periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Kamis 4 Desember 2025, diperkirakan melanjutkan penguatan. IHSG hari ini dibuka menguat dengan kenaikan 0,28 ke level 8.635,610. Sebanyak 259 saham menguat. 164 saham terkoreksi, dan 214 saham stagnan.
Sebelumnya, IHSG ditutup melemah di level 8,611.79 (-0.06%) pada perdagangan Rabu (3/12), akibat profit taking setelah sebelumnya sempat menyentuh level intraday tertinggi baru di 8.669. Saham sektor basic materials mencatatkan pelemahan terbesar, sebaliknya saham sektor teknologi membukukan kenaikan terbesar.
Secara teknikal, histogram MACD masih bertahan di area positif dan Stochastic RSI bergerak menguat di area pivot. IHSG juga masih bertahan di atas level MA5. Sehingga diperkirakan IHSG masih berpotensi menguat.
“IHSG masih berpotensi untuk bergerak menguat menguji level resistance di 8.650-8.670 pada perdagangan Kamis (4/12),” ulas Tim Riset Phintraco Sekuritas, Kamis (4/12). Beberpaa saham pilihan yang bisa dicermati pada perdagangan hari ini, antara lain ASII, ASSA, MAPI, ESSA dan UNVR.
bersamaan dnegan IHSG yang turun, rupiah ditutup sedikit melemah di level Rp16,628/usd (3/12), di saat mayoritas mata uang di kawasan Asia cenderung menguat terhadap Dolar AS. Indeks di bursa Asia ditutup mixed pada perdagangan Rabu (3/12).
Dari Inggris (4/12), investor akan mencermati S&P Global Construction PMI bulan November 2025 yang diperkirakan sedikit naik di level 45 dari level 44.1 di Oktober 2025. Kondisi ini mengindikasikan sektor konstruksi di Inggris diperkirakan sedikit membaik, namun masih di area kontraksi.
Dari Euro Area, akan dirilis data penjualan ritel yang diperkirakan tumbuh 0.3% MoM di Oktober 2025, membaik dari turun 0.1% MoM di September 2025. Sehingga secara tahunan, retail sales di Euro Area diperkirakan tumbuh 1.1% YoY di Oktober 2025 dari 1% YoY di September 2025.
Indeks di Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Rabu (3/12). Data pasar tenaga kerja swasta yang mengecewakan meningkatkan kemungkinan penurunan suku bunga pada bulan Desember yang mengimbangi koreksi saham Microsoft di tengah kekhawatiran akan permintaan terkait AI.
Data ADP Employment secara tak terduga mengalami penurunan sebanyak 32 ribu di November 2025, setelah terjadi kenaikan sebanyak 47 ribu di Oktober 2025, sedangkan sebelumnya diperkirakan terjadi kenaikan sebanyak 20 ribu.
“Hal ini menekankan kekhawatiran baru-baru ini atas perlambatan pasar tenaga kerja di AS, yang semakin memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga Fed pada pekan depan,” tulis riset tersebut.
Peluang bank sentral AS akan menurunkan suku bunga sebesar 25 bps di pertemuan 9-10 Desember telah meningkat menjadi hampir 90%, menurut CME FedWatch. Hal ini mencerminkan spekulasi pasar bahwa the Fed akan memilih memberi dukungan kepada pasar tenaga kerja yang sedang lesu meskipun ada tanda-tanda inflasi yang kuat.
Investor akan mencermati publikasi tertunda indeks PCE prices di hari Jumat (5/12), yang merupakan tolok ukur inflasi pilihan the Fed. Data PCE juga dapat memengaruhi ekspektasi mengenai besaran dan waktu penurunan suku bunga.
Lemahnya data tenaga kerja AS yang mendorong meningkatnya optimisme akan penurunan suku bunga Fed, juga mendorong kenaikan pada harga obligasi dan emas. U.S. 10-year Bond Yield turun 2 bps ke level 4.059%. Harga emas spot menguat 0.1% di level US$4,209/troy oz (3/12).
Tinggalkan Komentar
Komentar