Menimang manusia mungil ini di pelukanku, seolah menjadi peluruh atas begitu banyak pertanyaan yang selama ini tak pernah benar-benar selesai.

Mengasihi di hari-hari pertamanya bernapas, harusnya sederhana. Tapi bagiku, justru di sanalah semuanya dimulai.

Perjalananku menjadi seorang ibu untuk anak perempuanku tidak dimulai saat ia lahir. Justru dimulai jauh sebelumnya, di trimester akhir kehamilan, ketika aku mengetahui satu hal yang mengubah cara pandangku sepenuhnya:

Anakku perempuan.

Sejak saat itu, ada kegelisahan yang tidak bisa kujelaskan.

Aku adalah anak perempuan pertama dan satu-satunya di keluargaku. Aku juga cucu pertama dari pihak ibu. Sejak kecil, tanpa pernah diminta, aku seperti ditempatkan di barisan paling depan. Yang diharapkan, yang dilihat, yang dijadikan contoh.

Di balik itu, aku tumbuh dalam keluarga dengan dinamika yang tidak sederhana.

Ada masa ketika ibu harus pergi ke luar kota untuk bekerja, dan aku tinggal bersama nenek. Ada fase ketika aku harus terbiasa dengan jarak. Bukan hanya secara fisik, tapi juga perasaan. Kami tetap bersama, dengan cara kami sendiri, berusaha menjalani semuanya sebaik mungkin.

Aku pikir, semua itu tidak meninggalkan bekas yang berarti.

Sampai aku tahu, anak yang kukandung adalah perempuan. Tiba-tiba aku merasa seperti sedang berdiri di sebuah lingkaran yang akan terulang.

Anak ini akan mengisi posisiku. Ia akan menjadi anak perempuan pertama. Ia akan tumbuh, melihat, dan menyerap seperti dulu aku. Dan di situlah aku mulai takut.

Aku takut tidak tahu bagaimana menjadi ibu yang baik.

Aku takut tidak cukup hadir.

Aku takut, tanpa sadar, mengulang luka yang sama.

Aku mulai mengais-ngais ingatan masa kecilku.

Aneh, yang paling banyak muncul justru potongan-potongan momen yang terasa tidak lengkap.

Aku berusaha mengingat ibu. Yang muncul justru sepotong rasa: pernah merasa ditinggalkan, pernah harus terbiasa tanpa kehadirannya di waktu-waktu tertentu. Lalu muncul juga fase ketika aku mencoba memahami semuanya dengan sudut pandangku sebagai anak yang tentu belum utuh.

Dadaku sesak.

Bagaimana mungkin aku akan menjadi ibu, sementara aku sendiri tumbuh dengan begitu banyak tanda tanya tentang sosok ibu?

Kepalaku penuh. Aku buntu. Di tengah kebingungan itu, aku memutuskan untuk berhenti lari. Aku mencoba melihat ke dalam.

Aku mengikuti kelas reparenting inner child. Perlahan, aku menarik satu per satu benang yang selama ini kusimpan rapat.

Dan di sanalah, aku menemukan sesuatu yang selama ini seperti hilang. Aku menemukan diriku yang kecil.

Ia ceria. Rambutnya dijepit kupu-kupu kuning di sisi kiri. Dan entah bagaimana, aku langsung tahu, jepit itu dibelikan ibu.

Perlahan, ingatan lain mulai muncul. Baju pesta yang ibu belikan saat ada mal baru di kota kami. Momen ulang tahunku, ibu yang memotret kami. Bukan karena tidak ingin terlihat, tapi karena memastikan semua orang lain masuk ke dalam frame.

Tiba-tiba, semuanya terasa masuk akal. Jadi, bukan karena ibu tidak ada. Tapi karena selama ini, ibu selalu berada di belakang.

Saat aku menjalani hariku, ibu yang memastikan semuanya siap. Saat aku jatuh, ibu yang merawat. Saat aku tumbuh, ibu yang diam-diam menopang.

Dadaku kembali sesak.

Tapi kali ini bukan karena kehilangan. Melainkan karena akhirnya melihat, bahwa cinta ibu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bekerja dalam diam, tanpa panggung, tanpa sorotan.

Dan mungkin, selama ini aku terlalu sibuk mencari sosok ibu yang “ideal”, sampai lupa melihat ibu yang nyata. Di titik itu, aku mulai memahami sesuatu. Aku tidak harus menjadi ibu yang sempurna. Aku hanya perlu menjadi ibu yang hadir, dengan caraku sendiri.

Tapi ternyata, perjalanan itu belum selesai.

Setelah anakku lahir, aku tidak mengalami baby blues. Aku tidak pernah merasa menolak kehadirannya. Justru sebaliknya, aku sangat, sangat bahagia. Namun di balik kebahagiaan itu, ada rasa lain yang pelan-pelan muncul.

Rasa bersalah.

Setiap kali harus meninggalkan anakku, ada bagian dari diriku yang terasa tertinggal. Dan kali ini, tidak ada lagi tempat untuk kembali bertanya. Karena ibuku sudah tiada.

Di titik ini, aku kembali bingung, tapi dengan cara yang berbeda. Lebih sunyi.

Aku mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kupahami:

Betapa besar yang dulu ibu lakukan, agar aku bisa sampai di titik ini. Pendidikan yang layak. Hidup yang terus berjalan. Hal-hal yang dulu terasa “biasa saja”, ternyata adalah hasil dari perjuangan yang tidak sederhana.

Dan kini, saat aku melihat anak perempuanku yang tumbuh pintar, penuh cinta, dan begitu disayangi oleh omanya semasa hidup, aku seperti melihat sebuah lingkaran yang tidak lagi menakutkan. Melainkan utuh.

Perjalananku menjadi ibu mungkin tidak dimulai dari gambaran yang ideal. Aku tidak tumbuh dengan definisi sempurna tentang bagaimana seharusnya seorang ibu.

Tapi aku tumbuh dengan sesuatu yang lain: cinta yang bekerja diam-diam.

Dan hari ini, aku membawanya ke dalam pelukanku sendiri. Aku mungkin masih akan sering merasa bersalah.
Masih akan sering ragu. Masih akan terus belajar.

Tapi kali ini, aku tidak lagi mencari sosok ibu di luar diriku. Karena sebagian dari ibu itu, sudah hidup di dalam diriku. Pelan-pelan, aku berdamai.
Aku akan baik-baik saja.

 

Tulisan ini merupakan kiriman dari pembaca dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Isi, sudut pandang, serta pengalaman yang disampaikan bersifat personal dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SHEroes.