Periskop.id - Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa rotasi bagian terdalam planet kita, yang disebut inti bumi bagian dalam, kemungkinan telah melambat. Kondisi ini menyebabkan inti bumi kini berputar sedikit lebih lamban dibandingkan dengan lapisan-lapisan di atasnya.

Dilansir dari Scientific American, perlambatan rotasi ini berpotensi mengubah seberapa cepat seluruh planet berotasi, serta memengaruhi bagaimana inti bumi berevolusi seiring waktu. Temuan ini dimuat dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience.

Perubahan Pergerakan Inti Sejak Tahun 2009

Inti bumi bagian dalam berbentuk padat dan seolah ‘melayang’ di dalam samudra logam cair pada inti luar. Karena lapisan cair ini, inti dalam tidak selalu berputar dengan kecepatan yang sama dengan mantel dan kerak bumi.

Selama bertahun-tahun, banyak peneliti meyakini bahwa inti bumi mengalami 'super-rotasi', yakni berputar sedikit lebih cepat daripada bagian Bumi lainnya. Namun, hasil penelitian selalu tidak konsisten.

Dalam studi terbarunya, ahli geofisika Xiaodong Song dan Yi Yang dari Peking University, Tiongkok, menemukan:

  1. Rotasi Stabil dan Lebih Cepat: Antara tahun 1970-an hingga awal 2000-an, inti bumi mempertahankan rotasi yang stabil, yang sedikit lebih cepat daripada rotasi Bumi secara keseluruhan.
  2. Perlambatan Tiba-tiba: Sekitar tahun 2009, rotasi tersebut tiba-tiba melambat hingga kecepatannya menyamai rotasi Bumi.
  3. Tertinggal: Saat ini, menurut Song, rotasi inti bahkan mungkin melambat lebih jauh sehingga bagian Bumi lainnya justru berputar sedikit lebih cepat, membuat rotasi inti tertinggal sangat kecil.

Song dan Yang menggunakan basis data gempa bumi dan membandingkan gelombang kejut dari pasangan gempa yang hampir identik dari lokasi yang sama, tetapi terjadi pada waktu yang berbeda sejak tahun 1964. Perbedaan kecil dalam gelombang pantulan yang ditangkap seismometer menunjukkan adanya perubahan pergerakan inti dari waktu ke waktu.

“Kami mengajukan hipotesis bahwa perlambatan rotasi ini akan terus berlanjut dalam beberapa tahun dan dekade ke depan, dan kita seharusnya dapat mengamatinya dalam rentang waktu manusia yang relatif singkat,” kata Song.

Dampak Perlambatan Rotasi Inti Bumi

Meskipun perbedaan waktu rotasi antara inti dalam dan bagian Bumi lainnya sangat kecil, perlambatan ini bukanlah tanpa konsekuensi.

Perlambatan rotasi inti dalam dapat memengaruhi proses pembekuan besi cair di inti luar. Proses pembekuan ini juga mendorong sirkulasi inti luar, yang pada akhirnya menciptakan medan magnet Bumi. 

“Rotasi inti dalam dapat memengaruhi proses pembekuan ini dengan cara yang belum sepenuhnya dipahami, sehingga berdampak pada medan magnet,” ungkap Song.

Paling jauh, rotasi inti dalam mungkin memengaruhi rotasi keseluruhan Bumi, berkontribusi pada fluktuasi medan magnet, dan berpengaruh terhadap bagaimana inti dalam tumbuh selama miliaran tahun, sebagaimana yang diungkap oleh John Vidale, ahli geofisika dari University of Southern California.

Adapun, variasi rotasi inti bumi sangatlah kecil dan tidak mengancam kehidupan di permukaan Bumi.

Perdebatan Ilmiah Masih Berlanjut

Temuan baru mengenai perlambatan rotasi ini kemungkinan besar tidak akan mengakhiri perdebatan panjang mengenai perilaku inti bumi. Penelitian ini dinilai dilakukan dengan baik, tetapi masih ada penjelasan lain yang bersaing.

Riset oleh John Vidale, ahli geofisika yang tidak terlibat dalam studi ini, justru mengisyaratkan bahwa inti mungkin mengubah rotasinya setiap sekitar enam tahun.

Lianxing Wen, ahli geodinamika dari Stony Brook University, tidak percaya bahwa inti dalam berputar berbeda dari bagian Bumi lainnya. Menurut Wen, perubahan gelombang seismik yang digunakan untuk mengukur rotasi disebabkan oleh permukaan inti dalam yang tidak rata dan terus berubah(topografi yang bergeser), bukan karena perbedaan kecepatan rotasi. 

“Kami percaya inti dalam memiliki topografi yang terus bergeser, yang paling baik menjelaskan perubahan temporal gelombang seismik yang dipantulkan dari inti dalam,” ujarnya.

Meskipun demikian, Song optimistis bahwa dengan pemantauan seismik yang kini semakin canggih, para peneliti akan segera dapat menentukan mana yang benar.

“Kabar yang menggembirakan, kita tidak perlu menunggu terlalu lama,” kata Song.