periskop.id - Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Nurul Ichwan menegaskan keikutsertaan Indonesia dalam World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos memiliki kontribusi penting dalam menarik investasi, meski dampaknya tidak dapat diukur secara langsung dalam bentuk angka investasi tertentu.
Nurul menjelaskan bahwa kegiatan promosi investasi di forum internasional seperti WEF merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menekan biaya promosi dan memperkuat citra Indonesia di mata investor global. Menurutnya, WEF bukan satu-satunya ajang promosi, melainkan melengkapi berbagai kegiatan serupa yang dilakukan pemerintah di sejumlah negara, seperti Jepang dan China.
"Jadi kalau misalnya mau ditarik garis langsung, berapa sih yang pada akhirnya bisa dimengaruhi di kegiatan WEF ini untuk mereka bisa berinvestasi di Indonesia, itu agak sulit. Tapi kalau bisa dibilang ada kontribusinya atau tidak, saya yakin, kami yakin sangat ada," kata Nurul dalam acara Coffe Morning Danantara, Jakarta, Jumat (9/1).
Ia menerangkan proses pengambilan keputusan investasi tidak terjadi secara instan. Kehadiran pelaku usaha di Davos umumnya diikuti dengan penugasan kepada jajaran manajemen regional untuk mendalami peluang investasi di Indonesia, termasuk di sektor hilirisasi. Pada tahap inilah pemerintah kemudian berperan aktif melakukan tindak lanjut dan fasilitasi kepada calon investor.
"Saya dengar, misalnya kemarin saya dengar tuh, Menteri Investasi di Davos dan saya diskusi dengan beliau, mereka punya pulang untuk milirisasi misalnya. Coba kamu tolong dalami, akhirnya mereka akan mendalaminya tentang itu. Nah, dari situlah nanti kemudian kita akan memfasilitasi, kita tangkap bola, kita tangkap kemudian kita fasilitasi terus," paparnya.
Ia menambahkan bahwa investasi selama ini selalu menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Target realisasi investasi yang diberikan Presiden, baik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo maupun Presiden Prabowo Subianto, disebutnya selalu berhasil dicapai. Untuk tahun ini, pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp1.905 triliun, dan Nurul optimistis target tersebut dapat terpenuhi.
"Dan tahun 2026 ini, kami diberi target Rp2.100 Triliun untuk realisasi investasi. Dan dimulai dengan kegiatan Davos ini.
Nah, dari beberapa kegiatan yang kita ikuti, hampir tidak pernah absent kita dalam kegiatan Davos. Karena kita melihat bahwa ada kontribusi positif. Menyuarakan, menggabarkan, dan mensosialisasikan tentang Indonesia," terang Nurul.
Dalam forum tersebut, pemerintah juga secara aktif mempromosikan Danantara sebagai sovereign wealth fund Indonesia. Nurul menyebut Danantara menjadi salah satu fokus utama sosialisasi karena dinilai memiliki daya tarik kuat bagi investor global.
Ia pun menekankan bahwa Indonesia kini memiliki sovereign wealth fund yang disebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia, didukung oleh populasi besar, sumber daya alam melimpah, pasar domestik yang kuat, serta ekonomi yang terus tumbuh.
"Nah, dari situlah karenanya kemudian, kita merasa bahwa forum ini pasti punya kontribusi pengambilan keputusan untuk menempatkan Indonesia sebagai salah satu prioritas utama investasi mereka ke depannya di Indonesia," tutup Nurul.
Tinggalkan Komentar
Komentar