Periskop.id - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menyatakan, Danantara Indonesia memiliki peran yang krusial untuk menyampaikan kepada dunia usaha internasional, bahwa Indonesia sangat terbuka untuk berbisnis dengan banyak negara dalam World Economic Forum (WEF).
Menurut Fakhrul, Danantara bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia diharapkan mampu menunjukkan, Indonesia merupakan titik terang atau bright spot di tengah ketidakpastian dan gejolak ekonomi global yang sedang berlangsung.
"Yang harus disampaikan oleh Danantara dan Kadin, kita harus bisa menunjukkan bahwa Indonesia ini adalah bright spot di antara berbagai macam pergolakan yang sedang terjadi dunia global," ujar Fakhrul di Jakarta, Rabu (21/1),
Fakhrul menjelaskan, pesan tersebut menjadi penting mengingat banyak negara saat ini cenderung bersikap lebih proteksionis, baik dengan negara tetangga maupun mitra dagang. Dalam kondisi tersebut, kata Fakhrul, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menawarkan pendekatan berbeda melalui kerja sama yang saling menguntungkan.
Menurutnya, Danantara dan Kadin perlu menegaskan, Indonesia membuka ruang kemitraan yang bersifat mutual benefit, dengan orientasi pada penciptaan nilai tambah bagi semua.
"Kita harus menunjukkan bahwa Indonesia is open for business. Kita hendak mencari hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain. Selalu ada cara yang baik dan kita bisa memberi value added," jelasnya.
Lebih lanjut, Fakhrul menyampaikan, Danantara diharapkan dapat mengoptimalkan kehadiran di WEF 2026 sebagai ajang perkenalan strategis Indonesia kepada komunitas global. Terutama dalam menarik minat investor dan mitra internasional.
Selain itu, Indonesia juga diharapkan mampu memperkuat kepercayaan dunia usaha global, serta menegaskan posisinya sebagai mitra yang stabil, terbuka, dan kredibel di tengah dinamika global.
Sebelumnya diberitakan, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyebut, kehadiran Indonesia dalam Annual Meeting World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, merupakan bagian dari strategi konsisten diplomasi ekonomi RI di tingkat internasional untuk memacu daya saing.
Kehadiran institusi tersebut, lanjut Rosan yang juga menjabat Kepala BKPM dan CEO Danantara, bukan langkah yang bersifat insidental, melainkan kelanjutan dari upaya jangka panjang untuk mempromosikan potensi investasi nasional. Juga memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis global di tengah dinamika ekonomi dunia.
Menurut dia, forum WEF menjadi panggung penting bagi Indonesia untuk menyampaikan arah kebijakan dan kesiapan nasional dalam menghadapi tantangan global. Dalam forum tersebut, Indonesia kembali mengusung pendekatan Indonesia Incorporated melalui sinergi antara pemerintah, pengelola aset negara, dan dunia usaha.
Kehadiran Indonesia Pavilion dengan tema Indonesia Endless Horizons, menjadi wadah promosi investasi terpadu sekaligus penegasan keseriusan Indonesia dalam membangun narasi pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.
Absen 10 Tahun
Sekadar informasi, Presiden Prabowo dijadwalkan hadir ke acara WEF di Kota Davos, Swiss. Presiden Republik Indonesia sudah 10 tahun absen dari ajang WEF. Presiden yang hadir pertama kali adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan berpidato pada 2011 tentang ekonomi hijau atau ramah lingkungan.
Pada WEF edisi kali ini Presiden Prabowo bersama CEO Danantara Rosan Roeslani beserta sejumlah Menteri. Forum ini melibatkan pemimpin negara-negara dunia, pengusaha, akademisi, hingga perwakilan masyarakat sipil dengan mengusung tema "A Spirit of Dialogue".
Center of Economic and Law Studies (Celios) menegaskan World Economic Forum (WEF) Davos 2026 merupakan momentum strategis bagi Indonesia untuk menarik investasi hijau dan memperkuat kerja sama global di sektor berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menyatakan, gelaran WEF Davos, Swiss, 19-23 Januari 2026 merupakan panggung strategis bagi pemerintah Indonesia. Di antaranya untuk memasarkan agenda transisi energi dan pembangunan hijau kepada investor global, termasuk kalangan filantropi internasional.
Menurut Bhima, pemerintah dapat memanfaatkan forum tersebut untuk membuka dialog dengan lembaga filantropi, agar tertarik berkontribusi pada sektor-sektor yang selama ini masih minim pembiayaan, seperti transisi energi, perlindungan hutan, dan layanan kesehatan.
“Di ajang Davos pemerintah bisa membuka dialog agar filantropi banyak tertarik masuk ke sektor yang selama ini kurang pembiayaan. Sebagai contoh filantropi di sektor transisi energi, perlindungan hutan hingga kesehatan bisa diajak berkontribusi," ujarnya
Tinggalkan Komentar
Komentar