periskop.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama lembaga riset internasional OceanX resmi memulai ekspedisi laut dalam di perairan utara Sulawesi. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu wilayah paling terpencil dan jarang diteliti di Indo-Pasifik, sehingga ekspedisi ini menjadi momentum penting bagi pengembangan ilmu kelautan Indonesia.
Kepala BRIN Arif Satria menegaskan bahwa riset ini bukan sekadar eksplorasi ilmiah, melainkan bagian dari strategi kedaulatan pengetahuan maritim.
“Sebagai negara kepulauan dan pusat keanekaragaman hayati dunia, Indonesia harus memimpin sains kelautan di kawasan. Ekspedisi bersama OceanX bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memperkuat kemampuan bangsa dalam memetakan, memahami, dan mengelola laut dalam secara mandiri,” ujarnya dilansir dari Antara, Rabu (3/12).
Arif menekankan bahwa kekuatan riset maritim akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan transformasi blue economy Indonesia. Konsep ini menempatkan laut sebagai sumber daya strategis yang harus dikelola secara berkelanjutan, dengan riset sebagai pilar utama.
Dari pihak OceanX, Co-CEO sekaligus Chief Scientist Vincent Pieribone menyampaikan bahwa ekspedisi ini membuka peluang besar untuk memahami ekosistem laut dalam Indonesia.
“Gunung laut dapat membentuk arus, menjadi rumah bagi spesies langka, dan menjadi batu loncatan kehidupan di laut dalam. Dari ratusan gunung di perairan Indonesia, hanya sedikit yang telah dieksplorasi,” katanya.
Pieribone menambahkan, kolaborasi ini diharapkan memberi perspektif baru tentang bagaimana laut dalam Indonesia berkontribusi terhadap ekosistem global. Hal ini sejalan dengan temuan riset internasional yang menunjukkan bahwa gunung laut berperan penting dalam siklus karbon dan distribusi nutrien di samudra.
Ekspedisi dimulai dari Pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara, menggunakan kapal riset R/V OceanXplorer. Kapal ini dijadwalkan beroperasi pada 2–22 Desember 2025 dengan melibatkan 17 peneliti Indonesia, satu shiprider dari Pushidrosal TNI AL, serta petugas pengamanan dari Kementerian Pertahanan.
Tahap pertama penelitian akan fokus pada aspek geologi dan hidrotermal. Tim akan melakukan pemetaan resolusi tinggi, survei visual, serta profil dasar laut untuk memahami struktur vulkanik dan formasi tektonik. Data ini penting untuk menilai potensi bahaya geologi sekaligus peluang pemanfaatan sumber daya mineral laut dalam.
Tahap kedua akan menyoroti keanekaragaman hayati dan dinamika ekologi gunung laut. Teknologi canggih seperti ROV, kapal selam, analisis DNA lingkungan (eDNA), dan instrumen oseanografi akan digunakan untuk mengungkap kehidupan tersembunyi di kedalaman. Studi serupa di Pasifik sebelumnya menemukan spesies baru hingga 30% dari sampel yang diambil, sehingga peluang penemuan di Sulawesi sangat besar.
Selain eksplorasi ilmiah, misi ini juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas riset nasional. Peneliti muda BRIN dan mahasiswa dari berbagai universitas akan mendapat pelatihan langsung mengenai pemetaan laut dalam, pengambilan sampel, genomik, hingga pemrosesan big data kelautan.
Dataset yang dihasilkan mencakup batimetri, sampel biodiversitas, sekuens eDNA, hingga citra beranotasi AI. Informasi ini akan menjadi dasar bagi perencanaan tata ruang laut, penilaian risiko geologi, serta penetapan garis dasar keanekaragaman hayati di Sulawesi Utara.
Dengan ekspedisi ini, Indonesia tidak hanya memperkuat posisi sebagai pusat biodiversitas dunia, tetapi juga menunjukkan komitmen untuk memimpin riset kelautan di kawasan Indo-Pasifik.
Tinggalkan Komentar
Komentar