Razali di Jakarta, Kamis (23/7).
Penilaian mengenai rendahnya kesadaran tersebut merupakan pandangan perusahaan. Saffire tidak menyertakan hasil survei nasional yang secara khusus mengukur tingkat pemahaman masyarakat terhadap proteksi kebakaran. Namun, data kejadian di Jakarta menunjukkan ancaman kebakaran masih membutuhkan kewaspadaan tinggi.
Pemprov DKI mencatat 788 peristiwa kebakaran sepanjang 2024. Angka itu turun 8,8 persen dibandingkan 864 kejadian pada 2023, tetapi kebakaran tetap menjadi jenis bencana yang paling banyak terjadi di Ibu Kota pada tahun tersebut.
Sistem Proteksi Tak Berhenti pada APAR
APAR memiliki fungsi penting untuk memadamkan api pada tahap awal. Meski demikian, keberadaannya perlu dilengkapi pemeriksaan rutin, pelatihan penggunaan, dan sistem proteksi lain yang sesuai dengan fungsi maupun risiko bangunan.
Pedoman teknis Kementerian Pekerjaan Umum menyebut sistem proteksi aktif dapat mencakup pompa kebakaran, hidran, sprinkler, APAR, perangkat deteksi dan alarm, serta pengendalian asap. Peraturan Menteri PU Nomor 26/PRT/M/2008 tentang persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan juga masih berstatus berlaku.
Komponen tersebut perlu diimbangi dengan proteksi pasif, seperti material tahan api, kompartemen untuk membatasi penyebaran api dan asap, akses mobil pemadam, tangga darurat, tanda evakuasi, serta titik berkumpul.
Kesiapan sumber daya manusia juga tidak kalah penting. Penghuni harus mengetahui cara membunyikan alarm, menggunakan alat pemadam, mengevakuasi diri, dan menghubungi layanan darurat tanpa membahayakan keselamatan sendiri.
Efektivitas pemadaman awal terlihat dalam data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta. Dari 526 kebakaran yang tercatat hingga April 2025, sebanyak 116 kejadian dapat ditangani masyarakat menggunakan APAR sebelum api membesar.
Platform Digital Integrasikan Peralatan Keselamatan
Untuk memperluas akses terhadap produk dan informasi, Saffire meluncurkan platform digital yang mengintegrasikan kebutuhan proteksi kebakaran dan keselamatan industri. Layanan tersebut mencakup pencarian informasi, konsultasi, hingga pengadaan perlengkapan.
Produk yang tersedia antara lain sistem proteksi kebakaran, alat pelindung diri, perangkat keselamatan kelistrikan, alat penyelamatan, detektor gas, perlengkapan pengendalian tumpahan, pertolongan pertama, serta sistem lock out tag outuntuk mengisolasi sumber energi ketika pekerjaan berlangsung.
Platform itu juga menawarkan selimut api untuk kendaraan listrik. Peralatan tersebut dirancang membantu mengisolasi panas dan api pada kendaraan sambil menunggu penanganan lebih lanjut oleh petugas terlatih. Penggunaannya tidak menggantikan prosedur evakuasi maupun penanganan oleh pemadam kebakaran.
Digitalisasi pengadaan dinilai dapat membantu perusahaan mencatat spesifikasi, jumlah, lokasi, dan jadwal perawatan peralatan secara lebih terstruktur. Namun, pembelian produk tetap harus disesuaikan dengan hasil penilaian risiko, standar teknis, dan kebutuhan setiap bangunan.
"Kami berharap transformasi digital yang dilakukan tidak hanya mempermudah proses transaksi, tetapi juga mendorong perusahaan maupun masyarakat menjadikan keselamatan sebagai budaya sehari-hari, bukan sekadar memenuhi kewajiban regulasi," ujarnya.
Perawatan dan Simulasi Harus Dilakukan Berkala
Ketersediaan alat tidak otomatis membuat sebuah bangunan aman. APAR yang kedaluwarsa, alarm yang tidak berfungsi, pintu darurat terkunci, maupun jalur evakuasi yang terhalang dapat membuat sistem proteksi gagal ketika dibutuhkan.
Pengelola gedung dan perusahaan perlu melakukan inspeksi, perawatan, pencatatan, serta simulasi evakuasi secara berkala. Penghuni juga harus mengetahui lokasi alat pemadam, pintu keluar, tangga darurat, dan titik berkumpul terdekat.
Untuk lingkungan rumah, pencegahan dapat dimulai dengan memeriksa instalasi listrik, tidak menumpuk sambungan pada satu stopkontak, mengawasi penggunaan kompor, serta menempatkan bahan mudah terbakar jauh dari sumber panas. Nomor darurat 112 dapat digunakan masyarakat untuk meminta bantuan dalam situasi kebakaran dan kedaruratan di wilayah yang telah mendukung layanan tersebut.
Peningkatan literasi menjadi penting agar proteksi kebakaran tidak sekadar dipahami sebagai pembelian APAR. Sistem yang efektif harus mampu mencegah insiden, mendeteksi api sedini mungkin, memperlambat penyebarannya, membantu proses evakuasi, dan mendukung pemadaman secara aman.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar