periskop.id - Saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) kembali terkoreksi hingga sentuh auto reject bawah (ARB) pada perdagangan hari ini, Selasa 23 Desember 2025. SUPA turun 14,76% ke posisi 895, melanjutkan pelemahan pada perdagangan sebelumnya.
Mengawali pekan ini, saham SUPA turun 14,63% ke Rp 1.050 pada perdagangan Senin (22/12) kemarin. Sebelumnya, saham SUPA melejit hingga sentuh auto reject atas (ARA) pada pencatatan perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis (18/12) pekan lalu.
Saat itu, saham SUPA naik 24,68% ke posisi 985 sesaat setelah perdagangan dibuka. Penguatan berlanjut pada Jumat (19/12), di mana saham SUPA menembus ARA hingga ke level 1.230 per lembar saham.
Secara teknikal, Pengamat Pasar Modal sekaligus founder Republik Investor, Hendra Wardana menjelaskan pola seperti ini lazim terjadi pada saham IPO dengan permintaan ekstrem, di mana reli bisa berlangsung 3–5 hari berturut-turut. Namun, semakin panjang deret ARA, semakin tinggi pula risiko koreksi tajam ketika keseimbangan permintaan dan penawaran mulai berubah, khususnya saat investor jangka pendek mulai mengunci keuntungan.
Hendra menegaskan bahwa momentum bisa membawa harga lebih tinggi dalam waktu singkat. Namun disiplin strategi tetap menjadi kunci dalam menghadapi saham IPO yang bergerak sangat agresif seperti SUPA.
“Secara statistik risiko pullback akan meningkat setelah euforia mereda. Kenaikan cepat tidak selalu diikuti koreksi langsung, tetapi volatilitas cenderung melonjak begitu antrean beli mulai menipis,” jelas Hendra.
Secara lebih luas, fenomena SUPA juga mencerminkan minat pasar yang kembali kuat terhadap saham bank digital, terutama yang dinilai memiliki valuasi IPO lebih masuk akal dibanding pendahulunya. Meski demikian, pasar kini semakin selektif.
Bank digital tetap dituntut menunjukkan pertumbuhan kredit yang berkualitas, efisiensi biaya dana, serta peta jalan menuju profitabilitas. Dalam konteks ini, reli saham SUPA di fase awal lebih merepresentasikan optimisme dan momentum, sementara penilaian fundamental baru akan benar-benar diuji pada rilis kinerja keuangan berikutnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar