periskop.id - Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi, mulai menyoroti Bursa Efek Indonesia menjelang akhir masa jabatan Direksi 2022-2026. Di tengah proses penjaringan dan pemilihan jajaran direksi baru untuk periode 2026-2030, Inarno menyampaikan sejumlah penekanan strategis yang dinilai krusial bagi masa depan pasar modal nasional.
"Pergantian kepemimpinan di tubuh BEI tidak sekadar dipandang sebagai agenda rutin organisasi, melainkan sebagai titik balik untuk memperkuat kualitas pasar modal Indonesia," ucap Inarno dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Desember 2025, Jumat (9/1).
Inarno menilai, arah kebijakan dan kepemimpinan bursa ke depan akan sangat menentukan daya saing pasar di tengah meningkatnya kompleksitas transaksi, percepatan digitalisasi, serta derasnya arus partisipasi investor.
Pihaknya menaruh harapan besar agar seluruh tahapan pencalonan hingga pemilihan Direksi BEI berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Lebih dari itu, proses tersebut diharapkan menjunjung tinggi prinsip akuntabilitas dan tata kelola yang baik.
“Yang terpenting, prosesnya berjalan sesuai prosedur dan tetap menjaga akuntabilitas,” ujarnya.
Di luar aspek prosedural, Inarno menekankan Direksi BEI periode mendatang akan dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan periode sebelumnya. Pasar modal kini tidak hanya dituntut untuk tumbuh secara ukuran, tetapi juga secara kualitas. Dalam konteks ini, integritas menjadi fondasi utama yang tidak dapat ditawar.
Menurut Inarno, meningkatnya volume dan variasi transaksi menuntut sistem pengawasan perdagangan yang lebih kuat dan adaptif. Pengawasan yang efektif diperlukan untuk mencegah praktik-praktik perdagangan yang tidak wajar serta memastikan seluruh mekanisme pasar berjalan secara adil dan transparan, sehingga kepercayaan investor dapat terus terjaga.
Sejalan dengan itu, OJK juga mendorong pendalaman pasar yang lebih menyeluruh. Pendalaman tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah emiten atau produk, tetapi juga pada penguatan sisi permintaan agar aktivitas pasar tumbuh secara seimbang.
"Dengan struktur pasar yang lebih dalam, likuiditas diharapkan semakin solid dan berkelanjutan," sambungnya.
Pendalaman pasar ini, lanjut Inarno, mencakup berbagai langkah strategis, mulai dari pengembangan produk baru, peningkatan kualitas penawaran umum perdana saham, hingga penguatan likuiditas di pasar sekunder melalui peningkatan porsi saham yang beredar di publik. Selain itu, perluasan basis investor, khususnya investor institusi domestik dan global, menjadi agenda penting yang harus terus didorong.
“Pendalaman pasar harus dilakukan dari dua sisi, baik supply maupun demand. Itu mencakup pengembangan produk, peningkatan kualitas IPO unggulan, penguatan free float, hingga peningkatan jumlah investor institusi,” jelas Inarno.
Tak kalah penting, Inarno juga menyoroti kesiapan infrastruktur teknologi informasi BEI. Di era digital, keandalan sistem perdagangan dan keamanan siber menjadi aspek krusial yang berpengaruh langsung terhadap stabilitas pasar. OJK menilai, meningkatnya ketergantungan pada sistem digital harus diimbangi dengan penguatan perlindungan terhadap risiko gangguan teknis maupun serangan siber.
"Karena itu, Direksi BEI ke depan diharapkan mampu memastikan sistem perdagangan yang tidak hanya efisien, tetapi juga tangguh dan aman. Kesiapan infrastruktur ini dinilai menjadi salah satu prasyarat utama dalam menjaga kepercayaan pelaku pasar di tengah dinamika global yang semakin cepat berubah," tambahnya.
Menutup arahannya, Inarno menegaskan bahwa OJK akan terus memperkuat kolaborasi dengan BEI sebagai mitra strategis dalam pengembangan pasar modal nasional. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan pasar modal Indonesia yang lebih dalam, efisien, berintegritas, serta memiliki ketahanan tinggi terhadap berbagai tantangan.
“OJK akan terus bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia untuk mewujudkan pasar modal yang semakin kuat dan berdaya saing,” pungkas Inarno.
Tinggalkan Komentar
Komentar