periskop.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan bahwa pasar saham tanah air berhasil menorehkan sejarah baru dengan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High), kendati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi mingguan di tengah dinamika perdagangan yang aktif.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menilai capaian tersebut menjadi indikator bahwa kepercayaan pelaku pasar terhadap bursa domestik masih sangat kuat.
"Capaian tersebut mencerminkan optimisme investor yang masih terjaga di tengah fluktuasi pasar," tulis Kautsar dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu (24/1).
Selama sepekan perdagangan periode 19 hingga 23 Januari, IHSG memang terkoreksi sebesar 1,37%. Indeks ditutup pada level 8.951,010, turun dari posisi pekan sebelumnya di angka 9.075,406.
Namun, momen bersejarah terjadi pada Selasa (20/1). Saat itu, IHSG sempat melambung hingga menyentuh level 9.134,700, level tertinggi yang pernah dicapai sepanjang sejarah pasar modal Indonesia.
Aktivitas transaksi pun kian bergairah. BEI mencatat rata-rata volume transaksi harian melonjak tajam sebesar 9,32% menjadi 65,73 miliar lembar saham, dari sebelumnya 60,13 miliar lembar saham.
Kenaikan volume ini diikuti oleh peningkatan rata-rata nilai transaksi harian sebesar 3,59%. Nilai transaksi menyentuh angka Rp33,85 triliun, naik dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp32,67 triliun.
Kautsar menganalisis data tersebut mencerminkan perilaku investor yang semakin selektif namun tetap agresif dalam memanfaatkan momentum pasar.
Meski demikian, rata-rata frekuensi transaksi harian mengalami sedikit penurunan sebesar 2,66% menjadi 3,75 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar bursa (market cap) juga turut tergerus 1,62% menjadi Rp16.244 triliun.
Di tengah volatilitas ini, investor asing justru menunjukkan nafsu belanja yang tinggi. Pada perdagangan akhir pekan, asing mencatatkan beli bersih (net buy) senilai Rp759 miliar.
Secara akumulatif sepanjang tahun ini, arus modal asing yang masuk ke pasar saham Indonesia tercatat positif dengan nilai beli bersih mencapai Rp4,05 triliun.
"Capaian tersebut menunjukkan meskipun pasar bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, minat dan keyakinan investor terhadap prospek pasar saham Indonesia tetap solid," pungkas Kautsar.
Tinggalkan Komentar
Komentar