Periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini, Senin 22 Juni 2026 berkutat di zona merah. Berdasarkan pantauan Periskop, IHSG turun 1,59 ke 6.080 saat berita ditulis. IHSG hari ini dibuka pada level 6.217 dan bergerak di rentang 6.226-6.079.

“Secara teknikal IHSG pada pekan ini diperkirakan konsolidasi pada kisaran 6100-6250,” ulas tim riset Phintraco Sekuritas, Senin (22/6).

Advertisement

Sebelumnya, IHSG ditutup menguat di level 6,177.14 atau naik 0,08% pada perdagangan Jumat (19/6). Sesuai dengan yang diperkirakan IHSG bergerak konsolidasi. Namun respon investor terhadap laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review cukup positif.

Dalam laporan tersebut, Indonesia masih masuk dalam kategori Emerging Market, namun Indonesia masih mencatatkan penilaian negatif dalam masalah transparansi kepemilikan saham dan perdagangan terkoordinasi yang menganggu pembentukan harga pasar yang wajar. 

Selain itu MSCI juga mencatat kurangnya informasi dalam bahasa Inggris bagi investor asing. Selanjutnya MSCI akan mengumumkan Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026. Sementara itu Rupiah melemah 0.06% di level Rp17,804/US$, seiring dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia akibat penguatan Dolar AS karena indikasi kenaikan suku bunga the Fed tahun ini. 

Dari dalam negeri, investor menanti data ekonomi yang akan dirilis pada pekan ini adalah M2 Money Supply (23/6). Selain itu investor juga menantikan pengumuman dari MSCI mengenai Annual Market Classification Review (24/6) untuk menentukan status Indonesia di Emerging Market.

“BEI berencana bertemu dengan MSCI untuk klarifikasi hasil MSCI Global Market Accessibility Review yang memberikan penilaian negatif pada kriteria Information Flow,” tulis riset yang sama.

Sementara, bursa Wall Street tutup karena libur Juneteenth pada Jumat (19/6). Mayoritas indeks di  bursa Eropa dan Asia ditutup melemah (19/6), karena investor meragukan perjanjian perdamaian AS-Iran dapat bertahan lama. Wakil Presiden AS mengatakan bahwa bantuan ekonomi apa pun untuk Iran akan bergantung pada kepatuhan negara tersebut terhadap ketentuan kesepakatan. Presiden Iran menggambarkan perjanjian itu sebagai bersyarat, dan menyetujui memorandum tersebut hanya setelah menerima jaminan bahwa hak-hak Iran akan dilindungi.

Dibukanya kembali lalu lintas Selat Hormuz akan menjadi fokus utama setelah AS dan Iran sepakat untuk mencabut blokade. Namun Iran menyatakan menutup kembali Selat Hormuz pada Jumat (19/6) karena sejumlah syarat dalam kesepakatan perdamaian dengan AS belum dipenuhi.

Investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi dari AS, termasuk indeks harga PCE,  durable goods orders, indeks sentimen konsumen Universitas Michigan, dan survei Fed regional. Indeks PCE inti diproyeksikan naik 0,3% MoM dari 0.2% MoM di April. Sebelumnya Fed menaikkan perkiraan inflasi PCE untuk tahun 2026 menjadi 3,6% dan 2,3% untuk tahun depan.  Proyeksi indeks PCE inti juga direvisi naik menjadi 3,3% tahun ini.