periskop.id - Kasus penipuan kripto kembali mencuat. Kali ini, sorotan tertuju pada seorang influencer muda di bidang finansial, Timothy Ronald. Ia dikenal sebagai investor muda yang cukup berpengaruh di dunia investasi kripto sekaligus pendiri Akademi Crypto.

Timothy Ronald dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh seorang korban berinisial Y bersama rekannya, Kalimasada. Laporan ini berawal dari unggahan akun Instagram @skyholic888 yang membongkar dugaan praktik penipuan berkedok edukasi kripto yang melibatkan Timothy Ronald. Akun tersebut juga mengklaim bahwa jumlah korban diperkirakan mencapai sekitar 3.500 orang dengan total kerugian hingga ratusan miliar rupiah.

Sebelumnya, kasus penipuan investasi digital yang melibatkan influencer juga pernah terjadi. Tapi, fenomena serupa kembali terulang dan kembali menjerat masyarakat. Hal ini pun menimbulkan pertanyaan penting: mengapa masyarakat masih mudah tertipu oleh figur influencer meskipun rekam jejak kasus serupa sudah pernah terjadi?

Strategi Personal Branding

Agar dicintai dan diminati masyarakat, seorang influencer harus membangun citra diri yang positif. Upaya ini dilakukan untuk menarik ketertarikan publik terhadap kepribadian dan kemampuan influencer dalam bidang tertentu. Apalagi, pesatnya perkembangan media sosial dan berbagai platform digital semakin memudahkan influencer dalam membentuk personal branding.

Melansir artikel jurnal berjudul “Pengaruh Personal Branding dan Kredibilitas Influencer terhadap Keputusan Investasi Crypto: Kepercayaan Konsumen sebagai Mediasi” karya M. Firmansa dan Miftahul Huda, disebutkan bahwa Timothy Ronald secara konsisten membagikan wawasan mengenai tren pasar, strategi investasi, serta analisis data yang dinilai kredibel.

Gaya komunikasinya yang lugas, edukatif, dan berbasis data membuat masyarakat menaruh kepercayaan kepadanya, terutama generasi muda yang tertarik pada investasi digital. Strategi ini bisa membentuk citra dirinya sebagai sosok yang ahli di bidangnya sehingga meningkatkan kredibilitasnya sebagai investor. Kondisi tersebut juga menciptakan kelekatan emosional antara influencer dan pengikutnya.

Adanya Kredibilitas Tinggi

Masih melansir dari sumber yang sama, kredibilitas seorang influencer bisa dinilai melalui beberapa faktor, seperti tingkat kepercayaan (trustworthiness), tingkat keahlian (expertise), dan daya tarik (attractiveness). Faktor-faktor tersebut bisa dimanfaatkan influencer melalui konten yang mereka buat. Pada akhirnya mampu memengaruhi sikap dan perilaku masyarakat terhadap dirinya.

Masyarakat cenderung menaruh kepercayaan pada influencer yang memiliki pemahaman mendalam dan reputasi yang baik dalam bidang tertentu. Tingkat kredibilitas yang tinggi ini bisa mendorong meningkatnya kepercayaan audiens sehingga turut memengaruhi dan meningkatkan minat mereka terhadap investasi. Tidak jarang, masyarakat juga cenderung mengikuti arahan atau rekomendasi dari influencer yang dianggap kredibel.

Dalam konteks investasi kripto, keputusan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kredibilitas influencer, transparansi platform yang digunakan, dan rekam jejak keamanan aset digital. Meskipun kasus penipuan kripto sudah marak terjadi, tingkat kepercayaan terhadap figur influencer menjadi faktor utama yang memengaruhi pengambilan keputusan seseorang.

Terjalin Hubungan Parasocial Relationship

Ketika audiens sudah membangun keterikatan emosional dengan sosok yang mereka idolakan atau anggap kredibel, maka bisa terbentuk hubungan parasosial atau parasocial relationship. Hubungan ini bersifat satu arah, di mana penggemar menjalin kedekatan emosional dengan figur publik yang dijadikan panutan atau rujukan dalam kehidupan.

Individu yang terlibat dalam hubungan parasosial menunjukkan adanya ikatan emosional yang kuat dengan idolanya. Bahkan, penggemar sering merasa seolah-olah sudah mengenal sosok tersebut secara personal. Proses ini terbentuk melalui cara influencer menampilkan kualitas diri dan membangun kredibilitas di hadapan audiens.

Apabila figur yang diidolakan mampu menciptakan kesan meyakinkan, misalnya melalui pernyataan atau narasi yang menciptkan rasa percaya penuh, hubungan ini bisa berkembang semakin kuat menjadi hubungan parasosial. Hal inilah yang membuat banyak masyarakat akhirnya menaruh kepercayaan besar kepada influencer yang mereka idolakan.

Hubungan parasosial bisa memberikan dampak positif, seperti membuka peluang untuk membangun relasi dengan sesama penggemar, mendorong keterlibatan dalam bisnis atau usaha serupa dengan idola, dan meningkatkan kepercayaan diri karena adanya motivasi dari figur yang dikagumi.

Namun, hubungan ini juga memiliki sisi negatif. Audiens berpotensi mengalami gangguan psikologis akibat obsesi berlebihan terhadap sang idola. Bahkan, dalam konteks kasus penipuan kripto, audiens bisa menghadapi tekanan atau ancaman dari influencer, terutama ketika ada penggemar yang berani melaporkan indikasi praktik mencurigakan.