Periskop.id – Spanyol tinggal selangkah lagi untuk merebut gelar juara dunia kedua setelah menyingkirkan Prancis dengan skor 2-0 pada semifinal Piala Dunia 2026. Di balik keberhasilan La Roja mencapai final untuk pertama kalinya sejak 2010, terdapat tangan dingin Luis de la Fuente yang membangun tim melalui regenerasi, kolektivitas, dan pengelolaan pemain.

Kemenangan atas Prancis mengantarkan Spanyol ke final kedua sepanjang sejarah mereka. Pasukan De la Fuente selanjutnya akan menghadapi juara bertahan Argentina di New York New Jersey Stadium, Minggu, 19 Juli 2026.

di Semifinal, Mikel Oyarzabal membuka keunggulan Spanyol melalui tendangan penalti pada menit ke-22, sebelum Pedro Porro menggandakan skor pada babak kedua. Organisasi permainan La Roja membuat lini depan Prancis yang dipimpin Kylian Mbappe kesulitan memperoleh peluang, bahkan baru mencatatkan tembakan tepat sasaran setelah pertandingan melewati menit ke-80.

Hasil tersebut melanjutkan performa impresif Spanyol sepanjang turnamen. Dari tujuh pertandingan sejak fase grup, mereka mencatat enam kemenangan dan satu hasil imbang, menghasilkan 13 gol, serta hanya kebobolan sekali ketika menundukkan Belgia 2-1 pada perempat final.

Berawal dari Pembinaan Pemain Muda

De la Fuente bukan sosok yang datang secara tiba-tiba ke kursi pelatih tim nasional senior. Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol atau RFEF menunjuknya pada 12 Desember 2022 setelah sebelumnya menangani tim U-21 dan bertahun-tahun bekerja dalam sistem pembinaan usia muda Spanyol.

Pengalaman tersebut membuat pelatih kelahiran Haro itu telah mengenal karakter dan kemampuan sejumlah pemain jauh sebelum mereka menembus tim senior. UEFA mencatat banyak anggota skuad La Roja pernah bekerja bersamanya ketika masih berada di kelompok umur.

Santi Denia, yang bekerja bersama De la Fuente selama 14 tahun, menilai kemampuan mengelola pemain menjadi kekuatan terbesar pelatih berusia 65 tahun tersebut. Ia menyebut, Luis adalah seorang ahli dalam mengelola tim.

"Ia memahami cara berpikir pemain, ia tahu bagaimana cara membimbing mereka, dan ia memiliki insting mengenai siapa yang harus tampil sebagai starter di setiap pertandingan. Ia menambahkan sentuhan khasnya sendiri pada model yang sudah mapan, dengan memperhitungkan profil para pemain. Hal tersebut telah membuahkan hasil bagi asosiasi dalam beberapa tahun terakhir dan membantu kami memenangi berbagai gelar. Kami memercayai model tersebut, dan Luis memercayainya lebih dari siapa pun,” bebernya. 

 

spanyol
Selebrasi pemain spanyol usai mencetak gol ke gawang Prancis. dok. FIFA

 

Kemampuan De la Fuente tidak hanya terlihat dalam menentukan susunan pemain. Ia juga dinilai berhasil menyatukan puluhan orang yang terlibat dalam operasional tim nasional, mulai dari pemain, pelatih, tim medis, analis, hingga staf pendukung.

Mantan Direktur Olahraga RFEF Fernando Hierro menggambarkan skuad Spanyol sebagai kelompok yang memiliki hubungan erat. Menurutnya, suasana harmonis tersebut menjadi sangat penting dalam turnamen panjang seperti Piala Dunia, ketika seluruh anggota tim harus hidup dan bekerja bersama selama berminggu-minggu.

Tiga Final dan Dua Gelar

Keputusan RFEF mempromosikan De la Fuente berbuah rangkaian prestasi. Dalam waktu kurang dari empat tahun, ia membawa Spanyol menjuarai UEFA Nations League 2023 dan Euro 2024.

La Roja kembali mencapai final Nations League pada 2025, tetapi kalah 3-5 melalui adu penalti dari Portugal setelah pertandingan berakhir imbang 2-2. Kini, De la Fuente membawa Spanyol ke final keempatnya di turnamen besar sekaligus membuka peluang meraih trofi ketiga bersama tim senior.

Konsistensi tersebut lahir dari keberanian De la Fuente mempertahankan identitas permainan Spanyol, tetapi dengan pendekatan lebih fleksibel. La Roja tetap mengandalkan penguasaan bola, namun mampu bermain lebih vertikal, menekan lawan dengan agresif, serta menjaga struktur pertahanan ketika kehilangan bola.

Pendekatan itu terlihat jelas saat menghadapi Prancis. Spanyol tidak hanya unggul dalam penguasaan permainan, tetapi juga mampu meredam salah satu lini serang paling berbahaya di turnamen.

De la Fuente mengatakan, performa tersebut merupakan bagian dari proses yang telah dirancang agar tim mencapai kondisi terbaik pada fase penentuan.

“Kami terus berkembang dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya, dari satu kompetisi ke kompetisi selanjutnya. Semua itu telah direncanakan agar kami dapat mencapai momen-momen penting ini dengan kondisi terbaik, dan saya rasa kami berada dalam kondisi yang sangat baik saat ini,” ujarnya.

“Dari segi permainan sepak bola, kami telah mencapai puncak performa pada saat yang tepat setelah menjalani musim yang panjang," imbuhnya.

Sekadar catatan, kemenangan atas Prancis juga membuat Spanyol menyamai rekor Italia dengan 37 pertandingan beruntun tanpa kekalahan. Namun, De la Fuente menegaskan pekerjaan timnya belum selesai karena Argentina akan menjadi ujian terakhir dalam perburuan gelar dunia.

Final Piala Dunia 2026 bukan sekadar kesempatan bagi Spanyol mengulangi kejayaan 2010. Laga tersebut juga menjadi pembuktian terbesar bagi metode De la Fuente, pelatih yang tumbuh bersama sistem pembinaan La Roja dan kini membawa generasi baru Spanyol berada di ambang puncak sepak bola dunia.