periskop.id - PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melaporkan lonjakan pendapatan usaha bersih hingga 100,99% menjadi Rp1,01 triliun dalam sembilan bulan pertama 2025. Capaian ini didorong oleh ekspansi agresif dan penetrasi layanan internet rakyat yang semakin masif di berbagai wilayah.
Berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan tersebut naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang hanya tercatat Rp504,95 miliar.
Pertumbuhan pendapatan ini diiringi dengan efisiensi biaya pokok pendapatan yang terjaga di angka Rp325,42 miliar. Alhasil, laba bruto perusahaan melesat 124,16% menyentuh angka Rp689,48 miliar.
Segmen telekomunikasi menjadi tulang punggung utama kinerja perseroan. Sektor ini menyumbang pendapatan sebesar Rp739,44 miliar atau setara 72,77% dari total pendapatan sebelum potongan.
Sementara itu, lini bisnis periklanan tetap memberikan kontribusi stabil sebesar Rp276,67 miliar atau 27,23% dari total kue pendapatan.
Efisiensi operasional juga terlihat dari beban umum dan administrasi yang terkendali di level Rp155,42 miliar. Ditambah pendapatan lain-lain, laba usaha WIFI per 30 September 2025 sukses menembus Rp574,24 miliar, naik 127,18% secara tahunan (year on year).
Kinerja positif ini berdampak langsung pada bottom line. Laba bersih periode berjalan tercatat sebesar Rp330,18 miliar, tumbuh 108,13% dibandingkan periode tahun lalu yang sebesar Rp158,64 miliar.
Dari total laba tersebut, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 71,03% menjadi Rp260,09 miliar. Hal ini mengerek laba per saham dasar menjadi Rp105,54 per lembar, jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya di level Rp64,54.
Tak hanya profitabilitas, neraca keuangan WIFI juga mengalami penguatan signifikan. Total aset perseroan meroket 331,32% menjadi Rp12,54 triliun dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar Rp2,907 triliun.
Ekuitas grup juga meningkat tajam 749,90% menjadi Rp8,18 triliun. Rasio ekuitas terhadap total aset kini mencapai 65,28%, yang menegaskan struktur permodalan perseroan sangat solid.
Posisi liabilitas tercatat naik menjadi Rp4,35 triliun, namun rasionya terhadap aset tetap sehat di angka 34,72%. Rasio pengungkit (Gearing Ratio) bahkan berada di level negatif 0,17, menandakan posisi kas perusahaan lebih besar daripada utang.
Tinggalkan Komentar
Komentar