periskop.id - Anggota Komisi X DPR RI Sofyan Tan mengakui kesejahteraan guru di Indonesia masih jauh dari ideal. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama ketertinggalan mutu pendidikan nasional dibandingkan negara lain di kawasan, termasuk Malaysia.
Sofyan membandingkan secara langsung kebijakan kesejahteraan guru di Indonesia dengan negeri jiran. Ia menilai Malaysia jauh lebih serius dalam menghargai profesi guru, terutama dari sisi pengupahan.
“Malaysia jauh daripada kita, sekarang kita ketinggalan dari Malaysia. Ternyata persoalannya apa? Malaysia menghargai guru sama seperti menghargai dokter, gajinya setinggi itu. Sedangkan kita tidak, bahkan masih ada guru yang digaji di bawah UMR,” ujar Sofyan saat memberikan keterangan, dikutip Kamis (5/2).
Politisi Fraksi PDI Perjuangan itu menekankan bahwa kesejahteraan guru berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia yang direkrut ke dalam dunia pendidikan. Menurutnya, guru merupakan titik penentu utama kualitas pendidikan suatu bangsa.
“Kalau kita ingin membangun pendidikan yang berkualitas, maka kita harus mampu merekrut dan membayar guru-guru yang berkualitas. Guru yang berkualitas tentu membutuhkan penghargaan yang layak,” katanya.
Sofyan menilai persoalan kesejahteraan guru ini harus dijawab secara serius melalui pembenahan kebijakan, termasuk dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Tanpa keberpihakan anggaran dan kebijakan yang jelas terhadap guru, ia menilai sulit bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan.
“Produk pendidikan yang baik hanya bisa dihasilkan oleh guru yang berkualitas. Kalau gurunya tidak sejahtera, jangan berharap hasilnya bisa optimal,” tegas Sofyan.
Menurut data International Postgraduate Certificate in Education (IPGCE), dalam peringkat gaji guru di Asia Tenggara tahun 2023, Indonesia berada di posisi kelima dari 10 negara berdasarkan besaran gaji tahunan guru.
Di Indonesia, rata-rata gaji guru umum berada di kisaran Rp2,7–Rp5,5 juta per bulan, jauh di bawah gaji guru di sejumlah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand yang dapat mencapai puluhan juta rupiah per bulan.
Kurangnya kesejahteraan guru dinilai turut berdampak pada rendahnya kesiapan tenaga pendidik dalam proses pembelajaran. Kondisi tersebut berujung pada penurunan kualitas pendidikan, yang tercermin dari anjloknya capaian Tes Kompetensi Akademik (TKA).
Tinggalkan Komentar
Komentar