Periskop.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan. Pada data perdagangan hari Minggu (21/6), nilai tukar mata uang garuda berada di posisi Rp17.795 per dolar AS. 

Jika ditarik garis sejak awal tahun, posisi ini memperlihatkan bahwa rupiah telah terdepresiasi sebesar 6,76% dari yang semula berada di angka Rp16.668 per dolar AS pada 1 Januari 2026. 

Advertisement

Pelemahan nilai tukar yang terjadi secara terus-menerus ini tanpa disadari dapat memberikan dampak yang sangat serius terhadap nasib putra-putri asal Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan di luar negeri.

Situasi pelik ini sebenarnya bisa digambarkan dengan bercermin dari kasus nyata yang sedang menimpa para pelajar asal India. Mengutip BBC pada hari Senin (22/6), India beberapa tahun lalu telah berhasil menyalip posisi China sebagai sumber utama pengirim mahasiswa internasional terbesar di dunia. 

Pada 2025 saja, tercatat ada lebih dari 1,2 juta mahasiswa asal India yang terdaftar di berbagai institusi pendidikan tinggi luar negeri. 

Namun, kenyataan pahit akibat melemahnya mata uang rupee justru memaksa banyak mahasiswa di sana untuk mempertimbangkan kembali apakah keputusan menanggung beban utang yang besar demi kuliah di luar negeri masih dinilai layak atau tidak.

Bagi sebagian besar mahasiswa di India, melanjutkan studi ke luar negeri di tengah kondisi mata uang yang merosot bukanlah sebuah kemewahan yang bisa mereka paksakan lagi. Kenyataan ekonomi yang sulit ini tercermin langsung dari menurunnya jumlah pendaftaran baru untuk periode masuk (intake) di sejumlah negara yang selama ini menjadi tujuan favorit studi. 

Di Inggris, sebanyak 76% universitas melaporkan adanya penurunan tajam pada pendaftaran mahasiswa asal India untuk periode masuk bulan Januari. Sementara itu, situasi yang serupa juga terjadi di AS, di mana angka pendaftaran mahasiswa internasional dilaporkan mengalami penurunan hampir 7% dalam rentang waktu antara Februari 2025 hingga Februari 2026.

Penurunan tajam yang dialami oleh rupee, dipastikan akan semakin memperburuk tantangan finansial yang dihadapi oleh mahasiswa baru maupun mereka yang statusnya sudah berjalan menempuh studi di luar negeri. 

Banyak mahasiswa India yang saat ini sudah berada di luar negeri sebenarnya telah membayar sebagian dari total komponen biaya kuliah mereka. Namun, akibat pelemahan mata uang ini, mereka sekarang terpaksa harus mencari pinjaman dana tambahan dan mengatur pasokan dana darurat demi menutupi sisa cicilan pembayaran di masa mendatang. 

Beban ini terasa semakin menjepit mengingat rupee sudah merosot lebih dari 10% terhadap mata uang dolar AS jika dihitung dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Rupee India bahkan dilaporkan telah terdepresiasi secara masif antara 35% hingga 47% terhadap mata uang negara-negara tujuan studi utama jika dihitung sejak 2019 yang lalu. 

Kondisi penurunan yang sangat dalam tersebut secara otomatis memengaruhi selera risiko finansial dari keluarga kelompok menengah ke atas di India. Hal ini dipicu oleh fakta bahwa melemahnya nilai mata uang lokal membuat total biaya operasional pendidikan di luar negeri menjadi jauh lebih mahal dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya.

Kendati dibayangi oleh faktor mahalnya biaya akibat fluktuasi mata uang, secara keseluruhan minat publik terhadap agenda pemenuhan pendidikan di luar negeri dinilai masih tetap kuat. 

Menurut laporan data dari Global Student Flows Report 2026, jumlah pendaftaran mahasiswa asal India di negara AS, Inggris, Kanada, dan Australia, yang sering kali dijuluki sebagai kelompok empat besar tujuan studi dunia, diproyeksikan hanya akan mengalami penurunan tipis dengan rata-rata 0,5% per tahun hingga 2030 mendatang.

Di sisi lain, pergeseran minat warga India kini mulai bergerak menuju negara-negara tujuan alternatif yang dinilai lebih rasional secara ekonomi. Negara-negara maju seperti Jerman, Irlandia, Italia, serta beberapa wilayah tujuan di benua Eropa lainnya tercatat semakin ramai menarik minat para mahasiswa asing. 

Beberapa faktor yang melandasi tingginya daya tarik negara alternatif tersebut adalah tawaran biaya kuliah yang jauh lebih rendah, ketersediaan jalur kerja resmi setelah menyelesaikan masa studi yang dinilai sangat menguntungkan, prospek penyerapan tenaga kerja yang kuat, serta nilai efisiensi ekonomi secara keseluruhan yang dianggap jauh lebih menarik bagi dompet para orang tua mahasiswa asal India.