periskop.id - Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan kuatnya ketahanan pasar domestik. Penguatan indeks ke level 7.307 menjadi sinyal positif kemampuan pasar menahan tingginya sentimen negatif eksternal.

"Ini mencerminkan bahwa aktivitas investor masih cukup solid, dengan rotasi sektor menjadi kunci penggerak indeks," ucap Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana kepada periskop.id saat dihubungi di Jakarta, Jumat (10/4).

Nilai transaksi perdagangan pada penutupan Kamis (9/4) dilaporkan mencapai angka fantastis Rp16,30 triliun. Catatan ini membuktikan aktivitas para pelaku pasar di bursa nasional tetap solid.

Hendra menyoroti terjadinya pergeseran minat investor menuju saham-saham defensif yang berbasis konsumsi domestik. Sektor konsumer primer tercatat menorehkan lonjakan hingga 1,99% seperti yang terjadi pada saham ERAA dan RALS.

Ia menjelaskan sektor finansial justru berbalik arah tampil sebagai penekan indeks utama lewat pelemahan 1,23%. Sejumlah saham perbankan raksasa seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan BBRI kompak merosot ke zona merah.

Tekanan kuat dari pasar global mayoritas bersumber dari eskalasi konflik geopolitik bersenjata di Timur Tengah. Memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, hingga Lebanon sukses mendongkrak harga minyak dunia mendekati USD98 per barel.

Lonjakan tajam harga komoditas energi tersebut sangat berpotensi memicu naiknya angka inflasi secara global. “Jika tekanan inflasi kembali meningkat, maka peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama akan semakin besar. Ini yang menjadi kekhawatiran pasar saat ini,” paparnya.

Pelemahan mayoritas bursa kawasan Asia turut memberikan sentimen negatif pada iklim perdagangan domestik. Nilai tukar rupiah yang makin tertekan di kisaran Rp17.090 per dolar AS mencerminkan tingginya risiko aliran modal keluar dalam jangka pendek.

Meski demikian, IHSG terbukti sukses bertahan di zona hijau berkat tangguhnya fundamental ekonomi di dalam negeri. Level teknikal penahan gejolak terpantau masih terjaga dengan aman di posisi 7.200 hingga 7.250.

Pergerakan indeks di hari terakhir perdagangan pekan ini diproyeksikan akan sangat bergantung pada dinamika pasar energi. "Perdagangan Jumat, pasar berpotensi bergerak cenderung mixed dengan kecenderungan volatile, mengikuti dinamika harga minyak dan perkembangan geopolitik," terangnya.

Ia pun merekomendasikan saham BRPT untuk membidik target harga 2.000 seiring kencangnya sentimen positif di sektor energi. Peluang rebound pada sektor media turut menempatkan saham SCMA di radar menarik dengan target 320.

Saham BIPI berpeluang melesat menyentuh level 280 karena terdorong kuat oleh tren kenaikan harga minyak mentah. Saham KPIG di sektor properti juga layak dicermati berkat terlihatnya akumulasi pembelian demi mengejar target 130.

Pelaku pasar diingatkan untuk tetap mewaspadai ancaman aksi ambil untung di tengah dinamika bursa yang naik-turun. "Strategi yang dapat diterapkan adalah trading buy dengan disiplin pada level support, mengingat kondisi pasar yang masih dipenuhi ketidakpastian global," tutupnya.

Disclaimer: Berita ini disajikan semata-mata sebagai informasi dan referensi, bukan merupakan ajakan, anjuran, atau paksaan untuk membeli maupun menjual saham tertentu. Segala keputusan transaksi dan risiko investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi pelaku pasar (investor).