periskop.id - Direktur PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge, Shannedy Ong, menegaskan gejolak harga saham perseroan belakangan ini hanyalah respons sesaat pasar terhadap perubahan struktur pendanaan perusahaan yang tengah memasuki fase ekspansi agresif.
"Akar dari tekanan laba jangka pendek WIFI sebenarnya sederhana, utang obligasi perusahaan melonjak dari Rp600 miliar menjadi Rp2,5 triliun seluruhnya dialokasikan sebagai bahan bakar ekspansi jaringan. Lonjakan modal ini membuat total aset WIFI terbang hingga menyentuh Rp12,5 triliun," kata Shannedy dalam acara Analyst – 9M25 Earnings Call di Langham Hotel Jakarta, Jumat (12/12).
Shannedy tidak menampik adanya kenaikan beban bunga dalam Laporan Keuangan Kuartal III 2025 yang menekan laba bersih. Namun, ia meminta investor melihat hal tersebut sebagai strategi investasi di depan (capex-forward strategy).
Menurutnya, tekanan profitabilitas saat ini merupakan proses alami untuk membangun fondasi bisnis yang lebih kokoh di masa depan.
“Ini bukan kerugian. Ini adalah Cost of Growth, harga yang harus dibayar untuk masa depan yang lebih besar,” ujarnya tegas.
Ia memastikan dana segar Rp2,5 triliun tersebut bukan utang konsumtif atau pasif. Modal kerja ini digunakan secara produktif untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan yang menjadi tulang punggung pendapatan perseroan.
Di tengah volatilitas pasar, WIFI sebenarnya telah mendapatkan validasi internasional. Raksasa telekomunikasi Jepang, Nippon Telegraph and Telephone East Corporation (NTT East), resmi masuk sebagai pemegang saham di anak usaha IJE sejak Juli 2025.
“Kehadiran NTT East bukan sekadar kemitraan bisnis. Ini adalah stempel kualitas terhadap aset dan prospek jangka panjang Surge,” lanjut Shannedy.
Meski demikian, dampak finansial dari kemitraan strategis ini tidak bisa instan. Shannedy menyebut proses sinergi operasional dan transfer teknologi membutuhkan masa inkubasi sekitar 6 hingga 12 bulan sebelum tercermin dalam laporan keuangan.
Hal inilah yang membuat pasar belum sepenuhnya memperhitungkan efek positif kemitraan NTT East ke dalam valuasi saham saat ini.
Shannedy menilai koreksi harga saham lebih mencerminkan sikap wait-and-see investor. Pelaku pasar menunggu bukti nyata konversi beban bunga menjadi pertumbuhan pendapatan dan peningkatan Return on Equity (ROE).
Saat ini, perusahaan memposisikan diri dalam fase "menanam" paling agresif. Dengan pendanaan jumbo dan dukungan mitra global, WIFI tengah mempersiapkan kapasitas jaringan besar-besaran.
Shannedy optimis fase ini akan segera berganti menjadi masa "panen raya" pendapatan di kuartal-kuartal mendatang.
"Kami meminta investor tetap fokus pada fundamental yang justru semakin kuat dan prospek jangka panjang yang jauh lebih cerah,” tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar