periskop.id - Pernahkah kamu disuruh membayangkan muka seseorang ataupun objek visual, tapi tidak ada satu pun yang terbayang di dalam pikiranmu? Padahal, kamu sangat familiar dengan objek tersebut. Mungkin, kamu mengalami kondisi yang namanya aphantasia, yaitu kondisi ketika seseorang sulit membayangkan objek visual ketika pikirannya sedang bekerja keras.

Kondisi ini pun menunjukkan bahwa tidak semua orang punya imajinasi dan memori yang sama. Aphantasia bisa disebabkan adanya kelainan genetik ataupun cedera otak.

Awal Mula Istilah Aphantasia Muncul

Melansir artikel jurnal yang berjudul “Hidup Tanpa Imajinasi: Sebuah Kajian Neuropsikologi Mengenai Aphantasia” oleh Aliya Zahra Budiman, dkk, menyatakan bahwa konsep ini muncul pada tahun 1880 oleh psikolog Sir Francis Galton, tapi masih belum terlalu populer selama lebih dari satu abad.

Lalu, istilah ini pun kembali dipopulerkan oleh Zeman, dkk. pada tahun 2015. Menurut Zeman, dkk., aphantasia merupakan ketidakmampuan untuk menghasilkan bentuk visual melalui pikirannya. Ciri utama dari kelainan ini adalah ketidakmampuan dalam membayangkan suatu objek. Ada yang kesulitan mengingat memori, ada pula yang kesulitan mengenali wajah seseorang.

Tipe-Tipe Aphantasia

Masih dilansir dari sumber yang sama, aphantasia memiliki beberapa tipe. Berikut ini tipe-tipe dari aphantasia.

Congenital Aphantasia

Tipe ini adalah kondisi ketika seorang individu tidak memiliki kemampuan dalam menciptakan imajinasi visual selama masa hidupnya. Kondisi ini sudah terjadi sejak individu dilahirkan, bukan disebabkan kerusakan otak dan gangguan mental.

Zeman, dkk., pernah melakukan penelitian terkait kondisi ini dengan melibatkan 21 peserta dalam kondisi congenital aphantasia. Hasil kuesioner penelitian menunjukkan adanya defisit dalam mengimajinasikan objek visual secara utuh. Namun, di balik itu, individu dengan congenital aphantasia dilaporkan pernah membayangkan visual objek secara tiba-tiba saat bermimpi dan sadar, tapi kondisi itu bisa hilang dalam waktu yang cepat.

Acquired Aphantasia

Kondisi ini bisa dikatakan hilangnya kemampuan membayangkan imajinasi visual yang terjadi secara tiba-tiba. Padahal, sebelumnya individu dalam kondisi ini memiliki kemampuan untuk membayangkan objek visual. Menurut Gaber & Eltemamy, kondisi ini bisa disebabkan adanya cedera otak pada bilateral Posterior Cerebral Artery (PCA), kondisi psikologis, trauma, dan faktor eksternal lainnya.

Pada tahun 2021, Gaber dan Altemamy pernah melakukan penelitian tentang aphantasia yang disebabkan infeksi Covid-19. Responden yang diteliti menunjukkan adanya kondisi yang tidak biasa setelah dua bulan melewati masa Covid, yaitu tidak memiliki kemampuan membayangkan objek visual.

Kesimpulan dari penelitian ini, Covid-19 memengaruhi mekanisme sistem saraf. Pengaruh virus yang menyerang sistem saraf pusat bisa mengakibatkan gejala patologis, seperti anosmia dan ensefalitis.

Penyebab Aphantasia

Sebenarnya, penyebab aphantasia masih belum diketahui sepenuhnya. Belum ada yang mengetahui di mana letak kerusakan pada otak yang menyebabkan terjadinya aphantasia.

Namun, kemungkinan kondisi ini bisa saja dipengaruhi oleh faktor genetik. Jadi, bagi individu yang memiliki keluarga dengan riwayat aphantasia ada kemungkinan memiliki risiko tinggi mengalami kondisi yang serupa.

Aphantasia juga bisa disebabkan stroke ataupun cedera kepala. Cedera ini bisa terjadi karena benturan keras yang terjadi di kepala.

Kondisi psikologis juga memiliki risiko terhadap aphantasia, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Gejala yang Timbul dari Aphantasia

Kebanyakan individu yang mengalami aphantasia baru menyadari kondisinya ketika memasuki usia remaja. Banyak juga yang baru menyadarinya ketika mempelajari lewat online ataupun cerita dari teman dan keluarga. Berikut ini beberapa gejala yang timbul dari aphantasia.

  • Memori berkurang
  • Mengalami kesulitan dalam membayangkan masa depan
  • Sulit mengingat kejadian ataupun objek di masa lampau
  • Mengalami penurunan ingatan yang berkaitan dengan panca indra, seperti suara ataupun sentuhan
  • Sulit membayangkan suatu objek
  • Sedikit mengalami mimpi

Solusi Mengatasi Aphantasia

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2017, ada terapi yang bisa dilakukan oleh penderita aphantasia untuk mengembangkan daya imajinasinya. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan.

  • Permainan kartu memori
  • Menjalani aktivitas yang melatih pola ingatan
  • Melakukan kegiatan yang mendorong pikiran untuk mendeskripsikan suatu objek
  • Teknik afterimage, melakukan aktivitas yang membutuhkan pengenalan pada gambar, seperti melihat gambar di komputer.

Penelitian tersebut juga menunjukkan kalau penderita aphantasia melakukan terapi tersebut sebanyak 18 kali dengan durasi satu jam setiap minggu bisa mengurangi gejala aphantasia.

Terapi di atas tidak menjamin bisa menghilangkan aphantasia. Jadi, perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti dari aphantasia dan solusi yang harus diterapkan.