periskop.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan hingga 30 November 2025 telah menarik utang baru Rp614,9 triliun atau 84,06% dari target outlook Rp731,5 triliun. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan pembiayaan ini diarahkan untuk menutup defisit APBN yang diproyeksikan sebesar 2,78% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Pembiayaan utang telah direalisasikan Rp614,9 triliun rupiah dan ini adalah 84% dari total outlook Rp731,5 triliun," kata Febrio dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, ditulis (19/12).
Sementara itu, pembiayaan non-utang terealisasi sebesar Rp41,4 triliun atau 59,57% dari outlook sebesar Rp69,5 triliun. Realisasi tersebut turut menopang total pembiayaan APBN secara keseluruhan.
Sehingga secara keseluruhan realisasi pembiayaan anggaran telah mencapai Rp573,5 triliun atau 86,63% dari outlook akhir tahun.
Selain itu, penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp85,6 triliun yang telah disetujui DPR turut membantu meningkatkan efisiensi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).
Febrio menuturkan pemerintah juga menerapkan langkah-langkah antisipatif dalam pengelolaan pembiayaan, antara lain melalui strategi prefunding, penyediaan kas yang memadai, serta penerapan active cash and debt management.
Di sisi lain, sinergi dengan Bank Indonesia terus diperkuat melalui skema debt switch pada SBN pembiayaan Covid-19 yang jatuh tempo, guna menurunkan risiko pembiayaan ulang (refinancing risk).
Lebih lanjut, kata Febrio kondisi pasar keuangan yang menunjukkan tren membaik turut mendukung upaya pemerintah dalam menjaga pembiayaan APBN agar semakin efisien dan berkelanjutan.
"Pasar Keuangan dalam tren membaik, mendukung pembiayaan yang semakin efisien," tutup Febrio.
Tinggalkan Komentar
Komentar