periskop.id - Istilah saham gorengan belakangan ini menjadi perhatian publik seiring dengan melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir. Sebagian pihak menilai penurunan IHSG tersebut dipicu oleh pembekuan perdagangan saham oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru menyoroti faktor lain. Ia menilai melemahnya pasar turut dipengaruhi oleh keberadaan saham gorengan yang beredar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham jenis ini umumnya memiliki pergerakan harga yang sangat fluktuatif dan minim keterbukaan informasi. Oleh karena itu, penting diketahui bagi para investor sebelum melakukan pembelian saham.

Pengertian Saham Gorengan

Saham gorengan adalah saham perusahaan yang kenaikan harga dan volume terjadi secara berlebihan karena adanya manipulasi yang dilakukan oleh pelaku pasar atau bandar. Kenaikan harga saham ini bertujuan untuk menarik investor cepat-cepat melakukan pembelian pada saham tersebut dan merasa bahwa saham tersebut memiliki prospek yang menjanjikan.

Istilah “gorengan” sendiri dianalogikan seperti proses menggoreng makanan, yaitu dipanaskan agar tampak matang dan menarik dari luar. Padahal, bagian dalamnya belum tentu matang dan justru berbahaya jika dikonsumsi.

Cara kerja saham gorengan tergolong sederhana. Bandar biasanya menyebarkan informasi palsu atau menyesatkan mengenai kinerja suatu perusahaan. Selain itu, mereka juga akan merencanakan pembuatan target pembelian palsu untuk memancing minat investor. Akibatnya, harga saham akan naik dan semakin banyak investor yang tertarik untuk ikut membeli.

Ketika minat investor sudah tinggi, bandar kemudian menjual saham yang mereka miliki dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan harga beli awal. Sementara itu, investor yang baru masuk justru berisiko terjebak karena saham tersebut tidak didukung likuiditas dan fundamental yang kuat.

Ciri-Ciri Saham Gorengan

1. Kenaikan Harga yang Fluktuatif dalam Waktu Singkat

Saham gorengan biasanya akan mengalami pergerakan harga yang fluktuatif. Perubahannya dapat terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Ketika suatu harga saham dari perusahaan A berharga Rp100, kemudian bisa naik secara tiba-tiba menjadi Rp300. Bahkan dalam waktu beberapa jam bisa kembali turun menjadi Rp80.

Sebelum membeli, alangkah baiknya pada investor untuk mengetahui kejelasan informasi saham karena saham gorengan biasanya tidak memiliki analisis pasar yang jelas.

2. Dibesar-Besarkan karena Isu Bohong

Saham gorengan kerap dibesar-besarkan karena penyebaran isu bohong yang dilakukan oleh bandar. Para bandar akan menyampaikan informasi palsu terkait saham tersebut dengan tujuan menarik minat pada investor. Para investor perlu memahami lebih dalam terkait analisis teknikal dan fundamental sebelum melakukan pembelian saham.

3. Tidak Menghasilkan Likuid

Saham gorengan umumnya tidak memiliki tingkat likuiditas yang baik dan cenderung jarang diperdagangkan. Selain itu, saham jenis ini sering dibebani utang yang besar, penundaan perdagangan oleh BEI, dan minim keterbukaan informasi. Tidak hanya itu, kapitalisasi pasar saham gorengan biasanya juga tergolong rendah.

4. Adanya Volume dan Nilai Transaksi Tidak Biasa

Jika volume dan nilai transaksi harian saham pada lapis kedua dan ketiga menunjukkan harga yang lebih tinggi dari saham lapis pertama atau big cap, maka harus diwaspadai. Karena biasanya saham lapis kedua dan ketiga lebih rendah daripada big cap. Ada indikasi kalau saham tersebut dimanipulasi oleh bandar.

5. Adanya Kinerja Perusahaan yang Tidak Sejalan dengan Kenaikan Harga

Adanya ketidaksesuaian antara kinerja perusahaan dengan kenaikan harga saham menjadi salah satu ciri saham gorengan. Ketika kinerja suatu perusahaan turun, tetapi menunjukkan kenaikan pada harga saham, maka hal itu perlu diwaspadai oleh para investor. Seharusnya, antara kinerja perusahaan dengan harga saham selalu berkolerasi.

Risiko dari Saham Gorengan

1. Mengalami Kerugian Besar

Harga saham akan menimbulkan kerugian setelah bandar selesai melakukan manipulasi nilai saham. Akibatnya, para investor akan terjebak dalam kerugian tersebut.

2. Tidak Adanya Fundamental Kuat

Saham gorengan selalu dari perusahaan yang memiliki kinerja yang buruk. Akibatnya, pertumbuhannya lambat.

3. Pergerakan Harga yang Ekstrem

Investor akan kesulitan dalam menentukan waktu ketika ingin membeli dan menjual saham

4. Selalu Diawasi

Saham gorengan selalu diawasi oleh otoritas pasar modal sehingga dapat mengganggu perdagangan saham.

Cara Menghindari Saham Gorengan

1. Aktif Memantau Harga Pasar

Bandar akan membuat kamu kesulitan dalam menebak harga saham naik atau turun. Aktif memantau pasar merupakan cara yang tepat untuk menghindari saham gorengan. Jika nilai sahamnya sudah melewati batas yang sudah kamu tetapkan, segera lakukan penjualan untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

2. Tidak Membeli Saham Berlebihan

Usahakan untuk mendistribusikan dana investasi ke beberapa instrumen dan jenis investasi. Jika ingin membeli saham gorengan, jangan semua dana diinvestasi ke saham tersebut karena risikonya lebih besar.

3. Riset 

Sebelum membeli saham, lakukan riset terlebih dahulu terhadap kinerja suatu perusahaan, lihat laporan keuangannya, tingkat kompetitif, dan bagaimana kemungkinan prospek ke depannya.

4. Waspada Terhadap Kenaikan Tiba-Tiba

Jika harga saham suatu perusahaan menunjukkan adanya kenaikan yang terjadi secara tiba-tiba, maka kamu perlu mewaspadainya. Lakukan peninjauan terhadap perusahaan tersebut untuk mengetahui informasi yang benar-benar jelas.

5. Jangan Tergiur Keuntungan Besar

Saham gorengan akan memberikan janji palsu berupa keuntungan besar yang bisa diperoleh. Jangan sampai kamu telan mentah-mentah janji tersebut. Pada dasarnya, investasi saham tidak menghasilkan keuntungan yang besar dalam jangka waktu singkat, melainkan diperoleh secara bertahap.