periskop.id - Saham PT Superbank Indonesia Tbk (SUPA) kembali sentuh auto reject atas (ARA) pada perdagangan hari ini, Kamis 18 Desember 2025. Saham SUPA naik 24,68% ke posisi 985.
Pengamat Pasar Modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai, pergerakan saham SUPA saat ini menegaskan euforia pasar terhadap saham ini berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan awal.
“Kenaikan agresif sejak hari pertama hingga hari kedua tersebut membuka peluang teknikal terjadinya ARA beruntun hingga hari keempat, terutama dalam kondisi pasokan saham yang masih sangat terbatas,” kata Hendra kepada Periskop, Kamis (18/12).
Struktur IPO SUPA dengan free float awal yang relatif kecil, dikombinasikan dengan tingkat oversubscription yang sangat tinggi, membuat tekanan jual nyaris tidak terlihat di awal perdagangan. Selama antrian beli masih dominan dan belum muncul aksi distribusi dari investor awal, pergerakan harga berpotensi terus terkunci di batas atas.
“Dalam jangka sangat pendek, potensi ARA lanjutan tetap terbuka karena saham SUPA masih berada pada fase price discovery pasca-IPO, di mana harga belum sepenuhnya mencerminkan valuasi fundamental, melainkan sentimen dan ekspektasi pertumbuhan,” jelas Hendra.
Secara teknikal, Hendra menjelaskan pola seperti ini lazim terjadi pada saham IPO dengan permintaan ekstrem, di mana reli bisa berlangsung 3–5 hari berturut-turut. Namun, semakin panjang deret ARA, semakin tinggi pula risiko koreksi tajam ketika keseimbangan permintaan dan penawaran mulai berubah, khususnya saat investor jangka pendek mulai mengunci keuntungan.
Bagaimana Rekomendasinya?
Dari sisi strategi dan rekomendasi, saham SUPA saat ini lebih tepat diposisikan sebagai saham high risk–high return trading play. Investor yang telah masuk di harga awal disarankan menerapkan strategi trailing stop atau take profit bertahap untuk menjaga keuntungan dari potensi pembalikan arah yang tiba-tiba.
Sementara bagi investor yang belum memiliki posisi, membeli di tengah fase ARA beruntun perlu kehati-hatian ekstra, karena secara statistik risiko pullback akan meningkat setelah euforia mereda.
“Kenaikan cepat tidak selalu diikuti koreksi langsung, tetapi volatilitas cenderung melonjak begitu antrean beli mulai menipis,” tutur Hendra.
Secara lebih luas, fenomena SUPA juga mencerminkan minat pasar yang kembali kuat terhadap saham bank digital, terutama yang dinilai memiliki valuasi IPO lebih masuk akal dibanding pendahulunya. Meski demikian, pasar kini semakin selektif.
Bank digital tetap dituntut menunjukkan pertumbuhan kredit yang berkualitas, efisiensi biaya dana, serta peta jalan menuju profitabilitas. Dalam konteks ini, reli saham SUPA di fase awal lebih merepresentasikan optimisme dan momentum, sementara penilaian fundamental baru akan benar-benar diuji pada rilis kinerja keuangan berikutnya.
“Dengan demikian, potensi ARA hingga hari keempat masih terbuka, tetapi investor perlu menyadari bahwa setiap tambahan hari ARA juga berarti peningkatan risiko koreksi yang lebih dalam,” kata Hendra.
Sebagai catatan, Hendra menegaskan bahwa momentum bisa membawa harga lebih tinggi dalam waktu singkat. Namun disiplin strategi tetap menjadi kunci dalam menghadapi saham IPO yang bergerak sangat agresif seperti SUPA.
Tinggalkan Komentar
Komentar