periskop.id - Mastercard Center for Inclusive Growth bersama Mercy Corps Indonesia melaporkan bahwa program Mastercard Strive Indonesia telah menjangkau lebih dari 500.000 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), melampaui target awal 300.000 penerima manfaat. Sebanyak 75% pelaku usaha yang terlibat merupakan perempuan, tersebar di 15 kabupaten pada lima provinsi di Indonesia.
Program Manager Mercy Corps Indonesia, Glory Sunarto, menyampaikan bahwa salah satu dampak utama program ini adalah skala intervensi yang signifikan melalui penyediaan perangkat digital, wawasan keuangan, serta pendampingan usaha kepada ratusan ribu pengusaha mikro dan kecil.
"Ini telah menghasilkan agregat pinjaman mikro sebesar Rp140 miliar atau US$ 8,5 juta untuk 26.500 pelaku usaha 97% dimiliki oleh perempuan," ucap Glory Rabu (25/2).
Dari sisi transformasi digital, lebih dari 200.000 pengusaha telah mendapatkan pendampingan digital. Sebanyak 100.000 di antaranya mengadopsi perangkat keamanan siber untuk melindungi aset digital usaha mereka.
Program ini juga mencatat pertumbuhan yang terukur. Sebanyak 56% peserta melaporkan peningkatan pendapatan, sementara 30% mengaku lebih percaya diri dalam mengakses kredit. Dalam penilaian dampak terbaru, 57% partisipan menyatakan terjadi peningkatan keuntungan usaha.
Dukungan operasional turut diperkuat melalui pelatihan pengelolaan keuangan dan perencanaan produksi yang didampingi fasilitator atau mentor. Hasilnya, lebih dari 80% pelaku UMKM peserta program STRIVE mengalami peningkatan kapasitas dalam pengelolaan usaha.
"Dan tentunya yang tidak terlalu pentingnya, dukungan ekosistem, penguat UMKM telah secara kontinu dilakukan melalui roundtable discussions, barometer research setiap tahunnya, cerita sukses, testimonial dari pelaku usaha, dan serta yang terbaru adalah hasil penilaian dampak atau impact assessment yang telah mengukur bagaimana program ini sesungguhnya memengaruhi kehidupan para partisipan program STRIVE Indonesia," jelas dia.
Dari sisi ekosistem, penguatan UMKM dilakukan melalui diskusi meja bundar, riset barometer tahunan, publikasi kisah sukses, serta asesmen dampak (impact assessment). Hasil evaluasi menunjukkan pelaku usaha secara konsisten memanfaatkan pemasaran digital melalui platform penjualan online, media sosial, dompet digital, dan sistem pembayaran digital.
"Penilaian dampak juga menangkap bukti bahwa pelatihan terkait pengelolaan usaha menjadi hal yang sangat penting. Bapak-Ibu bisa lihat di sini 85% merasa bahwa informasi tentang bagaimana mengoperasikan usaha dengan lebih baik itu menjadi hal yang mungkin belum pernah mereka dapatkan sebelumnya," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar