periskop.id - Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI), Hery Gunardi menyoroti tantangan utama pembiayaan berkelanjutan di negara berkembang bukan soal komitmen atau ketersediaan modal, melainkan kemampuan eksekusi di tingkat lokal. Bank lokal berperan penting sebagai anchor bank untuk menyalurkan blended finance ke sektor riil.

Hery menekankan peran UMKM sebagai tulang punggung ekonomi negara berkembang, penyedia lapangan kerja, dan jangkar ketahanan komunitas. Namun sektor ini seringkali terabaikan dalam diskusi global pembiayaan berkelanjutan.

“Ketika kita berbicara tentang keberlanjutan di emerging markets, pertanyaan sesungguhnya bukan soal ambisi, melainkan eksekusi. Modal untuk keberlanjutan sebenarnya sudah tersedia secara global. Tantangannya adalah bagaimana memindahkan modal tersebut secara aman, efisien, dan berskala ke tempat yang paling membutuhkan,” ujar Hery dalam diskusi panel Capital for Sustainability: Unlocking Sustainable Finance and Growth in Emerging Markets di WEF 2026, Selasa (20/1).

Hery menilai, pembiayaan berkelanjutan harus bersifat inklusif. Transisi hanya akan berhasil jika UMKM bergerak maju bersama, bukan tertinggal. Pandangan Hery sejalan dengan Presiden dan CEO TCW, Kathryn Koch, yang menilai persepsi risiko di emerging markets sering berlebihan.

“Justru berisiko jika tidak memiliki eksposur ke emerging markets,” kata Kathryn.

Ia menambahkan bahwa kompleksitas pasar negara berkembang sering kali disalahartikan sebagai risiko, padahal dapat dikelola secara efektif melalui sistem keuangan lokal yang kuat. Menurut Kathryn, bank domestik dengan jaringan luas dan pemahaman sektor riil memiliki peran strategis dalam menerjemahkan modal global menjadi pembiayaan produktif.

Di BRI, peran sebagai anchor bank diwujudkan lewat kerja sama dengan pemerintah, lembaga pembangunan, dan bank multilateral untuk menyalurkan blended finance ke UMKM. Selain itu, digitalisasi menjadi faktor kunci dalam mendorong skala pembiayaan berkelanjutan.

“Digitalisasi memungkinkan keberlanjutan untuk berkembang dalam skala besar, menurunkan biaya pembiayaan, memperluas akses kredit, serta memungkinkan pengumpulan data ESG hingga ke tingkat UMKM,” ujar Hery.

Hery menegaskan, keberlanjutan bagi BRI bukan inisiatif niche, tapi strategi mass market yang diterapkan setiap hari untuk jutaan pelaku usaha.

“Sustainability bukan inisiatif niche bagi kami, tetapi strategi mass market yang tertanam dalam cara kami membiayai jutaan pelaku usaha setiap hari,” katanya.

Menurut Hery, pembiayaan berkelanjutan yang nyata terjadi ketika menjangkau desa, petani, dan micro-entrepreneur.

“Ini bukan bantuan sosial, melainkan aktivitas ekonomi yang layak secara komersial,” tutupnya.