periskop.id - Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Nurul Ichwan menyatakan para investor global sejauh ini tidak terlalu mempersoalkan pelebaran defisit anggaran Indonesia. Menurutnya, fokus utama investor lebih tertuju pada potensi pasar dan daya saing ekonomi nasional.
"Nah bagi mereka, mereka kan bermainnya di sisi market yang ada di Indonesia, kemampuan beli masyarakatnya, kemudian juga kemampuan dia untuk bisa menciptakan ekspor gitu kan," kata Nurul kepada media, Jakarta, Jumat (9/1).
Nurul menjelaskan dalam mengambil keputusan investasi, pelaku usaha melihat peluang pasar di Indonesia, termasuk besarnya pasar domestik, daya beli masyarakat, serta kemampuan Indonesia dalam menciptakan basis ekspor. Faktor-faktor tersebut dinilai lebih relevan bagi investor dibandingkan isu pengelolaan keuangan negara seperti defisit anggaran.
"Persoalan kemudian apakah ini nanti akan diserap dengan proyek pemerintah, dengan anggaran pemerintahnya atau tidak, itu alternatif dari penyerapan pasarnya. Jadi tidak selalu melulu negara yang harus menyerap produk-produk mereka," terang dia.
Terkait daya beli masyarakat dan rendahnya rasio pajak, Nurul menjelaskan bahwa hal tersebut berkaitan dengan tingkat kompleksitas industri nasional. Ia menyebut semakin kompleks dan maju struktur industri suatu negara, semakin besar pula potensi pajak yang dapat dihimpun.
Sementara itu, Indonesia masih berada dalam tahap pengembangan struktur industri, sehingga kapasitas penyerapan pajak belum sepenuhnya optimal.
"Nah artinya mereka juga tahu bahwa ini bukan sesuatu yang bisa di-judge secara final bahwa Indonesia sudah pada level yang terbaiknya untuk bisa menyerap pajak. Tetapi ini adalah sesuatu yang terus berkembang," paparnya.
Meski demikian, Nurul menegaskan kondisi tersebut tidak dinilai negatif oleh investor. Sebaliknya, investor memahami bahwa perekonomian Indonesia masih terus berkembang dan belum mencapai titik maksimalnya dalam menghasilkan penerimaan pajak.
"Tapi fakta yang mereka bisa lihat adalah bahwa Indonesia semakin bisa menunjukkan perannya secara global untuk tren-tren ke depan yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi. Misalnya kalau kita bicara tentang energi berhubungan dengan hidrogen misalnya, apapun teknologi yang digunakan, mau pakai air laut kah, mau pakai air di darat kah, mau pakai apapun Indonesia bisa melakukan itu. Dan itu sudah tersedia gitu," jelasnya.
Menurut Nurul, kombinasi potensi sumber daya, efisiensi faktor produksi, serta kerangka regulasi yang semakin kondusif membuat Indonesia tetap menarik bagi investor global. Karena itu, isu defisit anggaran tidak menjadi faktor utama dalam pertimbangan investasi mereka.
"Jadi mereka lebih memperhitungkan sebenarnya pada perhitungan-perhitungan ekonomi mereka yang berhubungan dengan faktor-faktor produksi yang menyebabkan bagaimana harganya kemudian bisa bersaing di market global dan juga kemampuan Indonesia menciptakan regulasi yang kondusif terhadap investasi mereka," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar