periskop.id - Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan Rabu (17/12) seiring penguatan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global, khususnya Amerika Serikat. Rupiah sempat menguat 10 poin. Namun berbalik melemah, dan akhirnya ditutup melemah 16 poin di Rp16.694 per dolar AS, dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.691.
“Untuk perdagangan besok (18/12), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.690- Rp16.720,” ulas Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Rabu (17/12).
Ibrahim nmenjelaskan, dari eksternal ada data ekonomi AS yang beragam pada hari Selasa. Terutama data penggajian non-pertanian dan tingkat pengangguran yang lebih tinggi. Tingkat pengangguran AS mencapai level tertinggi dalam empat tahun, memicu kekhawatiran terhadap perekonomian.
Tanda-tanda pendinginan ekonomi AS semakin diperkuat oleh data indeks manajer pembelian (PMI) yang lebih lemah dari perkiraan untuk bulan Desember, sementara data penjualan ritel yang tertunda untuk bulan Oktober juga menunjukkan perlambatan pertumbuhan dibandingkan bulan sebelumnya.
Data yang lemah ini muncul di tengah kekhawatiran yang masih ada mengenai tingkat likuiditas di pasar AS, terutama setelah Federal Reserve melanjutkan aktivitas pembelian obligasi pemerintah, yang disebut "pelonggaran kuantitatif," pada bulan Desember.
“Fokus sekarang tertuju pada data inflasi indeks harga konsumen (CPI) yang akan datang, yang akan dirilis pada hari Kamis, dan akan di pantaua secara cermat untuk setiap tanda pendinginan inflasi sehingga mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang ekonomi terbesar di dunia,” ujar Ibrahim.
Kemudian, pada hari Selasa, Trump memerintahkan blokade terhadap semua kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang masuk dan keluar Venezuela, menambahkan bahwa ia sekarang menganggap penguasa negara itu sebagai organisasi teroris asing.
Dari dalam negeri, Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga acuan, BI Rate, di level 4,75% pada Desember 2025. Sementara itu, suku bunga deposit facility tetap bertahan di 3,75% dan suku bunga lending facility di 5,5%.
Keputusan ini konsisten dengan prakiraan inflasi tahun 2025 dan 2026 yang tetap terjaga rendah dalam sasaran 2,5±1%, upaya mempertahankan stabilitas nilai tukar Rupiah yang sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, serta sinergi untuk turut memperkuat pertumbuhan ekonomi.
“BI perlu mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur terakhir tahun 2025, sembari tetap waspada dan siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Ibrahim.
Hal itu mempertimbangkan pelambatan inflasi dari 2,86% (yoy) menjadi 2,72% (yoy) pada November 2025. Tingkat inflasi ini juga masih berada di kisaran atas target BI sebesar 1,5-3,5% dan relatif tinggi dibandingkan awal tahun.
“Kombinasi penurunan Fed Funds Rate oleh The Fed dan keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga kebijakan pada RDG November 2025 telah mendorong masuknya aliran modal asing ke Indonesia,” tandas Ibrahim.
Tinggalkan Komentar
Komentar