periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Senin 16 Maret 2026 diperkirakan belum cukup tenaga untuk bangkit. Pasalnya, investor akan cenderung bersikap wait and see jelang libur panjang dalam raya hari raya Nyepi dan Idulfitri 2026 yang jatuh pekan ini.
“Secara teknikal, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis 7.000,” ulas tim tiset Phintraco Sekuritas, Senin (16/3).
Beberapa saham pilihan Phintraco Sekuritas yang menarik dicermati pada perdagangan pekan ini, antara lainPTBA, JPFA, CPIN, ULTJ, LSIP dan ADMR.
Sebelumnya, IHSG ditutup melemah pada level 7.137,21 atau turun 3,05% pada perdagangan Jumat (13/3). Pelemahan ini dipicu kekhawatiran investor bahwa ketegangan geopolitik antara AS dan Iran dapat membuat harga minyak mentah bertahan di level tinggi lebih lama dari perkiraan, sehingga berpotensi mendorong kenaikan inflasi serta memperlebar defisit APBN.
Menteri Keuangan RI menyatakan bahwa opsi pemerintah untuk memperlebar batas defisit APBN di atas 3% masih dalam tahap pembahasan. Pemerintah juga terus menghitung dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap APBN dan akan mempertimbangkan konsekuensi fiskalnya secara matang apabila opsi tersebut benar-benar ditempuh.
Sentimen negatif turut datang dari Amerika Serikat yang meluncurkan investigasi perdagangan baru terhadap 60 negara untuk menentukan apakah mereka gagal membatasi impor barang yang diproduksi dengan kerja paksa.
Pasal 301 mengizinkan pemerintah AS mengenakan tarif terhadap negara-negara yang terbukti melakukan praktik perdagangan tidak adil tanpa memerlukan otorisasi tambahan dari Kongres. Penyelidikan ini menyusul investigasi yang dirilis pada Rabu (11/3) terkait kelebihan kapasitas industri di 16 negara, termasuk Tiongkok, Australia, Indonesia, Jepang, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Swiss, dan Thailand.
Di pasar global, indeks-indeks di Wall Street juga ditutup melemah pada perdagangan Jumat (13/3), memperpanjang pelemahan secara mingguan. Kenaikan harga minyak mentah yang berlanjut menjadi sentimen negatif karena memicu kekhawatiran terhadap potensi stagflasi. Harga minyak Brent tercatat bertahan di atas level US$100 per barel selama dua hari berturut-turut, sementara minyak WTI menguat di atas US$98 per barel pada perdagangan 13 Maret.
“Di sisi lain, harga emas melemah akibat penguatan dolar AS, meningkatnya kekhawatiran inflasi, serta memudarnya harapan penurunan suku bunga,” ulas riset yang sama.
Untuk menstabilkan pasar energi, pemerintah AS untuk sementara mengizinkan pembelian minyak mentah Rusia yang sudah berada di perairan internasional. Diperkirakan terdapat sekitar 124 juta barel minyak asal Rusia yang tengah berada dalam perjalanan di laut di sekitar 30 lokasi di seluruh dunia per 12 Maret 2026, jumlah yang setara dengan pasokan sekitar lima hingga enam hari.
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap pasar energi diperkirakan masih akan mempengaruhi pergerakan indeks bursa global dan arah kebijakan moneter. The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75% pada pertemuan 18 Maret. Investor global juga akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dari The Fed untuk melihat bagaimana bank sentral tersebut menilai risiko inflasi di tengah kondisi geopolitik saat ini.
Dari domestik, pelaku pasar menantikan kebijakan yang akan ditempuh pemerintah untuk merespons kenaikan harga minyak mentah. Presiden Prabowo menyatakan pemerintah lebih cenderung melakukan penghematan dan efisiensi anggaran dibandingkan memperlebar defisit APBN.
Presiden menilai masih terdapat ruang efisiensi karena pemerintah masih menghadapi masalah kebocoran dan inefisiensi anggaran. Selain itu, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia diperkirakan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada 17 Maret.
Tinggalkan Komentar
Komentar