periskop.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menepis kabar miring mengenai pembatalan komitmen perjanjian terkait non-tariff barrier antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Ia menegaskan proses negosiasi kedua negara masih berjalan di jalur yang tepat.
"Update AS, tim akan berangkat minggu depan dan akan mefinalisasi sesuai dengan joint statement yang tertanggal 22 Juli," kata Airlangga saat ditemui awak media di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (12/12).
Pemerintah saat ini tengah fokus mematangkan pembahasan tarif resiprokal. Pengiriman delegasi khusus ke Negeri Paman Sam pekan depan bertujuan mempercepat penyelesaian dokumen kesepakatan tersebut.
Airlangga memastikan dirinya akan turut serta dalam rombongan negosiasi. Kehadiran pejabat setingkat menteri diharapkan mampu memuluskan pembicaraan tingkat tinggi terkait hambatan perdagangan ini.
Terkait keterlibatan kepala negara, Airlangga menyebut Presiden Prabowo Subianto tidak akan ikut dalam pertemuan teknis lanjutan ini. Kesepakatan strategis di level pimpinan antara Prabowo dan Presiden Donald Trump telah rampung sebelumnya.
"Saya akan berangkat juga. Antara Pak Presiden Prabowo dan Presiden Trump sudah selesai. Dan itu sudah bagian dari joint statement kemarin," terangnya.
Substansi isu non-tariff barrier sebenarnya tinggal menunggu proses administrasi. Hambatan utama saat ini hanyalah ketiadaan tanda tangan resmi pada dokumen final yang telah disepakati secara prinsip.
"Non-tariff barrier tinggal ditulis saja. Yang jadi masalah karena belum ditandatangan," imbuh Airlangga.
Pemerintah memasang target ambisius dalam penyelesaian legal drafting. Airlangga optimistis seluruh proses perundingan dokumen hukum dapat tuntas pada Desember 2025 ini.
"Pokoknya harapannya kita bisa selesaikan perundingan legal drafting-nya di bulan Desember ini," tegasnya.
Sebagai konteks, isu perdagangan RI-AS memanas setelah Reuters melaporkan pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait rencana penerapan tarif 19 persen untuk produk asal Indonesia. Angka ini merujuk pada perjanjian baru kedua negara.
Trump menilai kesepakatan anyar ini vital guna memperbaiki neraca perdagangan AS. Ia berambisi menekan defisit perdagangan dengan memberlakukan aturan main baru bagi mitra dagangnya.
Tekanan dagang Washington tidak hanya menyasar Indonesia. Uni Eropa bahkan telah menyiapkan skenario balasan jika pembicaraan dagang dengan AS menemui jalan buntu jelang tenggat waktu kenaikan tarif impor.
Tinggalkan Komentar
Komentar