Periskop.id - Argentina menjaga laju sempurna di Grup J Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Austria 2-0 di Dallas Stadium, Arlington, Texas. Lionel Messi menjadi pusat cerita laga ini setelah memborong dua gol kemenangan La Albiceleste, sekaligus mencetak sejarah sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia putra.
Kemenangan ini membuat Argentina mengoleksi dua kemenangan dari dua laga, setelah sebelumnya menang 3-0 atas Aljazair. Dengan hasil tersebut, Argentina berada di jalur kuat menuju babak 32 besar Piala Dunia 2026, bahkan sejumlah laporan menyebut La Albiceleste sudah mengamankan tiket fase gugur dengan satu laga grup tersisa.
Kemenangan ini bukan sekadar membawa Argentina meraih tiga poin. Dua gol Messi juga membuatnya menorehkan sejarah baru sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia putra. Ia kini mengoleksi 18 gol, melewati rekor Miroslav Klose yang selama ini bertahan dengan 16 gol.
Menariknya, malam bersejarah Messi tidak dimulai sempurna. Pemain Inter Miami itu lebih dulu gagal mengeksekusi penalti pada awal laga. Namun, seperti banyak babak penting dalam kariernya, Messi bangkit, membayar kegagalan itu, lalu memastikan kemenangan Argentina lewat brace.
Hasil ini membuat Argentina memimpin Grup J dengan enam poin dari dua pertandingan. Pasukan Lionel Scaloni kini unggul atas Austria yang tertahan di tiga poin, sementara Yordania dan Aljazair belum mengoleksi angka sebelum keduanya saling berhadapan.
Messi Gagal Penalti
Argentina memulai pertandingan dengan agresif. Baru lima menit berjalan, Lautaro Martinez dilanggar di kotak penalti. Wasit kemudian meninjau insiden tersebut melalui VAR dan menunjuk titik putih untuk Argentina.
Messi maju sebagai eksekutor. Namun, sepakan kaki kirinya dari jarak 12 pas justru melebar ke sisi kanan gawang Alexander Schlager. Peluang emas Argentina untuk unggul cepat pun hilang.
Kegagalan itu sempat memberi Austria napas. Tim asuhan Ralf Rangnick mencoba menjaga blok pertahanan dan menutup ruang gerak Messi. Namun, Argentina tetap memegang kendali permainan melalui kombinasi lini tengah Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, Rodrigo De Paul, dan Thiago Almada.
Austria kesulitan membangun serangan bersih ke kotak penalti Argentina. David Alaba dan kawan-kawan beberapa kali mencoba melakukan progresi bola, tetapi tekanan Argentina membuat aliran bola mereka sering terputus di lini tengah.
Messi kembali mendapat kesempatan pada menit ke-19. Ia menerima bola dari Lisandro Martinez, bergerak masuk ke kotak penalti, dan sempat berada dalam situasi satu lawan satu dengan kiper Austria.
Namun, Messi memilih melakukan gocekan untuk membuka ruang tembak. Gerakannya langsung diganggu pemain bertahan Austria sehingga peluang itu gagal berakhir menjadi gol.
Argentina terus menekan. Pada menit ke-31, Messi kembali mengancam melalui bola rebound di dalam kotak penalti. Namun, tembakannya masih mampu diblok pertahanan Austria.
Tekanan berulang itu menunjukkan satu hal: meski Austria berusaha bermain rapat, Argentina tetap mampu menemukan celah lewat pergerakan antarlini dan umpan cepat di area sepertiga akhir.
Gol Menit ke-39 Jadi Sejarah Baru
Gol yang ditunggu akhirnya datang pada menit ke-39. Facundo Medina bergerak dari sisi kiri dan mengirim umpan tarik ke area kotak penalti. Messi menyambut bola dengan sepakan kaki kiri khasnya ke pojok bawah gawang Austria.
Gol itu membuat Argentina unggul 1-0 sekaligus menjadi momen bersejarah. Dengan gol tersebut, Messi resmi mencatat 17 gol di Piala Dunia dan melewati rekor Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia putra.
Messi sebelumnya menyamai rekor Klose setelah mencetak hattrick saat Argentina menang 3-0 atas Aljazair pada laga pembuka Grup J. Sebelumnya Messi menganggap seluruh pencapaiannya sebagai bonus. “Semua yang saya alami sekarang adalah bonus,” kata Messi seusai laga melawan Aljazair, dikutip dari FIFA.
Pelatih Argentina Lionel Scaloni juga memberi apresiasi besar terhadap konsistensi sang kapten. “Saya tidak punya kata-kata untuk menggambarkan Messi,” ujar Scaloni.
Gol ke gawang Austria mempertegas, Messi masih menjadi pembeda utama Argentina meski usianya sudah mendekati 39 tahun. Ia bukan hanya mencetak gol, tetapi juga menjadi poros permainan, pemancing ruang, sekaligus pengatur tempo serangan.
