Periskop.id - Lanskap keuangan Asia Tenggara mengalami perubahan drastis pada pertengahan tahun 2026. Indonesia baru saja mencatat tonggak sejarah yang suram dengan kehilangan statusnya sebagai pasar saham terbesar di kawasan ini. Posisi puncak tersebut kini resmi diambil alih oleh Singapura, sebagaimana dilaporkan oleh The Straits Times pada Rabu (20/5).

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg pada Selasa (19/5), total kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa Indonesia merosot lebih dari 30% dari titik puncaknya pada Januari lalu. 

Saat ini, nilai kapitalisasi pasar Indonesia berada di angka US$618 miliar. Di sisi lain, kapitalisasi pasar Singapura justru merangkak naik hingga menyentuh angka US$645 miliar.

Sentimen Negatif dan Tekanan Makroekonomi

Memburuknya posisi Indonesia tidak lepas dari kombinasi tekanan mata uang dan ketidakpastian kebijakan. Rupiah terus menyentuh serangkaian rekor terendah, sementara indeks acuan saham nasional terpuruk di posisi terbawah dibandingkan pasar global lainnya. 

Ketidakpastian ini diperparah oleh keputusan lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings dan Moody’s Ratings, yang secara kompak memangkas outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif.

Soh Chih Kai, manajer portofolio di Lion Global Investors, memberikan pandangannya mengenai situasi ini. Momentum saat ini mungkin belum berpihak pada Indonesia, namun ia menilai peluang pemulihan di masa depan tetap ada.

“Namun, hal ini memperkuat posisi relatif pasar Singapura, ketika arus modal terus memberi penghargaan pada kepastian di tengah ketidakpastian kebijakan global,” kata Soh.

Berbeda dengan Indonesia, pasar saham Singapura justru memanen keuntungan dari stabilitas ekonomi dan politik yang terjaga. Straits Times Index (STI) bahkan mencapai rekor tertinggi pekan ini karena investor cenderung mencari aset defensif di tengah volatilitas global yang dipicu oleh konflik di Iran.

Eksodus Modal Asing dan Tantangan Pemerintahan

Aksi jual masif di pasar saham Indonesia sepanjang tahun 2026 telah melenyapkan nilai hampir US$360 miliar. Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi Presiden Prabowo Subianto yang tengah berupaya mendorong target pertumbuhan ambisius dan memulihkan kepercayaan investor global.

Hingga Mei 2026, investor global tercatat telah menarik lebih dari US$4 miliar dari saham emerging markets Asia Tenggara, di mana Indonesia menyumbang lebih dari separuh total arus modal keluar tersebut. 

Keputusan MSCI untuk menghapus beberapa saham lokal, termasuk Barito Renewables Energy dan Dian Swastatika Sentosa dari indeksnya, diprediksi akan memicu arus keluar dana tambahan hingga 2 miliar dolar AS pada akhir Mei.

Carmen Lee, kepala riset ekuitas di OCBC, menyoroti kekuatan modal di Singapura sebagai pembeda utama.

“Kekayaan merupakan pendorong utama pertumbuhan laba, dan bersama dengan dolar Singapura yang kuat, kami memperkirakan lebih banyak dana akan mengalir ke pasar,” kata Lee.

Persoalan Transparansi dan Ancaman "Turun Kasta"

Selain masalah mata uang, Indonesia menghadapi persoalan struktural yang serius. Jayden Vantarakis, kepala riset ekuitas ASEAN di Macquarie Capital, menjelaskan kepada The Business Times pada Kamis (21/5), bahwa pelemahan rupiah yang dibarengi kekhawatiran terhadap prospek kebijakan telah mendorong penyusutan nilai transaksi.

Senada dengan hal tersebut, Shekhar Jaiswal selaku kepala riset ekuitas di RHB Bank, menekankan adanya masalah pada transparansi dan tata kelola. Indonesia dinilai menghadapi tantangan dari struktur kepemilikan yang tidak transparan serta tingkat free float (saham publik) yang rendah. 

Hal ini memicu peringatan dari penyedia indeks global, MSCI, mengenai potensi penurunan status Indonesia dari pasar "emerging" menjadi pasar "frontier".

Ancaman penurunan status ini didasari oleh kekhawatiran atas manipulasi pasar dan konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi. Sebagai respons, otoritas Indonesia telah mulai menggandakan batas minimum saham publik menjadi 15% guna menghindari penurunan status tersebut.

Apa yang Terjadi Berikutnya?

Para analis memperkirakan Singapura akan terus mempertahankan keunggulannya sebagai pusat keuangan kawasan selama tidak ada guncangan besar. 

Paul Chew, kepala riset Phillip Securities, menambahkan bahwa status Singapura memberikan keuntungan sekunder berupa aliran dana pasif yang lebih besar.

“Pasar ekuitas Singapura sedang menikmati re-rating dari masuknya modal ke pasar saham, stabilitas mata uang, suku bunga rendah, dan sektor perbankan yang signifikan, yang dapat bertindak sebagai lindung nilai terhadap kenaikan inflasi ketika suku bunga naik,” kata Chew.

Meski kondisi terlihat muram, tidak semua pihak pesimistis. William Simadiputra dari tim riset Indonesia di DBS justru melihat situasi ini sebagai peluang investasi kontrarian. 

Ia mencatat bahwa meski kepemilikan asing turun tajam, kualitas aset perbankan Indonesia masih terkendali dan konsumsi domestik tetap tangguh.

Menurut Simadiputra, dengan valuasi yang mendekati level terendah historis, Indonesia menawarkan titik masuk yang menarik bagi investor jangka panjang. 

Fokus pasar kini tertuju pada tinjauan MSCI bulan Juni mendatang, yang akan menentukan apakah reformasi pasar Indonesia cukup untuk mempertahankan kredibilitasnya di mata dunia.