periskop.id - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) bersama Komisi Nasional Perempuan serta Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DKI Jakarta menggelar kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Kamis (27/11).
Acara ini mengusung tema “Kita Punya Andil, Kembalikan Ruang Aman” sebagai ajakan kolektif untuk menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan.
Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi, menegaskan bahwa kampanye ini bukan sekadar seremonial, melainkan gerakan bersama lintas sektor.
“Kampanye ini merupakan gerakan bersama, karena kita semua punya tanggung jawab untuk mengembalikan ruang yang aman, baik bagi perempuan maupun anak,” ujarnya dilansir dari Antara.
Arifatul menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia pendidikan dalam mencegah serta menanggulangi kekerasan. Menurutnya, angka kasus kekerasan terhadap perempuan terus meningkat dari tahun ke tahun. Data Komnas Perempuan mencatat pada 2024 terdapat 330.097 kasus, naik 14,17 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Akhir-akhir ini, kekerasan terhadap perempuan dan anak angkanya cukup tinggi dan ini harus diselesaikan bersama-sama dari kolaborasi dan sinergi,” tambah Arifatul.
Ia menekankan bahwa penanganan kasus tidak bisa hanya mengandalkan satu lembaga, melainkan harus menjadi gerakan sosial yang melibatkan semua pihak.
Ketua Komnas Perempuan, Maria Ulfah, turut mengingatkan bahwa perlindungan perempuan adalah tanggung jawab kolektif.
“Itu bukan hanya tanggung jawab negara atau lembaga tertentu, melainkan merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat,” katanya.
Kampanye ini tidak hanya berupa orasi, tetapi juga aksi simbolis yang sarat makna. Sebanyak 10.000 bibit mangrove ditanam, 1.000 benih ikan ditebar, serta bendera merah putih berukuran 10x20 meter dikibarkan di laut. Aksi tersebut melambangkan harapan akan ruang hidup yang aman, sehat, dan berkelanjutan bagi perempuan dan anak.
Selain itu, Tarian Anugerah Biru dengan gerakan bertema bahari, penampilan marching band SMKN 61 Jakarta, serta partisipasi ratusan ibu rumah tangga dari wilayah setempat menambah semarak kampanye. Kehadiran masyarakat lokal menunjukkan bahwa isu kekerasan terhadap perempuan bukan hanya wacana nasional, tetapi juga persoalan nyata di tingkat komunitas.
Menurut laporan UN Women 2023, satu dari tiga perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual sepanjang hidupnya. Di Indonesia, Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2021 mencatat 1 dari 4 perempuan usia 15–64 tahun pernah mengalami kekerasan oleh pasangan. Data ini memperkuat urgensi kampanye yang digelar PPPA dan Komnas Perempuan.
Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang berlangsung setiap tahun sejak 1991 ini menjadi momentum penting untuk mengingatkan publik bahwa kekerasan berbasis gender adalah pelanggaran hak asasi manusia. Dengan aksi nyata di Pulau Tidung, pemerintah dan masyarakat diharapkan semakin solid dalam mengembalikan ruang aman bagi perempuan dan anak di Indonesia.
Tinggalkan Komentar
Komentar