Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan terbaru yang membawa kabar baik bagi dunia kesehatan publik Indonesia. Angka kematian ibu melahirkan atau Maternal Mortality Ratio (MMR) di tanah air menunjukkan tren penurunan yang sangat signifikan dalam kurun waktu 2010 hingga 2025.
Berdasarkan akumulasi data dari Sensus Penduduk (SP) dan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS), performa kesehatan ibu menunjukkan peningkatan kualitas layanan yang berkelanjutan.
Pada pelaksanaan SP 2010, Indonesia mencatatkan angka kematian ibu yang cukup tinggi, yaitu sebesar 346 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Lima tahun berselang, melalui SUPAS 2015, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 305.
Penurunan yang jauh lebih tajam terjadi pada hasil Long Form SP 2020 yang menyentuh angka 189 kematian. Puncaknya, pada SUPAS 2025, angka kematian ibu melahirkan kembali merosot hingga mencapai 144 per 100.000 kelahiran hidup.
Penurunan angka yang konsisten ini merupakan indikator nyata adanya perbaikan dalam layanan kesehatan ibu dan anak di berbagai penjuru negeri.
Memahami Indikator Angka Kematian Ibu Melahirkan
Penting bagi masyarakat untuk memahami apa yang diukur dalam indikator ini. BPS menjelaskan bahwa angka kematian ibu melahirkan mencakup kematian perempuan usia 15 sampai 49 tahun yang terjadi selama masa kehamilan, saat persalinan, atau dalam jangka waktu 42 hari setelah persalinan.
Indikator ini tidak hanya sekadar angka, melainkan menjadi salah satu ukuran paling krusial dalam menilai kualitas sistem kesehatan suatu negara.
Melalui data ini, pemerintah dapat memetakan efektivitas layanan kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan aksesitas dan kualitas perawatan medis bagi ibu hamil dan pascasalin.
Ketimpangan Antarwilayah
Meskipun secara rata-rata nasional mengalami perbaikan yang menggembirakan, BPS mencatat adanya catatan kritis terkait kesenjangan yang masih lebar antarwilayah. Kualitas layanan kesehatan tampaknya belum tersebar secara merata di seluruh kepulauan Indonesia.
Wilayah Jawa dan Bali mencatatkan angka kematian ibu melahirkan terendah di tingkat nasional dengan jumlah 114 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Sementara itu, wilayah Sumatera berada di angka 130, disusul oleh Kalimantan sebesar 164, dan Sulawesi yang mencatatkan angka 214 kematian.
Kesenjangan paling mencolok terlihat pada wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Wilayah Indonesia bagian timur ini mencatatkan angka kematian tertinggi, yakni mencapai 317 per 100.000 kelahiran hidup.
Angka ini hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah Jawa dan Bali. Kondisi tersebut mencerminkan adanya ketimpangan nyata dalam akses serta kualitas layanan kesehatan antarwilayah di Indonesia yang perlu segera mendapatkan perhatian serius.
Rincian Data Angka Kematian Ibu (MMR) Menurut Wilayah 2025
Berikut adalah tabel rincian angka kematian ibu melahirkan berdasarkan wilayah yang dihimpun dari data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2025:
| Wilayah | Angka Kematian Ibu (per 100.000 Kelahiran Hidup) |
|---|---|
| Jawa dan Bali | 114 |
| Sumatera | 130 |
| Kalimantan | 164 |
| Sulawesi | 214 |
| Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua | 317 |
Tinggalkan Komentar
Komentar