Periskop.id - Selama puluhan tahun, plastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Namun, sebuah temuan terbaru mengungkapkan fakta yang mengerikan, plastik tidak hanya mencemari lautan, tetapi juga telah "menjajah" otak manusia dalam jumlah yang jauh lebih tinggi daripada yang pernah dibayangkan sebelumnya.

Para peneliti dari University of New Mexico Health Sciences menemukan bahwa otak manusia mengandung mikroplastik dalam konsentrasi yang jauh lebih padat dibandingkan organ tubuh lainnya. 

Yang lebih meresahkan, akumulasi partikel plastik ini terus meningkat pesat, dengan kenaikan mencapai 50% hanya dalam delapan tahun terakhir.

Mikroplastik sendiri adalah partikel polimer berukuran sangat kecil yang tercipta dari degradasi plastik di lingkungan. Selama setengah abad terakhir, partikel ini telah terdeteksi di hati, ginjal, plasenta, hingga testis manusia. 

Namun, studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine berjudul “Bioaccumulation of Microplastics in Decedent Human Brains” menempatkan otak sebagai organ dengan tingkat akumulasi tertinggi.

Matthew Campen, ahli toksikologi yang memimpin penelitian ini, menyatakan kekagetannya atas volume plastik yang ditemukan. Konsentrasi di otak jauh melampaui temuan pada organ hati maupun ginjal.

“Ini benar-benar mengubah perspektif. Ini menjadi jauh lebih personal,” kata Campen. 

Ia menambahkan bahwa banyak partikel plastik yang ditemukan berada pada skala nanometer, yakni sekitar dua hingga tiga kali ukuran virus.

“Saya tidak pernah membayangkan jumlahnya setinggi ini. Saya jelas tidak nyaman dengan sebanyak ini plastik di otak saya, dan saya tidak perlu menunggu 30 tahun lagi untuk mengetahui apa yang terjadi jika konsentrasinya menjadi empat kali lipat,” lanjutnya.

Studi ini juga menemukan fenomena yang sangat spesifik pada kesehatan mental. Jaringan otak dari penderita demensia ternyata memiliki kandungan plastik hingga 10 kali lebih banyak dibandingkan orang sehat.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa korelasi ini belum membuktikan bahwa plastik adalah penyebab langsung demensia. Ada kemungkinan bahwa proses penyakit demensia itu sendiri yang membuat jaringan otak lebih mudah menyerap dan menumpuk partikel plastik.

Bagaimana Peneliti Menemukan "Plastik" di Otak?

Tim peneliti menggunakan sampel jaringan otak dari Kantor Pemeriksa Medis New Mexico, membandingkan sampel dari tahun 2016 dengan tahun 2024. Fokus penelitian dilakukan pada korteks frontal, yaitu area otak yang terletak di belakang mata.

Metode penelitian yang digunakan tergolong sangat teknis namun akurat, di mana jaringan otak terlebih dahulu dilarutkan secara kimia hingga teksturnya berubah menjadi semacam bubur. 

Setelah itu, sampel tersebut diputar dalam mesin sentrifus guna memisahkan partikel plastik yang tidak larut dari jaringan tubuh lainnya. Residu plastik yang terkumpul kemudian dipanaskan hingga mencapai suhu 600 derajat Celsius melalui proses yang disebut pirolisis. 

Terakhir, gas yang dilepaskan saat plastik tersebut terbakar dianalisis menggunakan spektrometer massa untuk mengidentifikasi jenis dan jumlah polimer yang terkandung di dalamnya.

Hasilnya, ditemukan 12 jenis polimer berbeda. Jenis yang paling umum adalah polietilena, bahan yang biasa kita temukan pada botol plastik, gelas sekali pakai, dan kemasan makanan.

Bagaimana Plastik Bisa Masuk ke Otak?

Menggunakan mikroskop elektron, peneliti menemukan pecahan plastik tajam berukuran 200 nanometer atau kurang. Ukuran yang sangat kecil ini memungkinkan partikel tersebut menembus sawar darah-otak, yakni lapisan pelindung yang seharusnya menjaga otak dari zat berbahaya di aliran darah.

Campen menduga jalur masuk utama mikroplastik ke tubuh manusia adalah melalui makanan, terutama daging. Produksi daging komersial cenderung memusatkan plastik dalam rantai makanan melalui proses biomagnifikasi.

“Cara kita mengairi ladang dengan air yang terkontaminasi plastik membuat plastik menumpuk di sana. Tanaman itu diberikan ke ternak. Kotorannya dikembalikan ke ladang, sehingga terjadi semacam biomagnifikasi berulang,” ujarnya.

Selain itu, plastik cenderung menumpuk di sel lemak dalam selubung mielin, yakni lapisan pelindung neuron. Hal inilah yang kemungkinan besar menjelaskan mengapa konsentrasi plastik di otak jauh lebih tinggi daripada organ lain.

Dampak Negatif yang Tersembunyi

Meski plastik sering dianggap bahan yang "aman" karena digunakan dalam alat medis seperti stent jantung, keberadaannya di otak dalam jumlah besar diduga mengganggu secara fisik, bukan hanya kimiawi.

“Kami mulai berpikir mungkin plastik ini menghambat aliran darah di kapiler. Ada kemungkinan nanomaterial ini mengganggu koneksi antar akson di otak. Mereka juga bisa menjadi pemicu penggumpalan protein yang terlibat dalam demensia. Kami belum tahu,” kata Campen. 

Produksi plastik dunia tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Para peneliti memperingatkan bahwa meskipun penggunaan plastik dihentikan total hari ini, partikel yang sudah ada di lingkungan akan terus terurai menjadi mikroplastik selama puluhan tahun ke depan.

Mengingat prinsip toksikologi bahwa “dosis menentukan racun”, temuan ini menjadi alarm keras bagi kesehatan manusia di masa depan. Campen berharap fakta ini bisa menyentuh perhatian publik yang selama ini sering abai terhadap isu lingkungan.

“Saya belum pernah bertemu satu pun orang yang berkata, ‘Ada banyak plastik di otak saya dan saya baik-baik saja dengan itu’,” pungkasnya.