periskop.id - Pendidikan yang berkualitas tidak semata-mata diukur dari nilai akademik. Hal ini ditegaskan oleh Neti Hernawati, Doktor Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), melalui disertasinya yang menyoroti pentingnya kesejahteraan siswa sebagai fondasi utama dalam proses belajar.
Dalam penelitian berjudul “Peran Motivasi Akademik dalam Memediasi Pengaruh Efikasi Diri Akademik dan Iklim Sekolah terhadap Kesejahteraan Siswa SMA di Wilayah Perdesaan Pegunungan dan Pesisir Jawa Barat”, Neti menekankan bahwa faktor geografis turut membentuk pengalaman pendidikan remaja.
“Kesejahteraan siswa merupakan faktor penting yang selama ini kurang diteliti di Indonesia, padahal sangat berpengaruh pada perkembangan psikososial dan prestasi akademik,” ujar Neti Hernawati dilansir dari Antara, Rabu (14/1).
Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI SMA di Jawa Barat, wilayah yang masih menghadapi ketimpangan kualitas pendidikan. Fokus kajian diarahkan pada perbedaan karakteristik antara daerah pegunungan dan pesisir.
Wilayah pegunungan umumnya memiliki komunitas homogen, ikatan sosial yang kuat, serta kehidupan yang relatif stabil. Sebaliknya, daerah pesisir ditandai oleh mobilitas sosial tinggi, interaksi yang lebih dinamis, serta tantangan ekonomi dan lingkungan yang kompleks.
Perbedaan ini ternyata berdampak pada persepsi siswa terhadap iklim sekolah dan kesejahteraan mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa di daerah pegunungan merasa lebih sejahtera dan menilai suasana sekolah lebih positif dibandingkan siswa di pesisir.
Menariknya, efikasi diri akademik dan motivasi akademik relatif sama di kedua wilayah. Namun, motivasi akademik dan iklim sekolah yang kondusif terbukti berperan besar dalam meningkatkan kesejahteraan siswa. Efikasi diri akademik tidak berpengaruh langsung, melainkan melalui motivasi akademik.
Penelitian juga menemukan bahwa peran motivasi akademik sebagai mediator lebih kuat di wilayah pegunungan. Hal ini diduga karena siswa di pegunungan memiliki pandangan bahwa pendidikan adalah jalan utama untuk meningkatkan taraf hidup.
Temuan ini sejalan dengan riset internasional, seperti studi OECD (2021) yang menekankan bahwa student well-being berhubungan erat dengan motivasi belajar, keterlibatan sosial, dan dukungan lingkungan sekolah.
Di Indonesia, laporan PISA 2018 juga menunjukkan bahwa siswa dengan persepsi positif terhadap iklim sekolah cenderung memiliki hasil akademik lebih baik.
Penelitian Neti memberikan kontribusi penting bagi dunia pendidikan Indonesia: kesejahteraan siswa harus ditempatkan sebagai prioritas, bukan sekadar pencapaian nilai.
Tinggalkan Komentar
Komentar