periskop.id - Dikutip dari Bankrate.com, hasil survei Bankrate menunjukkan bahwa hampir setengah perempuan merasakan dampak negatif masalah keuangan terhadap kesehatan mental mereka. 

Tekanan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari rasa cemas berlebihan, sulit tidur, sampai perasaan tertekan dalam keseharian. Angkanya pun lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Perempuan juga cenderung lebih sering merasa khawatir soal kebutuhan dasar. Mulai dari cukup atau tidaknya tabungan darurat, sampai apakah penghasilan bisa menutup kebutuhan sehari-hari. Bagi banyak perempuan, urusan keuangan bukan cuma soal hitung-hitungan angka, tapi juga soal rasa aman.

Bahkan hal yang terlihat sepele, seperti mengecek saldo rekening atau menghadapi pengeluaran mendadak, bisa memicu stres. Situasi seperti ini lebih sering dirasakan perempuan dibandingkan laki-laki. 

Menurut Faye McCray dari Psych Central, banyak perempuan tanpa sadar mengaitkan kondisi keuangan dengan nilai diri. Akibatnya, saat masalah uang terasa berat, mereka justru memilih memendamnya sendiri dan enggan mencari bantuan.

Ketimpangan Upah, Sumber Stres Finansial Perempuan

Tingginya stres keuangan yang dialami perempuan sebenarnya bukan semata-mata soal cara mengatur uang. Ada masalah yang lebih besar di baliknya, yaitu kesenjangan upah antara perempuan dan laki-laki yang masih terjadi hingga sekarang.

Banyak perempuan bekerja penuh waktu, tetapi menerima gaji lebih rendah dibandingkan laki-laki. Dampaknya, uang yang bisa dikelola juga lebih terbatas. Kondisi ini membuat perempuan lebih sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi menyiapkan rencana jangka panjang seperti tabungan pensiun atau investasi.

Nggak heran kalau banyak perempuan merasa cemas memikirkan masa depan finansial mereka. Kekhawatiran soal nggak siap menghadapi masa pensiun lebih sering dirasakan perempuan. 

Di sisi lain, jumlah perempuan yang memiliki investasi juga masih lebih sedikit, padahal investasi bisa membantu memperkuat kondisi keuangan ke depan.

Perencana keuangan Zaneilia Harris menjelaskan, stres ini muncul karena penghasilan perempuan sering kali belum sebesar laki-laki. Ketika seseorang merasa pendapatannya belum cukup untuk menopang hidup atau keluarga, tekanan mental pun sulit dihindari.

Beban Pengasuhan yang Lebih Besar pada Perempuan

Dalam banyak keluarga, perempuan masih menjadi pihak yang paling sering mengambil peran merawat, mulai dari mengasuh anak, merawat orang tua, hingga membantu anggota keluarga lainnya. 

Kondisi ini membuat perempuan lebih sering memikul tanggung jawab pengasuhan dibandingkan laki-laki. Beban tersebut kerap berdampak pada penghasilan, terutama ketika perempuan harus mengambil cuti kerja, mengurangi jam kerja, atau bahkan berhenti sementara dari karier.

Ketika ingin berumah tangga sering kali menjadi keputusan yang lebih mahal bagi perempuan. Meski bekerja penuh waktu, perempuan bekerja rata-rata masih menerima upah lebih rendah dibandingkan laki-laki. Padahal, di saat yang sama, kebutuhan justru semakin bertambah.

Menurut Survei Bankrate menunjukkan bahwa tanggung jawab mengasuh ini ikut menjadi sumber stres finansial. Perempuan yang memiliki pasangan dan anak di bawah usia 18 tahun memiliki masalah keuangan yang berdampak buruk pada kesehatan mental mereka. 

Hal ini lebih tinggi dibandingkan perempuan dengan kondisi serupa, tetapi tanpa anak. Tekanan ini terasa semakin berat bagi ibu yang membesarkan anak tanpa pasangan. Banyak dari mereka mengatakan stres soal uang sangat memengaruhi kondisi mental, lebih besar dibandingkan perempuan lajang tanpa anak.

Menurut Lauren Anastasio, perencana keuangan dari Stash, dalam banyak situasi perempuan memikul beban rumah tangga yang besar mulai dari mengatur keuangan keluarga hingga menjadi penopang utama dalam merawat anak dan anggota keluarga lain. Beban inilah yang sering membuat tekanan finansial terasa berlipat.

Cara Sederhana Biar Kamu Nggak Terlalu Stres soal Uang

Coba mulai dengan fokus ke hal-hal yang memang bisa kamu kendalikan. Nggak semua masalah keuangan ada di tangan kamu, dan itu nggak apa-apa. Dengan tahu mana yang bisa diusahakan sendiri dan mana yang dipengaruhi keadaan, beban di kepala bisa terasa lebih ringan.

Biasakan buat ngecek perkembangan tabungan kamu, meski jumlahnya belum besar. Melihat tabungan pelan-pelan bertambah bisa bikin kamu lebih tenang dan termotivasi buat lanjut.

Kalau ada kesempatan, kamu bisa cari penghasilan tambahan dari hobi atau kerja sampingan. Pendapatan ekstra ini sering kali bikin kamu merasa punya kendali lebih atas kondisi keuangan.

Jangan lupa cek lagi perlindungan finansial kamu, seperti asuransi. Punya asuransi yang sesuai bisa jadi pegangan kalau tiba-tiba ada kejadian tak terduga.

Yang nggak kalah penting, jaga kondisi mental kamu. Pikiran yang lebih tenang bakal bantu kamu ngambil keputusan soal uang dengan lebih bijak.

Dan ingat, kamu nggak sendirian. Cerita soal uang ke teman, keluarga, atau orang yang kamu percaya bisa bantu mengurangi beban dan bikin kamu sadar bahwa banyak orang juga ada di posisi yang sama.