Periskop.id - Presiden Prabowo Subianto bertekad untuk mewujudkan swasembada pangan tidak hanya untuk 1-2 tahun, tetapi tiap tahun. Target tersebut menjadi tekad untuk membuktikan kepada sejumlah kalangan yang kerap ‘nyinyir’ dengan kebijakan pemerintah. 

"Hari ini, bahagia bagi saya. Bahagia, saya senang sekali, dan saya melihat tadi, penuh harapan, penuh keyakinan. Kalau banyak tokoh nyinyir mengatakan kita tidak bisa swasembada pangan, hari ini kita buktikan kita swasembada pangan," kata Presiden Prabowo di hadapan para petani, komunitas pertanian, dan sejumlah pejabat negara saat acara Panen Raya di Karawang, Rabu (7/1).

"Sekarang, setelah kita swasembada pangan, saya dengar lagi: Oh iya swasembada pangannya paling 1-2 tahun. Gak apa-apa, tiap tahun kita buktikan, swasembada, swasembada, swasembada, swasembada! Tidak hanya swasembada beras, jagung, singkong, semuanya kita swasembada nanti, bawang putih kita harus swasembada," ujar Prabowo.

Presiden kemudian melanjutkan pemerintahannya bertekad untuk memproduksi besar-besaran sumber protein seperti hewan-hewan ternak dan ikan.

"Kita akan buka ribuan desa-desa nelayan. Kita akan buka ratusan budidaya ikan. Rakyat kita, anak-anak kita harus makan protein yang banyak. Dia harus tumbuh kuat, tumbuh pinter, dan tumbuh menjadi masa depan Indonesia yang hebat," kata Presiden yang disambut riuh tepuk tangan para petani.

Sekadar mengingatkan, di atas panggung acara panen raya, Presiden Prabowo mengumumkan Indonesia resmi mencapai swasembada beras pada tahun 2025. Pengumuman itu kemudian diikuti dengan acara menumbuk gabah kering di dalam lesung dengan alu. 

Presiden memimpin prosesi menumbuk itu bersama dua orang perwakilan petani, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Dalam sambutannya, saat mengumumkan swasembada itu, Presiden kemudian mengungkapkan dirinya seperti mendapatkan suntikan kekuatan.

"Hari ini saya sungguh terima kasih, saya merasa mendapatkan dorongan. Saya merasa mendapat kekuatan, energi. Saya merasa sepertinya menjadi 30 tahun lebih muda, karena saya melihat tadi penghasilan petani kita naik," ujar Presiden.

Cadangan Beras

Sekadar catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya menyebutkan berdasarkan kerangka sampel area (KSA) pengamatan November 2025, produksi beras nasional 2025 diprediksi mencapai 34,71 juta ton. Jumlah ini melampaui kebutuhan domestik tahunan sekitar 30-31 juta ton per tahun.

Pengadaan beras tahun 2025 pun tercatat sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Perum Bulog melalui pembelian gabah langsung dari petani any quality dengan harga Rp6.500 per kilogram.

Cadangan beras pemerintah sempat mencapai rekor 4,2 juta ton pada Juni 2025 dan kini berada di kisaran 3,25 juta ton pada awal 2026, seiring penyaluran beras untuk bencana serta pengendalian stok dan harga.

Capaian itu mencerminkan stabilitas pasokan, keberpihakan harga kepada petani, dan kehadiran negara dalam tata kelola pangan. Dampaknya, petani kian semangat untuk berproduksi dengan jaminan harga dan kepastian serapan oleh Bulog.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, keberhasilan swasembada beras nasional merupakan hasil kerja kolektif Kabinet Merah Putih yang solid menjalankan visi besar Presiden Prabowo Subianto secara konsisten dan terukur.

Amran menyebut, capaian tersebut lahir dari sinergi lintas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, TNI-Polri, serta penyuluh dan petani, yang bergerak serempak mempercepat produksi dan menjaga stabilitas pangan nasional berkelanjutan.

"Swasembada ini adalah kerja terbaik Kabinet Merah Putih, dari gagasan besar Bapak Presiden Republik Indonesia (Prabowo Subianto) dan seluruh penyuluh petani Indonesia," kata Mentan.