Persikop.id - Gerakan Ayah Mengambil Rapor (Gemar) disambut cukup antusias, baik dari pihak sekolah maupun orang tua siswa. Pemandangan cukup berbeda memang terlihat. Jika biasanya, kaum ibu yang mendominasi untuk hadir ke sekolah untuk mengambil rapor hasil pendidikan anaknya, kini, kehadiran kaum bapak terlihat tak kalah banyak. 

Seperti yang terlihat di SMPN 259 Jakarta. Sejak Jumat (19/12) pagi, sekolah dihadiri banyak kaum bapak yang berjalan menuju kelas didampingi anaknya masing-masing untuk mengambil rapor. “Saya lihat untuk pengambilan rapor kali ini, orang tua atau ayah dari anak-anak didik kami, banyak yang hadir untuk mengambil rapor putra-putrinya,” kata Riyanti Susilowati, Kepala Sekola SMPN 259 Jakarta.

Ia mengaku cukup terkesan dengan pemandangan yang tak biasa di sekolah yang dipimpinnya tersebut. “Menurut saya gerakan mengambil rapot yang dilakukan ayah di sekolah dapat menjadi bentuk menunjukkan kehadiran dan dukungan ayah dalam tumbuh kembang anaknya,” tuturnya. 

Hal senada diungkapkan Asri Nurmalis Budiyani, Guru sekaligus salah satu Wali Kelas di SMPN 259 Jakarta. Ia mengaku cukup terkejut dengan dampak positif dari program ini. Ia melihat, ketika didampingi sosok ayah, ada aura yang berbeda yang terlihat dari seorang anak. 

“Dampak positifnya ke anak itu terlihat cukup banyak. Anak terlihat lebih semangat. Terlihat juga ada percaya diri yang lebih dari anak didik. Ayah juga jadi lebih tahu perkembangan anaknya. Interaksi yang terjadi juga lebih enak, karena seorang ayah biasanya to the point saat bertanya soal anaknya,” jelasnya.

Kesan positif juga dirasakan Ary, seorang ayah dari Siti Anissa, siswa kelas 9C SMPN 259 Jakarta. “Menurut saya program ini sangat bagus, ya. Kita para ayah-ayah bisa melihat kondisi sekolah yang selama ini tidak tahu karena tak pernah datang ke sekolah. Terus juga bisa interaksi dengan wali kelas atau guru-guru yang ada di sekolah. Jadi kita tahu kelemahan atau kekurangan anak-anak kita,” tuturnya.

Jadi Petarung
Seperti diketahui, Gerakan Ayah Mengambil Rapor atau Gemar adalah implementasi dari program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang diinisiasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga).

Implementasi Gemar itu disampaikan lewat surat edaran Mendukbangga yang kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah. Melalui dinas pendidikan para ayah diimbau untuk datang ke sekolah, mengambil rapor anaknya.

Sejumlah sekolah di Indonesia memang tengah membagikan rapor hasil belajar siswa, Kamis (18/12) dan Jumat (19/12). Pada momen inilah para ayah dapat mendukung program Gemar dengan meluangkan waktu untuk datang ke sekolah.

Program Gemar ini memiliki makna penting untuk mengingatkan semua orang tua, terutama ayah, mengenai pentingnya kerja sama orang tua laki-laki dengan orang tua perempuan dalam mengasuh anak-anaknya.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menyampaikan, keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan dapat membentuk anak menjadi sosok petarung atau pribadi yang tangguh.

"Ketika ayah-ayah itu terlibat langsung dengan anaknya, anaknya besok itu menjadi petarung-petarung. Ini riset, ini ilmu," ujar Wihaji saat meninjau pelaksanaan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (Gemar) di SDN Pondok Bambu 11 di Jakarta, Jumat.

Lebih lanjut, ia mengatakan, Gerakan Ayah Mengambil Rapor diharapkan dapat pula membentuk kenangan yang indah bagi anak-anak Indonesia.
Ia mengungkapkan, sekitar 25,8% hingga 26% anak-anak kehilangan peran ayah.

Wihaji melanjutkan, Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) sejatinya tidak terbatas diikuti oleh ayah biologis, tetapi dapat pula diikuti oleh sosok pengganti.

"Pak, yang tidak punya ayah bagaimana? Maka, minimal ada pengganti sosok ayah, apakah mohon maaf, pakdenya, ibunya, pamannya," ucap Wihaji.

Waktu Ayah
Ia menegaskan, tujuan dari program GEMAR adalah untuk memastikan anak-anak tidak kehilangan peran sosok ayah. GEMAR juga bertujuan untuk memperbanyak kesempatan bagi sosok seperti ayah agar dapat mengobrol dengan anak-anaknya.

Wihaji pun mengimbau para ayah untuk perlahan-lahan mulai meluangkan waktu untuk mengasuh serta mendidik anak. Termasuk, ayah dapat pula meluangkan waktu sebanyak dua kali dalam setahun saat mengambil rapor anaknya.

"Karena itu, program Gerakan Ayah Mengambil Rapor ini bagian dari semangat baru kehadiran ayah terlibat untuk anaknya," cetusnya. 

Ia sendiri memastikan, program ini sudah dikoordinasikan dengan sejumlah pihak, mulai dari instansi pemerintah hingga swasta agar mengizinkan pegawainya untuk mengikuti Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR). 

Menurutnya, langkah itu perlu dilakukan guna mencegah para pegawai yang merupakan ayah terkena sanksi saat harus menjalankan program GEMAR. "Nanti jangan sampai gara-gara mengambil rapor dipecat jadi karyawan. Jangan sampai nanti gara-gara mengambil rapor dipotong uangnya," pungkasnya.