Periskop.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyiapkan program untuk menghadirkan psikolog ke sekolah. Hal ini sebagai upaya mendeteksi dini serta menangani persoalan kesehatan mental pelajar.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan sebelumnya menyebut sekitar 10 ribu siswa di Kota Bandung mengalami gangguan kesehatan mental sepanjang 2025. Hal ini berdasarkan hasil survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Bandung terhadap pelajar tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk memperkuat langkah pencegahan dan intervensi sejak dini. “Kita sedang gelisah. Anak-anak kita sedang menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya,” kata Farhan saat memberikan keterangan kepada media di Bandung, Minggu (8/2). 

Ia menjelaskan, gangguan kesehatan mental tidak muncul secara tiba-tiba. Stres yang berkepanjangan, menurutnya, dapat berkembang menjadi depresi dan pada kondisi ekstrem memicu munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup.

Selain itu, ia menyoroti tekanan sosial di era digital yang membuat anak-anak semakin rentan. Jika sebelumnya perundungan hanya terjadi di lingkungan sekolah, kini ejekan dapat menyebar luas melalui media sosial.

“Sekarang satu kesalahan bisa ditertawakan satu dunia. Tekanan psikologisnya jauh lebih berat. Ini berbahaya kalau kita anggap sepele,” ujarnya. 

Sebagai langkah konkret, Pemkot Bandung menyiapkan program intervensi kesehatan mental di sekolah dengan melibatkan guru bimbingan konseling (BK), dan psikolog. Termasuk psikolog klinis untuk melakukan asesmen dan pendampingan langsung kepada siswa.

Menurut dia, langkah tersebut bukan bentuk pelabelan negatif, melainkan upaya perlindungan agar anak memperoleh dukungan yang tepat. “Bukan berarti anak kita dianggap bermasalah. Justru ini bentuk kepedulian. Apa yang dialami anak-anak di luar rumah sering kali di luar jangkauan orang tua,” cetusnya. 

Bela Negara
Sebelumnya, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung mengaku tengah memperkuat kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), untuk menangani persoalan kesehatan mental para pelajar..

Kepala Disdik Kota Bandung Asep Saeful Gufron di Bandung, Sabtu (7/2) mengatakan, penguatan kesehatan mental siswa telah dimulai sejak 2025. Hal ini dilakukan melalui sejumlah program strategis, salah satunya penguatan karakter dengan pendekatan bela negara yang melibatkan TNI dan Polri.

“Program ini diluncurkan oleh Pak Wali Kota untuk membangun pola pikir positif anak-anak, menanamkan kemandirian, rasa tanggung jawab, dan ketahanan mental agar mereka tidak mudah terprovokasi atau terintimidasi,” kata Asep.

Asep mengatakan, dalam pelaksanaannya, Disdik Kota Bandung menggandeng Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Dinas Sosial. “Penanganan kesehatan mental tidak bisa berdiri sendiri. Harus kolaboratif, karena persoalan anak menyentuh aspek pendidikan, kesehatan, perlindungan anak hingga sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan mengumpulkan seluruh guru bimbingan konseling (BK) se-Kota Bandung untuk memperoleh penguatan kapasitas. Disdik juga akan menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), dalam memberikan pelatihan serta pemetaan kompetensi guru BK agar lebih peka membaca kondisi psikologis siswa.

“Nanti para guru BK akan dibekali keilmuan oleh para psikolog supaya lebih fokus mendeteksi perubahan perilaku, pola pikir, dan potensi risiko pada anak-anak,” tandasnya.