periskop.id - Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menegaskan komitmen untuk menjaga transparansi dan keterbukaan di pasar modal. Termasuk dalam merespons metodologi terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait free float saham di Indonesia.
Dalam hal ini, BEI melalui perwakilannya telah mengirimkan surat resmi ke MSCI untuk menyampaikan concern terkait perlakuan yang diberikan kepada pasar modal Indonesia.
“Kami menghormati kewenangan index provider, namun kami berharap metodologi yang diterapkan berlaku universal dan non-diskriminatif,” ujar Jeffrey saat ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (17/12).
Indonesia telah menerapkan kriteria free float yang lebih ketat dibandingkan beberapa bursa lain. Misalnya, kepemilikan di atas 5% oleh satu pihak tidak dihitung sebagai free float. Sementara di beberapa negara lain batasnya bisa lebih dari 10%. Meski demikian, MSCI masih melakukan kajian terkait isu ini.
“Ekspektasi kami sederhana, metodologi MSCI berlaku secara universal dan tidak diskriminatif,” tambahnya.
Di sisi lain, Jeffrey menyoroti capaian positif pasar modal Indonesia. Hingga Desember 2025, jumlah investor aktif telah menembus 20,4 juta orang, dengan lebih dari 5,1 juta investor baru sepanjang tahun ini. Capaian tersebut menjadi rekor tertinggi dalam sejarah pasar modal Indonesia, dengan lonjakan didorong oleh berbagai produk investasi, termasuk saham dan reksa dana.
Kemudian, BEI juga membuka kemungkinan evaluasi kebijakan papan pemantauan khusus, termasuk peninjauan terhadap saham yang sempat masuk FCA (Foreign Capital Access) serta keberadaan liquidity provider, guna meningkatkan likuiditas dan pendalaman pasar.
“Kami terbuka untuk seluruh pihak yang aktif di pasar modal, dan siap mendukung pertumbuhan investor serta perusahaan yang ingin memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan,” terang Jeffrey.
Dengan pencapaian jumlah investor yang terus bertambah dan mekanisme perdagangan yang semakin efisien, Bursa Efek Indonesia menegaskan posisi strategisnya sebagai salah satu pasar modal terbesar di Asia Tenggara.
Tinggalkan Komentar
Komentar