Periskop.id - Selama ini kita sering mendengar istilah "usus adalah otak kedua manusia". Namun, sebuah penelitian terbaru pada tikus memberikan bukti yang lebih mengejutkan: bakteri hidup dari usus ternyata benar-benar bisa melakukan perjalanan fisik langsung menuju otak.

Melansir laporan Science Alert, riset yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Biology pada 2026 ini mengungkap jalur komunikasi fisik yang selama ini menjadi misteri dalam dunia medis.

Fenomena "Usus Bocor" dan Jalur Saraf Vagus

Penelitian berjudul Translocation of Bacteria from the Gut to The Brain in Mice” oleh para ilmuwan dari Emory University, Amerika Serikat, menggunakan model tikus yang dirancang untuk mengalami kondisi leaky gut atau usus bocor. Kondisi ini terjadi ketika dinding usus melemah sehingga memungkinkan mikroba merembes keluar.

Para peneliti menguji berbagai kondisi, mulai dari tikus yang diberi diet tinggi lemak hingga tikus yang secara genetik menyerupai penderita penyakit Alzheimer dan Parkinson. Hasilnya mengejutkan di mana tim menemukan sejumlah kecil bakteri di dalam otak yang identik dengan mikroba di usus.

Menariknya, bakteri-bakteri ini tidak ditemukan di dalam aliran darah. Hal ini mematahkan asumsi lama bahwa bakteri berpindah melalui darah. 

Sebaliknya, ketika para peneliti menghambat saraf vagus (saraf utama yang menghubungkan usus langsung ke otak), jumlah bakteri di otak menurun drastis. Ini menunjukkan bahwa saraf vagus berfungsi layaknya "jalan tol" bagi bakteri untuk berpindah antar-organ.

Hubungan Diet dan Kesehatan Otak

Salah satu temuan paling krusial dalam studi ini adalah pengaruh gaya hidup. Tikus yang menjalani diet tinggi lemak menunjukkan jumlah bakteri yang lebih banyak di otak. Namun, ada kabar baik bagi kita semua, ketika tikus-tikus tersebut dikembalikan ke pola makan normal yang sehat, jumlah bakteri di otak turun hingga tidak lagi terdeteksi.

Hal ini memberikan harapan bahwa kerusakan pada otak atau risiko penyakit saraf akibat usus bocor kemungkinan besar dapat dipulihkan dengan memperbaiki pola makan dan kondisi kesehatan usus.

Meskipun penelitian ini baru dilakukan pada tikus, para ilmuwan melihat potensi besar untuk pengobatan manusia di masa depan. 

Jika bakteri benar-benar bisa berpindah ke otak manusia, maka cara kita mengobati penyakit seperti Alzheimer, Parkinson, hingga gangguan suasana hati (mood disorder) mungkin akan berubah total.

Ahli mikrobiologi David Weiss menjelaskan dampak besar dari temuan ini.

“Salah satu implikasi penting dari penelitian ini adalah bahwa perkembangan kondisi neurologis mungkin dimulai dari usus. Ini dapat menggeser fokus intervensi baru untuk penyakit otak, dengan usus sebagai target terapi. Pergeseran target anatomis ini berpotensi memberikan dampak besar terhadap efektivitas terapi bagi pasien dengan kondisi neurologis,” jelas Weiss.

Senada dengan hal tersebut, ahli imunologi Arash Grakoui menambahkan pentingnya kesadaran akan nutrisi:

“Penelitian ini menyoroti perlunya studi lebih lanjut tentang bagaimana perubahan pola makan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku manusia dan kesehatan neurologis,” ungkap Grakoui.

Meski demikian, para peneliti tetap memberikan catatan bahwa jumlah bakteri yang mencapai otak dalam studi ini sangat kecil. Masih diperlukan riset lebih mendalam untuk memastikan apakah jumlah tersebut cukup kuat untuk memicu peradangan atau penyakit saraf pada manusia.

Namun, publikasi ini mempertegas fakta bahwa tubuh kita adalah satu ekosistem yang saling terhubung. Apa yang kita makan bukan hanya urusan perut, tapi juga urusan kesehatan mental dan fungsi otak kita secara keseluruhan.