Austria Berusaha Bangkit di Babak Kedua
Selepas turun minum, Austria mencoba tampil lebih berani. Mereka menaikkan garis tekanan dan berusaha memanfaatkan sisi sayap untuk menembus pertahanan Argentina.
Peluang terbaik Austria muncul pada menit ke-54 melalui Marcel Sabitzer. Gelandang berpengalaman itu mendapatkan ruang untuk melepaskan tembakan, tetapi Emiliano Martinez masih sigap meredam ancaman tersebut.
Argentina tidak terburu-buru menambah gol. Tim Tango lebih banyak mengatur ritme, menjaga jarak antarlini, dan memaksa Austria mengambil risiko lebih besar. Ketika Austria mulai naik, Argentina mencari celah lewat transisi dan pergerakan Messi di antara lini tengah dan pertahanan lawan.
Pada menit ke-65, Messi kembali mendapat ruang untuk melepas tembakan kaki kiri menyilang. Namun, bola masih melenceng dari gawang Austria. Lionel Scaloni kemudian melakukan sejumlah pergantian untuk menjaga intensitas permainan. Julian Alvarez masuk menggantikan Thiago Almada pada menit ke-64, sementara Nico Gonzalez menggantikan Lautaro Martinez satu menit berselang.
Masuknya Nico Gonzalez memberi energi baru di sisi serangan. Ia beberapa kali menciptakan ancaman lewat kecepatan dan pergerakan tanpa bola. Julian Alvarez juga membantu Argentina menekan pertahanan Austria di fase akhir pertandingan.
Di sisi Austria, Rangnick mencoba mengubah arah laga dengan memasukkan Marko Arnautovic, Marco Friedl, Alexander Prass, Patrick Wimmer, hingga Carney Chukwuemeka. Namun, perubahan itu belum cukup untuk membongkar struktur pertahanan Argentina.
Cristian Romero, Lisandro Martinez, dan Emiliano Martinez tampil cukup tenang dalam menjaga area berbahaya. Argentina kembali menunjukkan mengapa mereka menjadi salah satu tim paling solid di turnamen ini.
Messi Kunci Kemenangan di Injury Time
Austria yang terus mencari gol penyeimbang akhirnya meninggalkan ruang di lini belakang. Argentina memanfaatkan situasi itu pada masa injury time.
Julian Alvarez melepaskan tembakan yang sempat diblok pemain Austria. Bola liar kemudian jatuh ke jalur Messi. Tanpa membuang waktu, Messi menyambar peluang tersebut dan menjebol gawang Schlager untuk kedua kalinya.
Gol itu memastikan kemenangan Argentina 2-0. Bagi Messi, gol tersebut menambah koleksinya menjadi 18 gol sepanjang sejarah Piala Dunia.
Dengan tambahan dua gol ini, Messi bukan hanya melewati Klose di daftar pencetak gol Piala Dunia putra, tetapi juga melewati catatan Marta dalam rekor keseluruhan Piala Dunia putra dan putri. Ia juga memperpanjang tren mencetak golnya di Piala Dunia menjadi enam laga beruntun.
Kemenangan atas Austria membuat Argentina berdiri kokoh di puncak Grup J dengan enam poin. Setelah mengalahkan Aljazair 3-0 dan Austria 2-0, Argentina telah mencetak lima gol tanpa kebobolan.
Situasi ini membuat Argentina berada dalam posisi sangat kuat untuk lolos ke babak 32 besar. Mereka tinggal menunggu hasil laga Yordania melawan Aljazair. Jika Yordania gagal menang, Argentina dipastikan lolos sebagai juara grup.
Austria masih memiliki tiga poin dan tetap punya peluang lolos. Namun, kekalahan dari Argentina membuat laga terakhir melawan Aljazair menjadi sangat penting bagi David Alaba dan kawan-kawan.
Sebelum pertandingan, pelatih Austria Ralf Rangnick sudah mengakui betapa sulitnya menghadapi Argentina. Ia bahkan menyebut tim juara bertahan itu nyaris tidak memiliki kelemahan yang mudah terlihat. Pernyataan itu terbukti di lapangan. Austria mampu memberi perlawanan, tetapi Argentina tetap lebih matang dalam mengontrol tekanan, mengelola momentum, dan memanfaatkan peluang.
Susunan Pemain
Argentina: Emiliano Martinez; Facundo Medina, Lisandro Martinez, Cristian Romero, Nahuel Molina; Thiago Almada, Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, Rodrigo De Paul; Lautaro Martinez, Lionel Messi.
Pemain pengganti Argentina: Nicola Tagliafico, Nicolas Otamendi, Julian Alvarez, Nico Gonzalez, Leandro Paredes.
Austria: Alexander Schlager; Konrad Laimer, David Alaba, Kevin Danso, Stefan Posch; Xaver Schlager, Nicolas Seiwald; Marcel Sabitzer, Paul Wanner, Romano Schmid; Michael Gregoritsch.
Pemain pengganti Austria: Marco Friedl, Alexander Prass, Marko Arnautovic, Patrick Wimmer, Carney Chukwuemeka.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar