Periskop.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai merancang Jakarta Education and Innovation Center sebagai pusat kolaborasi pendidikan tinggi, riset, dan pengembangan solusi perkotaan. Inisiatif tersebut diarahkan untuk mempertemukan pemerintah, akademisi, lembaga penelitian, dunia usaha, serta mitra internasional dalam satu ekosistem inovasi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan pembentukan pusat tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat daya saing Jakarta setelah tidak lagi menyandang status ibu kota negara.
"Pembentukan Jakarta Education and Innovation Center menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dunia usaha, dan mitra internasional," ujar Pramono saat membuka diskusi pembentukan Jakarta Education and Innovation Center di Balai Kota, Rabu (29/7).
Menurut Pramono, kolaborasi lintas sektor diperlukan agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi akademik, tetapi diterapkan untuk menangani persoalan seperti transportasi, banjir, lingkungan, kesehatan, pendidikan, perumahan, dan pelayanan publik.
"Jakarta memiliki tantangan sekaligus potensi yang sangat besar. Karena itu, kami ingin menjadikan Jakarta sebagai tempat lahirnya riset dan inovasi yang mampu menjawab persoalan perkotaan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," kata Pramono.
Jakarta Diposisikan sebagai Laboratorium Perkotaan
Keberagaman penduduk, kepadatan aktivitas ekonomi, serta kompleksitas persoalan kota membuat Jakarta dinilai dapat berfungsi sebagai living laboratory. Melalui konsep tersebut, peneliti dapat menguji gagasan dan teknologi pada lingkungan perkotaan nyata, sedangkan pemerintah memperoleh rekomendasi berbasis data untuk menyusun kebijakan.
Jakarta Education and Innovation Center masih berada dalam tahap perumusan. Diskusi yang digelar Pemprov DKI ditujukan untuk menyusun rekomendasi mengenai bentuk kelembagaan, tata kelola, kemitraan internasional, dukungan regulasi, hingga peta jalan pelaksanaan.
Hasil pembahasan akan ditindaklanjuti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah DKI Jakarta sebagai acuan penyusunan kebijakan. Dalam keterangan resminya, Pemprov DKI belum mengumumkan lokasi, kebutuhan anggaran, jadwal pembentukan, maupun bentuk organisasi pusat tersebut.
Pembahasan ini merupakan kelanjutan komunikasi Bappeda DKI, Georgetown University, dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Konsultan AT Kearney bersama Georgetown juga telah berdiskusi dengan Danantara mengenai skema insentif yang dapat menarik perguruan tinggi internasional membuka aktivitas pendidikan dan riset di Jakarta.
MIT hingga Stanford Hadiri Pembahasan
Forum tersebut dihadiri perwakilan sejumlah perguruan tinggi nasional dan internasional, antara lain Massachusetts Institute of Technology, Stanford University, Georgetown University, Seoul National University, Nanyang Technological University, Peking University, Brown University, London School of Economics, serta Monash University Indonesia.
Dari dalam negeri, peserta yang hadir mencakup Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Negeri Jakarta, dan sejumlah perguruan tinggi lainnya. Perwakilan Bank Dunia, Asian Development Bank, AT Kearney, serta sejumlah kementerian juga memberikan masukan. Kehadiran dalam forum tersebut belum otomatis berarti seluruh lembaga telah menjadi mitra resmi program.
"Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut. Ke depan, kami ingin semakin banyak perguruan tinggi dan lembaga riset kelas dunia berkolaborasi di Jakarta sehingga pendidikan dan inovasi menjadi kekuatan baru untuk meningkatkan daya saing Jakarta sebagai kota global," pungkas Pramono.
Melanjutkan Kerja Sama dengan Georgetown
Pemprov DKI sebelumnya menandatangani nota kesepahaman dengan Georgetown University Asia-Pacific Foundation pada Mei 2025. Kerja sama tersebut mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan kebijakan publik, serta pengembangan kapasitas aparatur sipil negara.
Saat kerja sama itu diumumkan, Pramono menargetkan posisi Jakarta dalam Global Cities Index naik dari peringkat ke-74 menjadi ke-58 dalam lima tahun. Dalam jangka panjang, Jakarta diarahkan masuk dalam jajaran 20 kota global teratas pada 2045.
Penguatan pendidikan tinggi menjadi salah satu modal untuk mengejar target tersebut. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi DKI Jakarta pada 2025 mencapai 41,78%, lebih tinggi daripada angka nasional sebesar 29,64 persen. Indikator itu menggambarkan perbandingan jumlah mahasiswa dengan penduduk pada kelompok usia resmi pendidikan tinggi.
Di tingkat nasional, Indonesia berada di peringkat ke-55 dari 139 negara dalam Global Innovation Index 2025, membaik dari peringkat ke-87 pada 2021. Pemerintah menargetkan perguruan tinggi semakin aktif menghubungkan penelitian dengan kebutuhan industri dan persoalan masyarakat.
Keberhasilan Jakarta Education and Innovation Center nantinya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kampus internasional yang terlibat. Pemerintah juga perlu memastikan hasil penelitian dapat diuji, digunakan dalam kebijakan, memperoleh pembiayaan lanjutan, dan memberikan manfaat yang terukur bagi warga.
Pusat tersebut juga harus membuka ruang bagi kampus dan peneliti lokal agar kolaborasi internasional menghasilkan alih pengetahuan, bukan sekadar menghadirkan institusi asing. Kejelasan lembaga, pendanaan, fokus riset, pengelolaan kekayaan intelektual, serta mekanisme penerapan hasil penelitian akan menjadi bagian penting dalam peta jalan yang sedang disusun.
Tinggalkan Komentar
Komentar