Periskop.id - Hampir separuh perempuan Indonesia pernah diperlakukan tidak menyenangkan di tempat kerja. Fakta ini bukan sekadar angka, melainkan cermin dari masalah yang jarang dibicarakan, diskriminasi yang tidak bersuara, tidak tercatat, tetapi nyata dampaknya terhadap mental dan produktivitas.
Diskriminasi di tempat kerja kerap dibayangkan hadir dalam bentuk yang kasar dan terang-terangan, seperti pelecehan verbal atau pemecatan sepihak. Padahal, kenyataannya sering kali jauh lebih sunyi dan sulit dikenali.
Survei Populix Women’s Equality in the Workplace pada Maret 2024 mencatat 45% perempuan Indonesia pernah mengalami perlakuan tidak menyenangkan di tempat kerja. Hal yang mengejutkan, bentuk diskriminasi paling dominan bukanlah caci maki, melainkan serangan nonverbal. Sebanyak 62% responden mengaku diremehkan lewat ekspresi wajah, sementara 54% lainnya menerima komentar negatif.
Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai micro-aggression, tindakan merendahkan yang halus, sering tak disadari pelakunya, dan terjadi berulang. Dampaknya ibarat cubitan kecil yang terus-menerus, sulit dibuktikan, tetapi perlahan menggerogoti mental korban.
Masalahnya, ketika korban melapor ke atasan atau Human Resources Development (HRD), pengalaman tersebut kerap dianggap berlebihan atau sekadar salah paham. Bentuk penyangkalan semacam ini membuat korban memendam tekanan, meragukan dirinya sendiri, dan akhirnya mengalami stres berkepanjangan.
Dampak Fatal pada Produktivitas
Jangan pernah meremehkan kekuatan bahasa tubuh. Survei Populix menunjukkan bahwa mayoritas responden meyakini perlakuan nonverbal berdampak negatif secara signifikan terhadap produktivitas kerja. Tatapan merendahkan, ekspresi sinis, atau gestur penolakan yang tampak sepele ternyata memiliki efek psikologis yang nyata.
Penjelasannya sederhana. Otak manusia secara alami dirancang untuk mendeteksi ancaman, termasuk ancaman sosial. Saat seseorang menerima sinyal penolakan, seperti wajah yang meremehkan, bagian otak yang memproses rasa sakit ikut aktif. Dampaknya, fokus kerja pun terganggu.
Alih-alih mencurahkan energi pada pekerjaan, pikiran justru terkuras untuk hal-hal defensif, seperti menganalisis makna tatapan orang lain, menahan emosi agar tetap profesional, hingga membangun pertahanan diri karena merasa lingkungan kerja tidak aman.
Menariknya, survei yang sama juga mengungkap bahwa diskriminasi tidak selalu datang dari lawan jenis. Sekitar 33% responden justru mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari sesama perempuan. Temuan ini menegaskan satu hal penting bahwa lingkungan kerja yang toxic bukan soal gender, melainkan budaya. Siapa pun bisa menjadi pelaku, dan siapa pun berpotensi menjadi korban.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Jika kamu termasuk dalam 45% orang yang pernah mengalami hal ini, diam dan memendam bukan solusi. Berikut langkah profesional yang bisa kamu ambil.
1. Validasi Perasaan
Berhenti menyalahkan diri sendiri. Data di atas adalah bukti bahwa fenomena ini nyata. Mengakui bahwa kamu sedang diperlakukan tidak adil adalah langkah pertama untuk bangkit.
2. Ubah Nonverbal Menjadi Verbal
Ini salah satu pendekatan psikologis yang efektif. Ketika rekan kerja menunjukkan bahasa tubuh meremehkan, misalnya memutar bola mata saat kamu berbicara, hentikan sejenak pembahasan dan respons secara tenang, tetapi tegas.
Pendekatan ini membuat bahasa tubuh yang samar menjadi percakapan terbuka. Pelaku dipaksa bertanggung jawab atas sikapnya, dan sering kali akan langsung mengoreksi perilaku karena merasa disorot secara profesional.
3. Fokus pada Profesionalitas
Ingat, cara orang lain memperlakukan kamu adalah cerminan karakter mereka, bukan ukuran kompetensimu. Tetap bekerja dengan standar terbaik, dokumentasikan kontribusimu, dan jaga rekam jejak profesional. Konsistensi inilah yang menjadi perlindungan paling kuat di lingkungan kerja yang tidak selalu ideal.
Tinggalkan Komentar
Komentar