periskop.id - Partai final Piala Afrika 2025 yang digelar di Stadion Rabat, Maroko dan mempertemukan tuan rumah Maroko dengan Senegal, mencuri perhatian publik. Laga puncak ini diwarnai drama penuh ketegangan antara kedua tim nasional. Selain itu, momen menyedihkan juga dialami Brahim Díaz, gelandang serang Maroko sekaligus bintang Real Madrid yang gagal mengeksekusi penalti panenka.

Penalti untuk Maroko bermula ketika pemain Senegal, Malick Diouf, menjatuhkan Brahim Díaz di dalam kotak penalti. Keputusan wasit memberikan hadiah penalti diambil setelah mendapat rekomendasi dari Video Assistant Referee (VAR). Tapi, keputusan tersebut memicu protes keras dari para pemain Senegal hingga mereka melakukan aksi walk out keluar lapangan. Akibatnya, pertandingan sempat tertunda selama sekitar 20 menit.

Pertandingan akhirnya dilanjutkan setelah kapten Senegal, Sadio Mané, berhasil membujuk rekan-rekannya untuk kembali ke lapangan. Eksekusi penalti pun dilakukan oleh Brahim Díaz yang memilih menggunakan teknik panenka. Sayangnya, tendangan tersebut terlalu lemah sehingga dengan mudah ditangkap oleh kiper Senegal, Edouard Mendy. Situasi pun berbalik ketika memasuki empat menit masa tambahan waktu, Pape Gueye berhasil mencetak gol penentu kemenangan untuk Senegal.

Usai laga, Brahim Díaz tampak sangat terpukul karena gagal mengantarkan Maroko meraih gelar juara. Ia tertangkap kamera duduk di bangku cadangan dengan raut wajah yang sedih. Peristiwa ini pun memunculkan pertanyaan di kalangan publik, apa sebenarnya penalti panenka dan bagaimana sejarah di balik teknik tersebut?

Apa Itu Penalti Panenka?

Penalti panenka adalah teknik eksekusi penalti dengan cara mencungkil bola secara perlahan ke arah tengah gawang. Dalam situasi penalti, kiper biasanya akan bergerak melompat ke kiri atau kanan gawang untuk mengantisipasi arah bola. Teknik ini dimanfaatkan pemain untuk mengecoh kiper agar salah membaca arah tendangan.

Saat menerapkan teknik panenka, penendang biasanya perlu memperlihatkan gestur seolah akan mengarahkan bola ke salah satu sisi gawang. Sikap tersebut membuat kiper mengira tendangan akan dilakukan dengan keras ke arah samping. Oleh karena itu, awalan lari dan teknik tendangan harus dilakukan dengan tepat karena kesalahan kecil bisa berujung pada kegagalan eksekusi.

Sejarah Panenka

Teknik tendangan panenka pertama kali diperkenalkan oleh Antonín Panenka, seorang pesepak bola asal Cekoslowakia. Ia melakukan teknik tersebut saat membela tim nasional Ceko dalam laga final Kejuaraan Eropa UEFA tahun 1976 melawan Jerman Barat yang berlangsung di Belgrad.

Sepanjang pertandingan, timnas Ceko sempat menyia-nyiakan peluang emas yang seharusnya bisa membawa keunggulan 2-0. Kedua tim gagal mencetak gol hingga waktu normal berakhir dan harus dilanjutkan ke babak tambahan hingga adu penalti.

Pada adu penalti tersebut, Ceko dan Jerman Barat saling membalas gol. Hingga akhirnya, pemain Jerman Barat, Uli Hoeness, gagal mengeksekusi kesempatan penalti keempat timnya. Kegagalan itu membuka peluang bagi Antonín Panenka untuk mencetak gol penentu sekaligus memastikan gelar juara Euro bagi Ceko.

Pada momen krusial tersebut, Panenka melakukan tendangan dengan mencungkil bola secara lembut ke tengah gawang. Aksinya berhasil mengelabui kiper Jerman Barat, Sepp Maier yang sudah lebih dulu melompat ke sisi kiri gawang. Tendangan itu pun menjadi momen sejarah lahirnya teknik panenka yang kini dikenal luas dalam dunia sepak bola.

Cara Melakukan Teknik Panenka

Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan saat melakukan tendangan panenka.

  • Mulailah dengan awalan lari seperti ingin melepaskan penalti keras agar kiper terkecoh.
  • Perhatikan pergerakan kiper secara sekilas untuk membaca arah geraknya karena gestur tubuh kiper sering kali memberi petunjuk terhadap arah gerak kiper.
  • Gunakan bagian dalam ibu jari kaki saat menendang bola.
  • Pastikan posisi kaki tetap lurus ketika melakukan tendangan.
  • Condongkan tubuh sedikit ke belakang agar bola melambung dengan ketinggian yang sesuai dan memiliki tenaga yang cukup sehingga kiper sulit mengantisipasinya.
  • Terakhir, lakukan seluruh rangkaian gerakan tersebut dengan tenang.