periskop.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menawarkan solusi konkret penanganan darurat sampah di berbagai daerah melalui penyediaan mesin pirolisis yang mampu mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, di mana alat tersebut kini sudah dapat dibeli secara resmi melalui e-katalog pemerintah.
“Pirolisis itu kan limbah plastik bisa menjadi BBM, bisa menjadi solar. Ini sudah diproduksi dengan harga untuk kapasitas 50 kilogram Rp150 juta, kapasitas 200 kilogram sekitar Rp500 juta, dan sudah ada di e-katalog,” kata Kepala BRIN, Arief Satria, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI di Jakarta, Rabu (28/1).
Arief menjelaskan bahwa inovasi ini merupakan jawaban atas keluhan banyak kepala daerah. Gubernur hingga wali kota kerap menghubunginya terkait masalah penumpukan sampah yang tak kunjung usai.
Teknologi ini dirancang untuk mengurangi volume sampah plastik secara signifikan. Proses konversi menjadi energi juga memberikan nilai tambah ekonomi.
Ketersediaan di e-katalog memudahkan proses pengadaan. Pemerintah daerah tidak perlu melalui proses tender yang rumit untuk mendapatkan teknologi ini.
“Banyak wali kota kontak saya, gubernur kontak saya, bicara soal sampah yang kaitan dengan BBM. Ada di e-katalog, sehingga sudah bisa diakses, bisa dibeli langsung,” ujarnya.
Implementasi alat ini sudah berjalan di lapangan. Arief mengklaim teknologi tersebut telah diterapkan di sekitar 60 titik lokasi di Indonesia.
Selain pirolisis, BRIN juga mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA). Teknologi ini menggunakan metode termal untuk memusnahkan sampah sekaligus menghasilkan listrik.
Purwarupa PLTSA tersebut sudah beroperasi. Lokasinya berada di kawasan TPST Bantargebang, Bekasi.
BRIN mendorong penggunaan teknologi dalam negeri. Arief berharap pemerintah daerah tidak lagi bergantung pada teknologi impor yang mahal dalam mengatasi masalah sampah.
“Kita kembangkan lagi, moga-moga itu bisa menjadi solusi. Mengatasi masalah sampah ini menggunakan teknologi dalam negeri, tidak lagi teknologi impor,” pungkas Arief.
Tinggalkan Komentar
Komentar